Jangan Pandang Sebelah Mata, Seni Bambu Joko Avianto Pukau Warga Dunia

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 16 Agu 2018 10:34 WIB
Karya seni bambu Joko Avianto di Art Jog 2012. Ia menyulap fasad depan Taman Budaya Yogyakarta Foto: Karya Joko Avianto
Jakarta - Nama Joko Avianto mencuat ketika menjadi salah satu dari empat seniman di pameran 'ROOTS, Indonesian Contemporary Art' di Frankfurt pada 2015 lalu. Nama Joko Avianto kian dibicarakan lantaran karyanya memukau publik dunia.

Saat itu dalam rangka Frankfurt Book Fair 2015, Joko Avianto memajang 1500 batang bambu dari jenis awitali dan betung di depan fasad Frankfurter Kunstverein, Jerman. Instalasi 'The Big Trees' itu menarik perhatian pengunjung yang lalu lalang saat itu.

Ketika diwawancarai di Galeri Nasional Indonesia saat itu, Joko Avianto menceritakan saat proses pengerjaan setiap orang yang lewat selalu mampir dan bertanya mengenai karyanya. Bahkan mereka kerap menanyakan jenis bambu yang digunakan. Media lokal setempat pun mewawancarai Joko.


Jangan Pandang Sebelah Mata, Seni Bambu Joko Avianto Pukau Warga Dunia Jangan Pandang Sebelah Mata, Seni Bambu Joko Avianto Pukau Warga Dunia Foto: Instagram Anies Baswedan


"Ada sekelompok orang yang punya koleksi tanaman bambu nanya-nanya ke saya. Majalah arsitektural dan botani juga menanyakan bahan awitali dan betung dan proses dari Studio di Cimahi sampai ke Frankfurt," ungkap Joko Avianto.

Hal tersebut dibenarkan oleh salah satu kurator pameran 'ROOTS, Indonesian Contemporary Art' di tahun 2015, Rizki A Zaelani.

"Karya di Frankfurt dipuja secara internasional. Di Yokohama Triennale, di Esplanade Bay Singapura juga dibicarakan. Kenapa karya di Jakarta belum mendorong pujian," ujar Rizki A Zaelani turut mempertanyakan ketika dihubungi detikHOT, Kamis (16/8/2018).


Karya seni bambu Joko Avianto di Frankfurt Book Fair 2018Karya seni bambu Joko Avianto di Frankfurt Book Fair 2018 Foto: Dok. Galeri Nasional Indonesia


Ia menuturkan saat di Frankfurt, karya Joko dibungkus dengan fasad bangunan tua bersejarah. Secara estetika pun dikagumi siapa pun dan telah lolos proses kuratorial dari berbagai pihak. Di Yokohama dan Singapura, lanjut pria yang akrab disapa Kiki, terlindungi dari paparan sinar matahari.

"Baik di Frankfurt, Yokohama, dan Singapura ditempatkan di tempat yang terlindungi. Kontras sekali dengan di Jakarta. Tapi ya orang-orang bisa berpendapat berbeda-beda. Di level pengetahuan publik bisa berbeda secara apresiasi juga," tukas dia.

Simak artikel berikutnya.

(tia/tia)