DetikHot

art

Netty, Mantan Pasukan K-9

Sabtu, 08 Sep 2018 10:48 WIB  ·   Yuditeha - detikHOT
Netty, Mantan Pasukan K-9 Ilustrasi: Denny Pratama Putra/detikcom
Jakarta - Musibah itu terjadi ketika kami dalam perjalanan menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP). Kami hendak mengemban tugas mencari keberadaan bom yang disinyalir berada di Hotel R. Sebelum sampai di TKP, mobil yang kami tumpangi mengalami kecelakaan, dan masuk jurang. Sopir meninggal seketika. Aku selamat, dan Netty patah kaki.

***

Sudah hampir dua bulan aku mengusahakan kesembuhan kaki Netty, tapi tidak juga menemui hasil. Patah kaki Netty ternyata tak bisa diselamatkan. Bahkan dokter akhirnya terpaksa memotong kaki Netty yang senyatanya memang sudah benar-benar putus. Usaha penyambungan kaki itu tidak lagi memungkinkan. Netty harus merelakan salah satu kaki depannya hilang. Bukan hanya itu, nasib Netty selanjutnya sebagai anggota Pasukan K-9 menjadi terhenti. Selain patah kaki, menurut keterangan medis, indera penciuman Netty juga terganggu, hingga dia tidak bisa diandalkan lagi di Tim Gegana. Netty harus pensiun dini.

Karena Netty sudah tidak bisa dipakai, satu-satunya langkah yang harus dilakukan Tim Gegana adalah segera menetapkan anjing pelacak lainnya untuk mengganti posisi Netty di Pasukan K-9, dan mengirim Netty ke penampungan untuk satwa yang sudah tidak dipekerjakan lagi. Karena hal itu, sejenak aku terbayang kenanganku saat bersama Netty. Aku ingat saat pertama kali dia didatangkan dari Negeri Kanguru, lalu melatihnya. Suka duka yang kami lalui bersama mengemuka dalam benakku. Dengan didikan yang keras dan disiplin, akhirnya Netty berhasil menjadi anggota K-9 terhebat. Kami pernah dijuluki sebagai Tim Duet Maut dalam menjinakkan bom, bahkan kami berdua pernah mendapat penghargaan dari Presiden atas keberhasilan kami menggagalkan usaha pemboman di Istana Negara. Itulah prestasi terbesar Netty dalam mengendus keberadaan bom, sebelum peristiwa kecelakaan itu.

Hari ini, aku ada janji bertemu dengan salah satu atasan di Tim Gegana untuk membicarakan siapa yang akan menggantikan posisi Netty dalam Pasukan K-9 di tim tersebut. Sembari menunggu jemputan, di ruang tamu ini, aku membuka album kenangan beberapa peristiwa besar yang telah aku dan Netty lalui. Sementara aku membalik lembar demi lembar album foto itu, Netty sedang ndlosor tidak jauh dari tempat aku duduk. Kulayangkan sekilas mataku kepadanya. Kulihat kepalanya direbahkan di lantai, dengan pandangan lurus tertuju kepadaku. Kuperhatikan sorot matanya terlihat sayu. Ada rasa iba ketika pandangan kami terpaut. Bahkan aku melihat matanya seperti berkaca-kaca. Ah, mungkinkah dia sedang merenungi nasibnya yang malang? Dan, apakah dia juga merasa bahwa tidak lama lagi dia akan segera aku campakkan ke dalam penampungan itu? Lalu, bagaimana perasaannya nanti ketika semua itu terjadi?

Aku meyakini, semua itu memang akan terjadi. Tinggal menunggu waktu. Tentu saja aku tidak bisa merawatnya karena kesibukan keseharianku untuk dinas luar. Netty akan dipindahkan ke penampungan itu sudah keputusan pasti. Ini akan menjadi perpisahan yang sebenarnya tidak kami kehendaki. Perpisahan memang selalu akan menyakitkan, tetapi perpisahan kali ini pasti akan terasa sangat perih terlebih bagi Netty. Di pihakku, mungkin orang akan menganggapku kejam, telah memperlakukan Netty tak ubahnya ungkapan habis manis sepah dibuang. Sebenarnya tidak demikian adanya, tetapi aku harus melakukannya. Dan, bagi Netty, aku tak tahu apakah dia juga punya perasaan seperti halnya yang aku rasakan. Tetapi, jika mengingat peristiwa-peristiwa perihal anjing, banyak kisah yang memberi gambaran kasih anjing terkadang melebih kasih yang dipunyai manusia. Jika mengingat hal itu, dadaku rasanya menjadi sesak. Peristiwa itu belum terjadi saja rasanya sudah begini, apalagi nanti jika perpisahan itu sudah benar-benar di depan mata.

Orang yang menjemputku telah memberi kabar, dia telah menungguku di depan rumah. Segera aku memberesi album yang tadi kubuka-buka. Sebelum keluar rumah aku menyempatkan mendekati Netty. Aku jongkok, mengelus kepalanya perlahan. Netty hanya diam saja sembari matanya tertuju kepadaku. "Aku pergi dulu ya," gumamku. Netty diam, tidak merespons. Dia hanya menatapku terus sampai aku hilang dari pandangannya.

***

Tiba saatnya aku harus menemui seseorang. Dia adalah orang yang kuberi tugas untuk nantinya mengantar Netty menuju penampungan satwa milik pemerintah kota. Kami berjanji bertemu di Stasiun O. Mengapa harus di Stasiun O, karena dari stasiun itu aku bisa sekalian akan melakukan perjalanan ke luar kota untuk bertemu dengan seseorang yang akan menyerahkan anjing pelacak baru untuk kulatih. Menurut hasil perbincanganku dengan atasan di kesatuan Tim Gegana beberapa hari yang lalu, posisi yang semula diemban Netty kini telah digantikan dengan Dora, anjing pelacak yang kulatih angkatan setelah Netty. Harapannya semoga Dora bisa menggantikan peran Netty selama ini. Sedangkan anjing yang akan aku ambil ini adalah anjing yang harus kulatih, dan nantinya untuk cadangan pasukan jika sampai terjadi sesuatu yang tak sesuai dengan rencana.

"Kita akan menemui seseorang, dan kuharap kamu nanti berkenan bersamanya. Dialah yang akan mengantarkanmu ke tempat barumu," kata-kataku meluncur begitu saja sembari mendekatinya, kupersiapkan perlengkapan dirinya sebagai bekal pergi. Tak ada penolakan apa pun pada diri Netty.

"Ini terpaksa kulakukan, semoga kamu mengerti," kataku lagi tanpa mempedulikan apakah Netty memahaminya atau tidak. Dia menuruti apa saja yang kuperintahkan.

"Mari kita berangkat. Tapi, sebelumnya kamu harus tahu sesungguhnya ini berat bagiku," kataku lagi. Lagi-lagi Netty bersikap pasrah, melakukan apa saja yang kupinta. Justru hal itulah yang semakin membuat perasaanku tak keruan.

Selama perjalanan menuju Stasiun O, kami hanya diam. Tentu saja pikiranku masih penuh penyesalan. Mengapa hal itu harus terjadi? Perasaan gelisahku menguasai seluruh ruang di hatiku. Rasa-rasanya aku ingin menumpahkan semua kegundahanku itu padanya, tetapi mulutku rupanya tak mampu melakukan. Bibirku lekat menempel, serasa ada lem yang merekatkannya, susah dibuka. Bahkan aku tidak menyadari ketika mobil yang mengantar kami telah sampai di stasiun itu. Pak sopir yang mengingatkannya. Dengan tanpa banyak perimbangan lagi, aku membimbing Netty keluar dari mobil lalu kuajak menemui orang yang kumaksud tadi. Kami jalan beriringan, kulihat dengan daya upayanya, Netty berjalan terpincang-pincang dengan kondisi salah satu kaki depannya yang telah hilang. Rasa ibaku padanya membuncah seketika.

Aku berhenti berjalan, dan dia ikut berhenti, lalu matanya melihat ke arahku. Aku jongkok, "Mari kubopong," kataku kemudian sambil menjulurkan kedua tanganku untuk meraih tubuhnya. Pada saat itu kulihat badannya direbahkan ke tanah. Itu tandanya sebuah penolakan. Dia seperti ingin mengatakan: tidak perlu. Izinkan aku berjalan sendiri. Aku tertegun beberapa saat begitu melihat sikapnya itu. Tak lama kemudian dia menyadarkanku dari lamunan, dia berdiri dan melangkahkan kakinya. Tanpa sebuah komando, aku yang gantian seperti mengikuti ke arah mana dia berjalan. Pada saat itulah aku mendengar sebuah suara memanggil namaku.

Kami berhenti dan menoleh ke arah panggilan itu, orang yang akan mengantar Netty ke tempat penampungan telah datang duluan. Rupanya dia sudah berada di ruang tunggu stasiun. Kami menuju ke sana, menemuinya. Beramah-ramah sebentar sebelum akhirnya aku harus mengikhlaskan Netty bersamanya. Tapi, sebelum aku benar-benar menyerahkannya, aku jongkok, mendekati Netty. Kuelus-elus kepalanya dan kusempatkan mengatakan sesuatu kepadanya.

"Ini bukan perpisahan. Ini hanya masalah pekerjaan. Tetapi, kamu harus tahu bagiku kamu tetap berarti. Semoga kita masih tetap bisa bertemu. Baik-baiklah kamu di sana." Usai mengatakan begitu dadaku terasa sesak dan seperti ada sebuah gumpalan yang menyumbat di kerongkonganku. Tak terasa mataku basah. Sebelum aku berdiri dan menyerahkan Netty, kuusap mataku agar air dalam kelopak tak sampai keluar. Setelah aku dan orang itu berjabat tangan, mereka beranjak pergi dari hadapanku. Mataku setia mengiringi kepergiannya. Kulihat sesekali Netty berusaha untuk melihat ke belakang, menatap ke arahku. Kulambaikan tanganku dengan perasaan yang berantakan.

Kini aku sudah berada di gerbong kereta yang akan membawaku ke Kota S untuk menjemput anjing pelacak baru yang sedianya akan kulatih. Aku duduk persis di samping jendela kereta. Meski aku sudah berada di dalam gerbong itu, tapi perasaanku belum benar-benar lepas dari bayangan Netty. Pikiranku masih melakat padanya. Haruku mengharu biru karsaku. Hal itu berlangsung sampai kereta siap melaju. Baru beberapa detik kereta berjalan, orang-orang yang berada di dalam gerbong itu sedikit gaduh. Aku berusaha menajamkan perhatian untuk mendengarkan apa sesungguhnya yang mereka ributkan. Samar-samar, suara-suara mereka terekam di telingaku.

"Lihatlah itu!"

"Kasian sekali!"

"Kakinya hilang satu tapi nekat berlari!"

"Apa yang dia lakukan? Mengapa dia mengikuti kereta ini?"

Dari apa yang mereka lontarkan, pikiranku langsung tertuju kepada Netty. Kuarahkan pandanganku keluar kereta. Rupanya benar. Di luar sana aku melihat Netty. "Netty," teriakku spontan. Dia terus berlari mengejar kereta dengan susah payah. Aku berdiri, lalu berjalan cepat mendekati pintu gerbong kereta. Kulihat Netty terus berlari mengimbangi lajunya kereta. Sekilas aku mendengar orang-orang di gerbong itu berbicara, sekarang bukan hanya tentang Netty tetapi juga menyinggung tentang diriku. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa akulah yang dicari anjing yang berlari itu. Begitu sampai di pintu gerbong dan aku bisa melihat dengan lebih jelas ke arah Netty, dia langsung menyalak keras sekali. Aku sedikit kaget, karena memang sudah lama aku tidak mendengar dia menyalak.

Sejak kecelakaan sampai kami berpisah tadi, sesungguhnya aku sudah tak lagi mendengar dia menyalak. Aku mendengar Netty menyalak lagi, dan lebih keras ke arahku dengan terus tetap berlari dengan susah payah. Kulihat ke arah matanya, sekilas aku menangkap ada warna merah di sana. Wajah Netty menjadi tampak lebih menakutkan. Itu adalah rupa wajah yang sering ditampakkan jika sedang marah. Tetapi, perasaanku sangsi. Apakah benar Netty sedang marah? Tapi, kenapa? Apakah dia merasa sakit hati kepadaku? Apakah selama ini dia mengira aku telah berbuat tidak adil padanya? Pikiranku tidak tenang, berlari ke mana-mana.

"Sudah kukatakan tadi, Net. Ini bukan perpisahan! Ini hanya masalah pekerjaan," teriakku pada Netty. Aku yakin, orang-orang yang ada di gerbong itu, karena melihat apa yang kulakukan akan berpikir sesuatu yang sedikit aneh terhadapku. Tapi, aku tak mempedulikannya. Aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Aku lebih peduli dengan Netty. Aku ingin dia tidak salah paham dengan apa yang kulakukan.

"Ini hanya masalah kamu yang sudah tidak bisa dipakai oleh tim lagi, Net. Hanya itu. Yang penting kita tetap bersahabat, Net!" teriakku lebih keras.

Netty seperti tidak peduli dengan apa yang aku katakan, dia tetap terus berlari dan menyalak. Dan, tiba-tiba entah dapat kekuatan dari mana, Netty melompat ke arah pintu kereta dan menubrukku. Aku jatuh terjungkal ke belakang. Aku langsung bangun, demikian juga dengan Netty, dia sigap berdiri lagi dan terus menyalak. Netty berlari mendekat ke orang-orang yang ada di gerbong itu. Dengan wajah yang ngeri, Netty tampak seperti hendak menyerang mereka. Orang-orang tak ada yang berani mendekat. Mereka lantas bergerombol mundur mendekatiku. Pada saat itu Netty menyerang, menerkam mereka. Aku sadar keadaan itu dan segera berlari menempati posisi paling depan di antara kerumunan orang-orang itu.

Netty tak menyurutkan sikapnya. Netty tetap saja menyerang. Aku ditubruknya. Kembali aku terjatuh ke belakang, tapi orang-orang itu lebih dulu menangkapku sebelum tubuhku sampai ke lantai kereta. Netty tidak menghentikan serangannya. Begitu aku bangun, kembali Netty menyerangku. Aku terdesak dan terpaksa sedikit demi sedikit mundur. Orang-orang histeris. Mereka mengingatkan aku yang dalam posisi berbahaya karena keberadaanku dekat dengan pintu keluar kereta yang terbuka. Netty menyerangku lagi. Aku kembali terjungkal. Pada saat aku hendak bangun, dan belum pada posisi yang kuat, Netty lebih dulu menerjangku lagi. Aku terlempar cukup jauh tapi tidak sampai terjatuh, karena tanganku masih bisa berpegangan di besi pintu gerbong kereta. Tapi, rupanya Netty telah sigap lebih dulu dan kembali dengan keras dia menerjangku. Aku terlontar keluar kereta. Tubuhku berguling-guling di tanah. Aku berusaha segera bersigap, dan dengan sisa-sisa ketahananku aku terus melihat ke arah kereta itu.

Kuperhatikan dari pintu itu satu per satu orang-orang di dalam gerbong terlempar keluar. Kupikir itu pasti karena serangan Netty. Tap,i saat aku saksama memerhatikannya, rupanya ada sebagian dari mereka yang dengan sengaja melompat keluar. Pasti itu karena mereka ingin terhindar dari serangan Netty. Pada saat pikiranku benar-benar kalut. Aku tak bisa berpikir tenang. Aku tak bisa menerjemahkan lagi mengapa sikap Netty dapat berubah brutal seperti itu.
Pada saat aku bingung memikirkan keadaan, terlebih dengan sikap Netty itu, tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari arah kereta. Aku melihat kereta yang tadi kutumpangi itu kini telah hancur berkeping-keping. Aku terpana. Sebuah ledakan dahsyat telah menghancurkannya. Kepul asap hitam seketika membumbung tinggi, menggelapkan sebagian langit.

Yuditeha Pemenang Ketiga Lomba Cerpen Eksperimental Basabasi 2018, Pemenang Kedua Lomba Cerpen Sejarah Yogyakarta Dinas Kebudayaan Yogyakarta 2018. Buku kumpulan cerpen terbarunya Cara Jitu Menjadi Munafik (Stiletto, 2018). Aktif di Sastra Alit Surakarta dan Pendiri Kamar Kata Karanganyar

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed