DetikHot

art

Kesaksian Seorang Bocah

Sabtu, 15 Sep 2018 10:55 WIB  ·   Ida Fitri - detikHOT
Kesaksian Seorang Bocah Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Anak kecil itu mati, benar-benar mati dalam arti yang sesungguhnya. Mayatnya ditemukan tergantung di pohon durian dalam hutan yang terletak di selatan kampung. Ada luka tusuk di lehernya, sementara luka bekas disulut dengan rokok ditemukan di kedua tangannya yang masih terikat ke belakang. Lehernya terjerat di tali yang dikaitkan pada cabang yang paling rendah, tertutup dengan semak-semak yang tumbuh di bawah pohon.

Bau bangkailah yang menarik perhatian Syamaun yang sedang mencari rumput untuk sapi-sapi piaraannya untuk melangkah ke bawah pohon durian itu. Mayat itu membuat kehebohan orang-orang kampung. Mereka menduga-duga, setan mana yang telah merasuki pelaku pembunuhan paling keji yang pernah mereka lihat itu. Dolah yang telah tiga hari kehilangan anak langsung ambruk melihat mayat anak kecil itu. Ia dipapah orang kampung saat berjalan pulang ke rumahnya. Dua hari yang lalu ia membawakan cumi sehasta yang menjadi kesukaan anaknya. Mayat anak kecil itu dibawa ke Puskesmas untuk diautopsi.

Aku ingin punya bedil bambu seperti punyamu, Gam.

Baiklah, akan kubuatkan untukmu, Nyak Banta. Lima ribu.

Gam menimang-nimang bedilnya yang terbuat dari buluh bambu sepanjang 40 cm itu. Rautan bambu bulat lebih kecil dan tua dimasukkan ke bambu seukuran bedil sebagai gagang. Gam memompa bedilnya berulang-ulang.

Nyak Banta menatap takjub benda di tangan temannya itu. Seperti matahari yang terus bergerak ke barat, suara elang terdengar dari arah kuburan desa. Orang kampung selalu membawa orang mati ke sana, kemudian membuatkan tenda di samping kuburan. Dua orang Teungku diupahi untuk mengaji. Keluarga yang ditinggalkan mengantarkan nasi untuk mereka yang mengaji selama tujuh hari tujuh malam berturut-turut.

Elang menangis itu sebuah pertanda buruk, ujar Nek Ti, adik neneknya yang terkadang mengundang Gam makan di hari meugang.

Mayat anak kecil itu dijemput dengan ambulan yang diantar oleh orang-orang kampung ke Puskesmas. Bidan Niar yang telah memiliki tiga orang anak tak kuasa membendung air mata. Ia teringat pada anak lelaki keduanya yang mungkin seumuran dengan anak kecil yang telah menjadi mayat itu. Dua polisi muda ikut masuk ke ruang UGD sambil menenteng senjata mereka, saling berbisik, mungkin membicarakan kasus tersebut.

Tidak ada ruang jenazah di Puskesmas itu. Dokter terpaksa melakukan autopsi di ruang UGD. Ia hanya seorang dokter umum, jangan berharap akan ada ahli forensik di tempat terpencil itu. Sebenarnya tidak bisa disebutkan tempat terpencil, karena hanya tiga ratus meter dari jalan negara.

Dokter perempuan yang datang dari Jakarta itu memasang masker di wajah, sorot matanya tidak menggambarkan apa-apa. Konon dokter itu juga dilahirkan di tanah ini, tapi konflik membuat keluarganya terpaksa hengkang ke Pulau Jawa. Masih ada adik ibunya yang bertahan di Lhokseumawe yang berjarak kira-kira satu setengah jam dari tempat ia bertugas saat ini.

Dokter itu mulai menggunting baju anak kecil yang telah menjadi mayat itu. Orang-orang yang sudah disuruh untuk keluar mulai mencondongkan wajah dari jendela yang tepat berada di dekat kepala mayat anak kecil itu. Salah satu polisi muda berdiri di belakang pintu untuk mencegah pintu didorong dari luar oleh orang-orang yang ingin mengetahui apa yang akan dilakukan dokter pada mayat anak itu.

Matahari di ufuk langit telah berwarna kemerahan, pertanda malam akan segera menyelimuti. Tapi, tak ada yang beranjak dari Puskesmas. Orang malah makin banyak berdatangan seperti semut yang mengerubungi gula. Ada luka lebam kebiru-biruan di punggung dan dada anak kecil itu. Mungkin rusuknya ada yang patah akibat hantaman benda keras. Keringat mengalir dari kening Dokter Alona. Ia dibantu oleh dua perawat lelaki. Perawat perempuan telah menyerah untuk berada di tempat itu. Mereka ikut menangis seperti beberapa perempuan kampung yang mengantar jenazah anak itu.

Anak ini telah mati sebelum digantung ke pohon durian, kata Dokter Alona. Tidak ada bintik-bintik pendarahan pada selaput pelindung mata akibat pecahnya pembuluh darah balik. Perhatikan juga ujung bawah lengan dan kaki, tidak ada lebam, bukan? Dokter Alona menunjukkan hal tersebut pada dua orang perawat yang membantunya.

Ia juga menunjukkan lebam-lebam pada rusuk dan beberapa luka tusuk pada leher korban, luka tusuk yang berada di bawah bekas jeratan tali yang menjerat leher. Tidak ada kotoran dalam celana anak kecil ini. Kemungkinan ia mati karena luka tusuk itu, ditambah dengan pendarahan di dalam akibat beberapa tulang rusuknya yang patah.

Ia menutup mayat anak kecil itu dengan kain batik panjang yang telah disediakan sang keluarga, membuka sarung tangan, dan menulis laporan hasil autopsi. Satu yang pasti, anak kecil itu meregang nyawa karena dibunuh.

Ada banyak korban pembunuhan sadis saat konflik melanda daerah ini. Lelaki yang ditanam sampai leher kemudian disiksa sampai mati. Seorang ibu yang dianggap cuak bisa saja ditembak di depan anaknya. Mayat yang lain dicampakkan begitu saja di tepi jalan. Seperti halnya salah satu saudara lelaki dari perawat yang hari itu membantu Dokter Alona melakukan autopsi. Orang tak dikenal muncul di rumah saudara lelaki perawat itu pada jam sepuluh malam. Tanpa ba-bi-bu, setelah pintu dibuka, orang itu langsung memberondong dada saudaranya itu dengan sebuah pistol. Saudaranya mati tanpa tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat.

Begitu pun ketika sekelompok orang menyetop mobil keluarga Dokter Alona yang baru pulang berlibur dari Medan. Mereka menaikkan mobil tersebut ke balik bukit, sementara kain hitam disematkan pada wajah seluruh penumpang mobil itu, biar mereka tidak tahu jalur yang diambil penculik. Orang-orang bertopeng itu meminta tebusan yang besar pada ayahnya. Setelah permintaan mereka dikabulkan, beruntung orang-orang itu melepaskankan keluarga sang dokter. Pada kasus yang lain, bisa saja korban penculikan dibunuh atau disiksa sampai mati.

Tapi, dari semua korban kekerasan di masa konflik, tidak ada seorang anak kecil dibunuh dengan sengaja, kecuali anak kecil yang berada pada tempat yang salah, misalnya terkena peluru nyasar.

Cepat sekali kau selesai membuat bedil untukku?

Nyak Banta memperhatikan mainan yang baru diangsur temannya dengan takjub.

Lima ribu, kau harus membayarku, Nyak Banta.

Iya, aku akan membayarmu, tapi tunggu ayahku pulang dari melaut dulu. Sekarang ayuk kita cari putik jambu air dan mulai bermain tembak-tembakan.

Kedua anak kecil itu berlarian mencari kawan sepermainan mereka. Anak kampung seumuran mereka yang bersekolah di sebuah sekolah dasar yang terletak di desa tetangga. Udara berubah menjadi suara keriangan anak-anak yang bermain di halaman sebuah rumah panggung yang sepi. Pemiliknya mungkin sedang menderes karet di kebun. Anak kecil itu berlarian hingga ke bawah rumah. Kaki-kaki telanjang mereka seperti sudah sangat mengenal tempat itu.

Azan Magrib terdengar samar-samar di antara orang yang terus bercakap-cakap di halaman dan di dalam Puskesmas. Azan yang dikumandangkan seorang muazin tua yang telah terkena sakit encok, sehingga saat berjalan ia terpaksa menyeret kakinya sendiri. Suara tuanya terdengar sedikit gemetar di antara suara orang-orang yang terus mengutuk dan mencaci maki pembunuh anak kecil itu.

Begitu azan Magrib selesai, ambulan keluar dari halaman Puskesmas untuk mengantar kembali mayat anak kecil yang mati secara mengenaskan itu. Orang-orang mengambil sepeda dan motornya untuk mengiringi ambulan. Sebagian yang lain berjalan kaki pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari Puskesmas, sebagian kecil saja yang menuju ke masjid yang terletak sekitar empat ratus meter dari Puskesmas untuk melaksanakan Salat Magrib.

Puskesmas itu kembali senyap. Dokter Alona berjalan pulang ke rumah dinas yang berada di belakang Puskesmas. Ia merasakan perutnya bergejolak ingin mengeluarkan isi. Dengan jemarinya, ia menghapus keringat yang kembali mengalir di ujung wajah, lalu mengingat-ingat kapan siklus terakhir bulanannya. Suaminya bekerja di sebuah BUMN yang berada di provinsi tetangga. Dokter Alona hanya sendirian berada di tempat terpencil itu. Kemudian tangannya mengambil handphone untuk menghubungi sang suami.

Bapak, Nyak Banta belum membayar uang bedil bambu yang kubuat.

Lelaki tua berwajah bulat dan berambut keriting yang sedang mengaduk kopi itu memandang anak bungsunya.

Kau tak becus mengurus itu?

Diletakkannya sendok yang dipakai untuk mengaduk kopi. Ia berjalan ke arah anak bungsunya. Anak itu terlihat mengkerut masuk ke dalam cangkangnya sendiri.

Dasar pecundang kecil! Tetapi, bapakmu takkan membiarkan kau ditipu mentah-mentah.

Lelaki yang baru saja kehilangan putrinya itu berjalan kembali ke meja, meminum langsung kopinya dari gayung lurik-lurik itu. Ia tidak menawarkan kopi itu pada anak lajangnya yang berjalan masuk dari arah pintu samping.

Orang-orang berdatangan bersama dengan sampainya jenazah anak kecil ke sebuah rumah panggung di antara rumah panggung lainnya yang berada di kampung itu. Nyanyian kesedihan berupa ratapan dan tangisan naik ke langit, menghias malam. Jantung Dolah seolah keluar dari tempatnya begitu melihat jenazah anaknya terbaring di euramoe keue. Jantung itu berjumpalitan, kemudian masuk ke bawah kain lurik yang dipakai untuk menutupi jenazah anak kecil itu.

Dolah mendekapkan dadanya yang sudah tidak memiliki jantung lagi. Aisyah, sang istri, pingsan ketiga kalinya saat melihat jenazah anaknya dibawa naik melalui tangga depan rumah mereka. Kasur lajang dijadikan alas jenazah anak semata wayang mereka. Tikar digelar memenuhi seluruh ruangan bagian depan rumoh aceh itu.

Saat tidak melaut, Dolah dibantu istrinya juga menderes karet di kebun milik penduduk. Karena itu, ia memilih tetap tinggal di daerah perbukitan, meski agak jauh kalau turun ke pesisir untuk melaut. Orang desa semakin banyak berdatangan. Dolah memandang mereka satu per satu. Mungkinkah ada wajah pembunuh anaknya di antara orang-orang itu? Jantungnya tetap berada di balik kain lurik, yang dipakai untuk menutup mayat sang anak, meninggalkan sebuah lubang menganga di dada lelaki itu.

Gam membisu, tak ingin melihat kejadian di depannya. Bapak menjadi beringas. Ia mengikat Nyak Banta di kayu tiang rumah, menyumpal mulutnya dengan kain hitam. Semua salahnya. Tak seharusnya ia mengadukan uang lima ribu rupiah. Ia tak mau bapak menjadi tak terkendali lagi.

Abangnya yang masih duduk di bangku SMA menyulut rokok, kemudian meletakkan rokok tersebut di tangan Nyak Banta yang terikat ke belakang. Bapak dan abang benar-benar kalap. Untung rumah mereka berada di ujung desa yang jauh dari rumah penduduk lain. Tapi, sama saja. Suara Nyak Banta lenyap dalam mulutnya sendiri. Bocah kecil itu menarik-narik tangannya yang panas kena rokok.

Bapak dan Abang tertawa kesenangan melihat itu semua, lalu bapak meninju dada Nyak Banta berulang-ulang. Gam menutup matanya. Ia sudah tak sanggup melihat adegan itu. Yang terakhir ia lihat, Bapak mengambil gagang bedil bambu milik Nyak Banta.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, dan mengakhiri kesaksiannya di depan Bapak Polisi yang menanyakan hal itu untuk kesekian kalinya. Tak pernah ia ceritakan kesaksian lainnya: melihat dari celah dinding dapur, Bapak juga mengubur kakaknya di belakang rumah. Sementara ibunya mati kerasukan setan saat ia dilahirkan.

Ida Fitri lahir di Bireuen pada 25 Agustus. Buku kumpulan cerpen pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016), disusul kemudian Cemong (2017)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed