DetikHot

art

Tiga Luka Van Gogh

Sabtu, 13 Okt 2018 10:52 WIB  ·   Ranang Aji SP - detikHOT
Tiga Luka Van Gogh Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Dari sini, dalam kedamaian yang tak pernah kau kenal dan rasakan -aku bercerita.

1
Di Kota London semua bermula. Ketika hujan mengguyur di suatu senja, hatiku basah oleh derita pertama. Maksud baikku, rasa cintaku terluka. Saat itu, aku putuskan mengemasi barang dan meninggalkan London, meninggalkan galeri Goupil and Company di Strand, tempatku bekerja. Aku putuskan kembali ke Belanda, setelah Ursula memutuskan membenci, ketika aku sampaikan kata cinta padanya.

Aku tak bisa memahami. Mengapa perasaan yang mulia dicampakkan sebagai hama. Ditikam berulang untuk dimatikan. Aku mencintainya seperti mencintai lukisan-lukisan yang aku rawat. Bahkan bisa lebih. Tapi, ia tak mau tahu. Selama itu, aku melihat Ursula sebagai bunga tulip yang tumbuh subur di taman-taman Belanda. Setelah Oghier Ghislain de Busbecq menyerahkan bibitnya pada Carolus Clusius. Bibit dari Turki itu mencintai tanah Belanda. Seperti juga tanah Belanda mencintai bibit itu. Aku tak bisa paham, mengapa mencintai Ursula tak bisa sama seperti itu? Mengapa mencintai tak berarti bahagia? Bagi Ursula, dan bagi diriku sendiri. Aku terus bertanya sepanjang waktu, mengapa hati Ursula gersang untuk cintaku?

Ketika beranjak, masih saja aku berharap ada suara Ursula mencegahku pergi. "Vincent, tolong, kembalilah!" Tapi, aku sadar itu hanya harapan kosong. Tak ada isinya. Seperti halusinasi orang demam. Meskipun kenyataannya aku berharap itu menjadi nyata. Aku ingat bagaimana raut wajah terakhir yang disuguhkannya padaku. Masam seperti keju basi yang gagal. Matanya seperti di antara rasa jijik dan ketakutan seorang balita terhadap muka nenek sihir. Akibat perasaan cinta, semua yang ada pada diriku berubah dari musim semi menjadi musim dingin berbadai. Semua harapanku terkubur dalam dekapan salju yang beku.

Di sepanjang jalan, dalam perjalanan kereta, aku mengingat bagaimana kami bercanda. Bagaimana kehidupan hanya berupa tawa yang meggetarkan angkasa. Ah, mungkin aku tak sadar, saat itu -bahwa wajah buruk dan kemiskinan adalah paket petaka. Ketika aku mencoba meramunya dalam keinginan hasrat erotis, dan semuanya tiba-tiba menjadi semakin kacau dan mengerikan. Belakangan aku paham, mencintainya memang sama butanya dengan kebencian Ursula. Cintaku dan rasa benci Ursula adalah semacam kombinasi yang menghasilkan petir di langit dan nasib buruk kemanusiaan.

2
Ketika aku telah berada di rumah ibuku, sepertinya ia tahu, aku tengah berduka. Ia memintaku bercerita. Maka, kuceritakan saja semuanya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum, tapi aku tahu ia berduka untukku. Ibuku mencoba menghiburku dengan kasih sayangnya. Memberikan masakan terbaiknya dan memandangi setiap sketsa yang kubuat dengan tatapan prihatin. Meskipun perhatiannya melimpah, tetap saja tak menyembuhkan luka akibat cinta. Tapi, pamanku menyambut bahagia. Ia orang yang optimis dan puritan. Katanya, kita adalah pelayan Tuhan. Sebaiknya kau juga melayani Tuhan. Jatuh cinta pada gadis yang salah adalah nasib yang buruk dan harus segera ditinggalkan.

"Kuliahlah teologi," saran pamanku. Meskipun tak sepenuhnya kuikuti sarannya, tapi aku setuju untuk bekerja di sebuah gereja yang ia rekomendasikan.

Tapi, aku tak ingin melayani Tuhan. Aku tak begitu mengenalnya seperti orangtua dan pamanku. Aku hanya ingin melayani manusia. Mahluk ciptaannya. Mungkin itu juga berarti melayani Tuhan. Itu kubuktikan ketika akhirnya aku berada di Belgia. Ketika gereja mengirimku ke sebuah kawasan yang suram dan hitam. Borinage, Petit Wasmes. Di sana, semua yang tampak adalah kegelapan yang pekat. Hitam batu bara dan gelapnya hasrat industrial yang melingkupi wajah-wajah penduduk yang muram dan sakit-sakitan. Tugasku menyampaikan firman-firman Tuhan pada mereka, para orang sengsara yang nestapa, miskin, dan tak punya harapan. Hanya beberapa minggu setelah itu, aku paham, apa yang mereka butuhkan bukan firman. Tapi, pertolongan yang lebih manusiawi.

Tentu saja, karena mewakili Tuhan, aku harus sedia menjadi tangan yang mengulurkan cinta, dalam wujud kasih sayang Tuhan. Semua uang gajiku, bekalku untuk bertahan sebulan, kuberikan pada mereka orang-orang miskin, malang, dan nestapa. Tetapi, semua yang kuberikan tak mampu mencegah semua penderitaan. Setiap hari rasa sakit dan kematian tetap saja menggilir setiap pintu rumah penduduk. Anak-anak, para pekerja pria, wanita, dan orang tua. Sebagian memilih mati daripada harus menahan sakit sepanjang waktu. Saat itu kecemasan adalah irama yang senantiasa bergema. Menggetarkan dan mengiringi setiap raungan kehilangan dari anggota keluarga.

Ketika uang gaji dari gereja tak lagi cukup di tanganku, aku meminta gereja membantuku. Tapi, mereka tiba-tiba menjadi seperti Ursula yang menertawaiku. Mereka tak peduli betapa para umatnya berharap pada gereja untuk mengangkat mereka dari lembah penderitaan. Bukan sekadar firman. Rasa sakit oleh penyakit dan kematian setiap waktu tak juga menggetarkan. Bahkan seorang pendeta yang aku undang untuk melihat, gemetar dan kabur. Ia sendiri bahkan tak tahan dengan kemiskinan. Kotbah mereka tentang firman Tuhan seperti buang angin dan menghilang. Maka, aku tahu saat itu adalah hitungan kedua dalam penderitaanku akibat cinta, setelah Ursula. Aku juga mulai sadar, bahwa gereja gagal meyakinkanku bahwa Tuhan ada.

Adikku, Theo, mungkin berbeda. Ketika kutulis surat dan menyampaikan semua keadaan, ia mengirimku uang 100 gulden setiap bulan. Katanya, uang itu untuk hidupku seorang. Melukislah, jika memang itu yang kau inginkan. Tapi, uang itu buat dirimu seorang. Tak perlu memikirkan orang lain, sementara kau sendiri dalam kesusahan. Theo bagiku adalah semacam malaikat tentu saja. Tapi, ia tak tahu apa yang membuatku gila ketika melihat orang-orang dalam pederitaan. Namun, aku harus membuatnya percaya. Maka sebagian kecil uang itu kubelanjakan untuk diriku, dan sebagaian lagi untuk mereka yang terkurung nestapa.

Ketika aku terserang sakit demam, yang membuatku menggigil karena tak makan selama beberapa hari, Theo akhirnya tahu bahwa uang yang ia kirimkan tidak seluruhnya untuk kebutuhanku. Ia memang tidak marah, tapi menyalahkanku sebagai orang bodoh. Di kamarku, Theo juga mengamati semua sketsaku yang sudah aku mulai dengan kertas dan batu bara. Katanya, kau harus pindah. Di sini semua sketsamu hitam dan muram.
"Tapi, aku senang kau berkarya. Biar nanti kujualkan," katanya, akhirnya.

3
Theo mungkin senang dengan lukisanku, tapi tidak setiap galeri suka dan mau membeli. Mereka tak saja tidak menyukai lukisanku, tapi juga karena aku tidak pernah sekolah seni. Itu masalahnya. Di sini, aku tahu, mereka tak pernah jujur terhadap seni itu sendiri. Meskipun demikian, aku mencoba banyak belajar dari para pelukis yang aku kagumi. Membuat perjalanan yang melelahkan untuk mengunjungi para maestro.

Setiap bulan Theo terus mengirim uang, sementara hidupku persis gelandangan yang tak punya harga. Aku tahu, keluargaku mencintaiku dan berharap hidupku menjadi semakin baik. Mereka bahkan ingin terlibat terlalu jauh dalam hidupku untuk memastikan masa depanku. Aku pun berharap banyak akan masa depanku sebagai pelukis. Tapi, semakin lama aku melihat kehidupan ini seperti sudut yang kering dan sunyi. Aku sering terngiang jerit kesakitan orang-orang miskin di Borinage, juga di Belanda dan Paris.

Uang dari Theo juga selalu habis untuk seorang pelacur yang menjadi modelku. Tak jauh beda keadaannya seperti di Borinage, hidupku dalam kemelut nestapa setiap saat. Uang untuk sebulan selalu habis dalam seminggu. Tiga minggu sisanya adalah penderitaan tak bertepi. Terkadang, aku hanya meminum sedikit air agar tetap bisa hidup. Setiap demam menyerang, aku meringkuk di atas ranjang dan membayangkan kematian.

Setiap hari dalam penderitaan, semakin kuat, aku menemukan cara untuk melukis. Aku melukis ladang-ladang gandum, awan bergumpal, dan semua lanskap dengan teknik campuran warna-warna yang diliputi kepedihan. Setiap garisku adalah semua perasaan. Sepi, marah, harapan, dan apapun yang muram pada manusia.

Tak ada cinta dan tertolaknya semua karyaku membuatku semakin asing. Pada malam-malam yang sunyi dan rasa lapar yang perih, aku tertidur tanpa aku mengerti itu sebagai tidur. Aku selalu berada dalam ruang yang sunyi dan ancaman dari sebuah lubang gelap yang tak pernah kupahami. Aku sadar itu mimpi ketika aku sadar bahwa aku terbangun dari tidur. Sepertinya tak ada ruang dan waktu bagiku untuk tenteram. Sadar atau tidur sudah tak berbatas dalam hidupku. Keduanya berarti sama saja.

Terjebak dalam paradoks, aku mulai khawatir akan kesehatan keluargaku -yang terus- menerus mengkhawatirkan keadaanku yang tidak sehat. Aku mulai sadar takdirku sendiri. Seperti halnya rasa kecewaku pada Ursula dan gereja yang menolak membantu orang-orang Borinage, desa hitam dan gelap. Aku sadar bahwa kesedihanku akan menjadi abadi dalam diriku. Tak akan ada yang mampu mengangkat kepedihanku menghadapi dunia yang tak ingin ramah padaku. Maka, malam itu aku pergi ke sebuah bukit. Memutuskan sebuah akhir. Satu peluru dari revolver kutembakkan di dadaku. Rasa sakit menjadi ganda saat itu, karena kematian tak juga menjemput. Aku sekarat.

Dan, kembali aku harus menghadapi wajah-wajah sedih keluargaku, terutama Theo. Kukatakan padanya, apa yang lebih baik dari kematian, karena semua kesedihan haruslah abadi pada diriku. Tapi, bersyukurlah pada akhirnya aku berada di sini. Dalam kedamaian yang belum pernah kau kenal dan rasakan. Aku tahu, sepeninggalku, lukisanku membuat orang-orang mencintaiku. Aku melihatnya dari sini. Maka, aku ingat kata Wissenbruch. "Semakin kau menderita, semakin besar seharusnya rasa terima kasihmu. Itulah yang membuat seseorang menjadi pelukis kelas satu. Perut kosong lebih bagus daripada perut kenyang, Van Gogh, dan patah hati lebih baik daripada kebahagiaan. Jangan pernah lupakan itu!"*

Keterangan:

*kutipan dari biografi Vincent van Gogh karya Irving Stone, Lust for Life

Ranang Aji SP telah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Fang (2011), dan sebuah antologi bersama Di Bawah Titik Nol Perlawanan (2012)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed