DetikHot

Cerita Pendek

Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri

Sabtu, 01 Sep 2018 10:58 WIB  ·   Artie Ahmad - detikHOT
Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi itu, bibir Eugene tak hentinya mengembuskan asap rokok. Sisa abu dari puntung rokoknya berserakan di celana dan kakinya. Tapi, meski begitu kelihatan betul kalau lelaki berbadan kekar itu tak peduli dengan abu sisa puntungnya yang terbakar. Di sebelahnya, Marion hanya duduk membisu. Matanya hanya menatap pemandangan di luar. Sesekali decak bibirnya terdengar. Rasa bosan sudah dirasakannya sejak tadi, tapi Marion tetap memilih bungkam. Melancarkan serangkaian protes kepada Eugene hanyalah kesia-siaan belaka.

Hutan pinus yang lebat mereka lewati. Daun-daun pinus kering berserakan sampai di jalanan. Sekali lagi Marion melemparkan pandang keluar jendela mobil. Daun-daun pinus kering yang mirip jarum-jarum besar berwarna cokelat cukup memikat matanya. Namun, Eugene seakan tak memberikan kesempatan untuknya berlama-lama menikmati pemandangan di sepanjang hutan pinus.

"Apa tidak bisa kita rehat sebentar di hutan pinus ini? Aku ingin menikmati pemandangan di sini," ujar Marion tak sabar.

"Tidak, Sayang. Kalau mampir kita kehabisan waktu," sahut Eugene santai. Kakinya menginjak pedal gas semakin dalam.

Mobil melesat lebih kencang. Mendengar jawaban suaminya, Marion mengembuskan napas dengan kesal. Dari kaca belakang mobil, Marion melihat hutan pinus tertinggal semakin jauh.

"Apa kota kelahiranmu itu masih jauh?"

Mendengar pertanyaan istrinya, Eugene hanya tersenyum simpul.

"Sebentar lagi sampai. Kau lihat menara dengan ujung ayam jago itu? Di sanalah kota kelahiranku," jawab Eugene tenang.

Tak lama mobil Eugene memasuki kawasan gersang. Bangunan-bangunan tua yang nyaris hancur menjadi pemandangan yang lumrah di kawasan ini. Marion sedikit bergidik saat melihat beberapa tulang hewan yang berserakan di mana-mana. Debu-debu tebal yang menyelimuti setiap bangunan semakin menambah kesan menyeramkan. Tapi, Eugene terlihat tak gentar. Kali ini ia mengurangi kecepatan mobilnya. Debu-debu beterbangan, seolah-olah menyelimuti mobil mereka.

"Di sinilah kota kelahiranku. Kota yang ditinggalkan semua penduduknya. Namun, masih memberikan kenangan kepada siapa saja yang pernah tinggal di sini. Salah satunya aku. Sekarang mari kita turun, Sayang. Kita lihat apa saja yang ditinggalkan kota mati ini," Eugene mematikan mobilnya.

Marion tak menjawab. Matanya menyapu seluruh sudut kota. Sebenarnya kota ini tak lebih dari sebuah desa. Namun, entah mengapa Eugene menyebutnya sebagai sebuah kota. Kota ini terlalu kecil untuk disebut sebagai sebuah kota. Bangunan-bangunan kuno yang ditinggalkan mangkrak begitu saja mengingatkan Marion dengan kota tua di Selatan Tanjung.

"Apa yang bisa dilihat dari kota mengerikan ini?" tanya Marion saat mengikuti Eugene yang berjalan di depannya.

"Tentu ada yang bisa kau lihat di sini. Misalnya ini, sebuah kolam yang masih saja mengeluarkan air. Konon, jika kita melongok ke dalamnya, kita akan melihat orang yang kita cinta. Cinta yang demi dia kau rela mati," Eugene menarik tangan Marion mendekati sebuah kolam di dekat sebuah gereja tua.

Mendengar ucapan Eugene, Marion tertawa lunak. Sejak dulu dia tak peduli dengan hal-hal mustahil semacam itu. Tapi, demi mencari kebenaran ucapan suaminya akhirnya dia mencoba. Ditatapnya air kolam beberapa lama, dan dia sedikit terkejut. Apa yang diucapkan Eugene ternyata benar. Mata Marion menangkap satu wajah di pantulan air kolam. Wajah Miguel Esteban. Miguel yang selalu menemaninya menghabiskan malam ketika Eugene kebagian kerja malam di pelabuhan.

"Kau menangkap wajahku kan?" tanya Eugene sembari menatap Marion dengan serius.

"Oh, tentu. Tentu saja wajahmu. Masa wajah lelaki lain!" sahut Marion cepat.

Tak lama setelah mendengar jawaban Marion, tawa Eugene pecah. Matanya menatap Marion dengan mata berbinar-binar.

"Aku tak salah memilihmu sebagai istri," ucap Eugene bahagia.

Mereka berdua melihat-lihat kota mati. Eugene menceritakan tentang banyak hal yang pernah tertinggal di sana. Tentang masa kecilnya. Tentang bagaimana kehidupan kota ini sebelum ditinggalkan penduduknya lantaran sebuah agresi militer yang disusul wabah penyakit mematikan. Sampai akhirnya, mereka berdua berdiri di depan bangunan bekas kantor pengadilan.

"Di sinilah dulu orang yang dirasa bersalah dihukum, Marion. Di tiang gantungan ini, beberapa perempuan cantik sempat menerima ajalnya. Kata orang, jika ingin mendapatkan kecantikan mereka yang mati di tiang gantungan ini, yang kau perlukan hanya memasukkan lehermu di dalam lubang tali itu," Eugene menunjuk tali hukuman gantung yang masih ada di tempatnya.

"Tapi, itu tali untuk menjerat leher yang dihukum kan?" tanya Marion dengan tengkuk sedikit meremang.

"Ah, itu sekarang hanya sebuah tali tambang yang tak bisa bekerja. Lagipula tuas untuk membuka papan kayu di bawahnya telah lama macet. Kau tak akan mati tergantung lantaran itu!"

Marion menatap tempat hukuman gantung itu dengan mata menyipit. Dia sedikit ragu-ragu dengan ucapan Eugene. Mungkin untuk hal kolam tadi dia benar, tapi untuk masalah satu ini Marion tak terlalu percaya. Tapi, entah. Rasa penasaran membuatnya ingin mencoba. Dengan hati-hati Marion memasukkan lehernya di lingkaran tali gantung.

"Aku bantu pegang tali penarik tuas papan di bawah kakimu, Sayang. Kau tak perlu khawatir akan mati tergantung," teriak Eugene sembari memegang tali untuk menarik papan alas di panggung hukuman.

***

Sudah selama dua bulan ini Eugene mencium aroma busuk yang diembuskan Marion. Dari seorang kawannya yang juga bekerja di pelabuhan, Eugene mendapat kabar bahwa Marion kerap terlihat jalan berdua dengan seorang pria. Seorang pria muda pemilik toko bunga di ujung kota. Miguel Esteban namanya. Sudah beberapa kali Eugene memergoki mereka sedang asyik masyuk. Namun, amarah yang siap membakar rumah tangganya dipadamkannya sendiri. Diam-diam Eugene menenggelamkan amarahnya di tengah lautan saat bekerja.

Tapi, cinta yang bodoh pada akhirnya akan mencapai puncaknya. Malam itu, Eugene tak jadi mengambil kerja malam. Dia memilih pulang lebih awal. Namun, yang kemudian ditemuinya bukannya hal yang menggembirakan. Dari dalam kamarnya, Eugene mendengar dua orang sedang bercakap-cakap dengan mesra. Dengan kesal dia mengambil tongkat bisbol dari kayu oak. Tongkat yang mungkin bisa menghantam kepala Marion dan Miguel dengan keras. Menghancurkan mereka berdua sampai di titik akhir kehidupan. Tetapi, Eugene sadar, membunuh dengan cara seperti hanya akan melahirkan masalah-masalah baru.

Malam itu dia mengalah untuk kesekian kalinya. Diam-diam dia pergi ke pelabuhan. Menghabiskan malam di sebuah bangku panjang dengan kepulan asap dari puluhan puntung rokoknya, dan ditemani sinar suar yang membawa kapal-kapal untuk berlabuh di dermaga. Di penghujung malam, kota mati tempat kelahirannya tebersit di ingatannya begitu saja. Kota mati yang ditinggalkan lantaran agresi militer dan penyakit mematikan. Kota mati yang menyimpan ribuan kenangan, dan juga tempat hukuman.

***

Eugene menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam. Matanya menatap lurus ke depan. Mobilnya melesat pergi meninggalkan kota mati. Perlahan senyumnya mengembang. Telapak tangan kanannya masih sedikit memerah dengan bekas guratan tali tambang.

"Cinta yang tolol itu harus diakhiri. Ketidaksetiaan harus dibayar tunai dengan kematian. Seharusnya memang begitu," bisik Eugene seorang diri.

Dari kaca belakang mobilnya, terlihat tali gantung di tempat hukuman menegang. Angin berembus cukup kuat, menerbangkan debu-debu di kota mati. Eugene menginjak pedal rem mobilnya secara tiba-tiba. Dia menoleh ke belakang.

"Hasta la vista, Marion," bisiknya sembari melihat tubuh Marion yang bergoyang-goyang lantaran diembus angin yang cukup kencang.

Tak berselang lama, Eugene menginjak pedal gasnya sekali lagi. Mobil melesat pergi, kali ini benar-benar meninggalkan kota mati.

Salatiga, 26 Februari 2018.

Artie Ahmad lahir di Salatiga, 21 November 1994. Menulis adalah salah satu hobi yang saat ini dia tekuni. Beberapa cerita pendeknya dimuat beberapa media massa. Novel terbarunya Sunyi di Dada Sumirah (Penerbit Buku Mojok) terbit Agustus, 2018

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed