DetikHot

art

Puding Pengantar Doa

Sabtu, 11 Ags 2018 10:40 WIB  ·   Malia Fai - detikHOT
Puding Pengantar Doa Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Luna terbangun dua jam lebih awal dari semestinya. Rupanya obat itu tak direspons dengan baik oleh tubuhnya. Agak kepayahan ia bertolak dengan kedua lengan. Ia menyibak selimut yang menutupi setengah badannya, kemudian menurunkan kakinya dari ranjang besi yang ada di ruangan bercat putih itu. Kakinya menjuntai. Ujung telapaknya menyentuh permukaan lantai yang dingin. Di atas lantai yang bersih dan berkilau itu, ia memandang sepasang kakinya sendiri, lalu saling menggosokkan jempol yang semungil tomat ceri.

Tak lama berselang, pandangannya beralih ke jendela tak jauh dari tempatnya duduk. Jendela itu tertutup, tidak bertirai, dan kacanya sangat bening. Membuatnya bebas menyaksikan sepasang burung gereja yang bertengger di ranting pohon entah apa. Daun-daunnya tampak kecil-kecil berwarna kuning kecokelatan. Sesekali daun-daun itu jatuh agak jauh terbawa angin.

Ia menunduk sehingga dagunya hampir menyentuh dada. Dipejamkannya mata, dan ia sandarkan telapak tangannya di pinggiran kasur yang empuk. Telapak itu mencengkeram seprai sekuat tenaga dan melepaskan cengkeramannya perlahan-lahan. Meninggalkan bekas kerutan yang kentara sesaat. Luna berharap gerakan semacam itu dapat sedikit meredakan rasa sakit yang merambati seluruh tubuhnya sejak beberapa hari lalu. Sejak setan menyusupi rambutnya. Sejak jarum-jarum seukuran paku beton itu menembus lengan kerempengnya.

Luna pernah mengalami ini beberapa bulan lalu. Lelaki tua yang dipanggilnya dokter itu bilang bahwa respons tubuhnya terhadap obat-obatan sangat baik. Ia dinyatakan hampir sembuh dengan syarat tetap rutin mengunjungi si lelaki tua setiap beberapa minggu sekali. Segala yang dikatakan dokter itu diingatnya tanpa terkecuali. Ia sangat yakin tidak melupakan anjuran dan selalu menjauhi larangan. Tapi, sejak seminggu lalu rasa ngilunya makin menjadi-jadi. Luna tak mengerti mengapa dirinya harus menanggung kesialan semacam ini. Sudah tiga hari ini Luna kencing dan berak di tempat yang sama di mana ia memejamkan mata. Ini pasti ulah setan di rambutku, setan itu tidak rela aku sembuh. Bukankah kata Nenek, salah satu kegemaran setan adalah menciptakan penderitaan untuk manusia?

Ia percaya bahwa setan telah menyusup ke celah-celah rambutnya, lalu mengubah diri menjadi benang-benang halus berwarna sama. Setan juga diam-diam meniupkan mimpi buruk ke dalam kepalanya. Mimpi buruk itu membuatnya gelisah. Barangkali, itulah alasan mengapa Luna seringkali mendadak terbangun dari tidur. Ia sangat yakin bahwa setan telah menguasai dirinya.

Sewaktu kecil, Luna pernah mendengar Nenek bertutur di sela kegiatan mengiris daun bawang bahwa sesuatu yang jahat bisa menyebabkan penderitaan. Penderitaan selalu berasal dari setan karena setan adalah makhluk jahat. Dan, setan selalu punya cara untuk membuat manusia menderita. Termasuk menyusup ke celah-celah rambut. Saat itu ia sedang duduk menekuni keripik kentang rasa sapi panggang. Memamah keripik dengan mulut terkatup rapat. Kunyahannya ritmis. Bunyi keripik yang beradu dengan giginya seperti musik yang berhasil sedikit menekan ketakutannya kala itu. Sesekali ia goyangkan kakinya yang bersandal ungu muda ke depan-belakang.

Meskipun takut, sebenarnya ia sangat menikmati celoteh nenek tentang setan dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika setan berhasil menyusup ke dalam diri manusia. Luna menyukai cerita hantu sebagaimana anak lain menyukainya pada usia itu.

"Dan, cara yang paling baik untuk mencegah setan menyusupi dirimu adalah berdoa. Kau harus hafal doa-doamu. Semakin banyak kau hafal, semakin bagus."

Nenek mengatakan kalimat itu dari balik tembok setinggi pinggang orang dewasa yang memisahkan dirinya dari dapur. Nenek memandang tegas kepadanya sambil mengacung-acungkan tangan yang menggenggam pisau. Pisau perak itu berkilat-kilat ditimpa terik matahari sore dari jendela dapur yang terbuka. Ada sepotong daun bawang yang masih menempel kemudian jatuh begitu saja saat Nenek menurunkan pisau dan berbalik untuk menjerang air.

Luna membuka mata. Dipandanginya jarum-jarum di lengannya dengan penuh kebencian. Jarum-jarum itu terhubung dengan selang yang menjurus ke kantung yang menggelayuti tiang infus. Tiang infus itu terjepit di antara meja dan ranjang. Berdiri kaku layaknya tiang jenis lain berdiri. Di matanya, selang-selang itu seperti ular yang mengalirkan racun ke pembuluh darahnya.

Ia teramat bernafsu membetot selang sialan itu. Luna bertanya-tanya, apakah dirinya akan mati jika melakukan itu. Apakah tubuhnya akan kejang-kejang, lalu jatuh ke lantai, lantas megap-megap kehabisan napas. Apakah kematiannya akan seindah film yang ditontonnya bersama Nenek dan Leslie dulu: pandangan yang pelan-pelan mengabur bersamaan dengan rasa sakit yang lepas begitu saja lewat embusan terakhir miliknya. Ataukah, ia tetap seperti itu dan hal-hal yang dibayangkannya tidak terjadi kecuali rasa ngilu yang mungkin bertambah ganas menggerogoti tubuhnya.

Luna mulai terisak. Dalam kondisi seperti itu, perasaannya begitu ruwet. Kepalanya yang semula nyut-nyutan kini seakan siap meledak untuk menumpahkan segala yang ditampungnya. Pikiran-pikiran tolol itu. Doa-doa yang mulai diragukannya. Mimpi-mimpi buruk yang dideritanya belakangan. Ingatan tentang Nenek dan Leslie. Luna teramat merindukan mereka berdua. Terutama Nenek.

Kepalanya melongok ke kanan. Samar-samar, didapatinya sebuah gelas yang berisi setengah penuh air putih. Di sebelahnya terdapat vas keramik berisi beberapa batang aster putih. Dipandangnya lama gambar kupu-kupu biru yang menjadi corak vas. Ia mengusap air mata yang membasahi pipi dan kerah daster dengan salah satu punggung tangannya. Kembali dilihatnya gambar kupu-kupu. Luna teringat Mum dan Dad. Nenek bilang bahwa Mum dan Dad tidak benar-benar meninggal seperti yang teman-temannya katakan.

"Lalu, di mana mereka sekarang?"

"Mereka menjadi kupu-kupu. Kau ingat sepasang kupu-kupu yang masuk rumah tempo hari? Itu adalah mereka."

"Jadi, Mum dan Dad adalah sepasang kupu-kupu?"

Nenek mengangguk.

"Apapun mereka dan bagaimanapun wujud mereka, bukankah mereka selalu ada di sini?" Nenek menyentuh dadanya dengan jari telunjuk.

"Apakah kupu-kupu juga berdoa?"

Saat itu ia berumur enam tahun dan teramat takjub. Setelah Nenek menceritakan bagaimana cara kupu-kupu hidup, Luna Kecil tak pernah bertanya-tanya lagi perihal orangtuanya.

"Dan, cara yang paling baik untuk mencegah setan menyusupi dirimu adalah berdoa. Kau harus hafal doa-doamu. Semakin banyak kau hafal, semakin bagus."

Luna tak pernah melupakan kalimat itu. Apalagi doa-doa yang diajarkan Nenek. Ia juga tak pernah melupakan hari-hari menyenangkan yang dilaluinya bersama Nenek dan Leslie. Mereka melakukan banyak hal bersama-sama. Ia dan Nenek pernah nyaris terlambat datang ke sekolah untuk acara Drama Liburan Musim Panas. Ban mobil Nenek kempis, dan mereka baru menyadarinya empat puluh tujuh menit sebelum acara dimulai. Di halte, Nenek berkali-kali menenangkan dirinya sendiri. Satu-satunya bis tercepat akan berangkat tujuh belas menit sebelum acara dimulai. Sedangkan, jarak rumah ke sekolah dua puluh menit bermobil dengan menerobos lampu merah. Dan, pada pagi itu entah mengapa Nenek merasa seolah-olah seluruh taksi bekerja sama untuk mengisi kursi belakang dengan penumpang bayaran.

"Bagaimana kalau kita berdoa saja?"

Nenek berbalik. Memandangi Luna dalam kostum cokelatnya.

"Kau benar, sayang."

Nenek kemudian duduk di sampingnya.

"Tak apa, Nek. Lagi pula aku hanya memerankan pohon, dan sepanjang drama itu aku hanya akan berdialog satu kali dengan seekor kelinci. Jika itu tidak terlaksana, kupikir aku akan baik-baik saja."

Mereka berdua saling menatap sambil tersenyum. Mereka menangkupkan tangan di dada. Keduanya baru saja membuka mata ketika tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan halte.

"Butuh tumpangan?"

Leslie mengedipkan sebelah mata dari balik kemudi.

Perlahan, Luna kembali menatap ke arah kaca jendela. Sepasang burung gereja tadi sudah lenyap. Sekilas angin menabrak kaca dan menggetarkan ranting-ranting. Aku tak pernah melupakan doaku, Nek. Tapi, mengapa hal buruk terjadi padaku?

***

Perempuan itu adalah tetangga baikku. Dia dirawat di rumah sakit sejak sebulanan lalu. Terakhir kali aku mengunjunginya kemarin lusa, dan dia tak tampak baik-baik saja. Meskipun begitu, dia tersenyum saat aku meletakkan aster putih di meja kamarnya yang sempit. Dia menyukai aster karena neneknya juga menyukainya.

Kami mengobrol tentang cuaca hari ini, tetangga yang punya anjing baru, dan siapa yang pagi itu dimaki-maki oleh Jonah-kepala asosiasi warga yang baru dan sok galak-karena membiarkan tutup bak sampah di luar pagar mereka terbuka. Tanpa bertanya, cukup sekilas melihat sepasang mata itu, aku tahu bahwa dia habis menangis. Dia terlihat menderita. Namun, dia tetap tertawa kecil ketika aku menceritakan bagaimana anak-anak bekerja sama untuk membangunkan Jonah tengah malam menggunakan petasan yang dilempar di depan pintu rumahnya. Aku datang satu jam sebelum jam tidur siangnya, dan punya cukup waktu untuk menghiburnya dengan lelucon yang kadang tak lucu. Namun, sekali lagi dia menghargainya dengan tawa kecil itu.

Demi menjaga kenyamanan, aku tak bertanya apapun tentang perkembangan pengobatan yang sedang dijalaninya. Aku tahu itu tidak perlu. Kami sama-sama tahu bahwa dia sedang sekarat. Dadaku memberat ketika melihat selang-selang itu menempel di lengannya yang kurus. Aku ingat ketika sepasang lengan itu menggelayut di pinggangku berpuluh tahun lalu, wajah manisnya mendongak ke atas dan mulutnya berteriak manja meminta dibelikan es krim atau lolipop di toko kelontong ujung jalan. Lalu, aku akan menggendongnya di punggungku. Dari balik pagar, neneknya berteriak agar kami kembali sebelum makan malam.

Dia baru mengemukakan sebaris kalimat tentang gambar kupu-kupu di vas keramik di samping bangsalnya ketika seorang perawat mengetuk pintu, dan menyatakan bahwa waktu kunjungan telah berakhir. Perempuan itu harus tidur siang, dan aku sebaiknya tak mengganggu. Dengan sopan aku memundurkan kursi, memberi ruang kepada si perawat untuk menyuntikkan cairan entah apa ke dalam selang. Aku berpamitan dan mengecup keningnya. Dia tersenyum dan bilang terima kasih. Lantas, aku memeluknya erat sekali seakan kita tak pernah bertemu lagi. Dia melepasku dengan pandangan 'sampai jumpa' seperti biasa. Dan, benar saja, aku memang tak akan pernah bertemu lagi dengannya-setidaknya di dunia yang ini-karena pagi ini rumah sakit tiba-tiba menelepon.

Dokter laki-laki yang biasa menanganinya bilang bahwa perempuan itu telah meninggal, dan hendaknya aku sebagai satu-satunya orang terdekat yang mengurusnya selama ini datang ke sebuah krematorium empat blok dari rumah sakit. Mayatnya telah dikirim ke sana sesuai permintaanku beberapa waktu lalu, saat aku dan si dokter terlibat pembicaraan tentang kondisi perempuan itu yang sesungguhnya. Dokter berkata padaku bahwa aku harus menyiapkan diri dengan kemungkinan terburuk yang akan kuhadapi. Aku hanya mengangguk kala itu. Kau tahu, semenjak neneknya meninggal, aku belajar mengendalikan diri. Namun, bukan berarti aku jadi terbiasa dengan kematian orang-orang yang kucintai.

Aku mencintainya, Ruth. Aku mencintai mereka berdua. Aku tahu kau begitu sulit menerima kenyataan bahwa aku jatuh cinta pada nenek dari perempuan itu. Kau-dan sebagian besar orang lain-menganggap pengakuanku atas apa yang kurasakan sebagai sebuah upaya menistakan Tuhan. Kau bersikukuh bahwa jiwaku perlu pertolongan. Berkali-kali kau membujukku agar mengunjungi kenalanmu yang seorang psikoterapis. Ruth, kau tahu aku tak benar-benar butuh itu. Cinta memanggilku, dan aku hanya mengikutinya. Apa yang salah dengan itu?

Aku bahagia, Ruth. Aku merasakan getaran hangat di dadaku saat pertama kali melihat perempuanku menggendong cucunya yang terlelap keluar dari mobil. Saat itu pula, salju pertama musim dingin berjatuhan di rambut dan bahunya yang diselimuti mantel biru. Perempuanku benar-benar tampak manis. Dan, dia berhasil menyalakan api unggun di salah satu sudut rongga dadaku yang nyaris membeku. Itu adalah surga nomor sembilan-begitu caraku menamai hal-hal menyenangkan-dalam hidupku.

Aku senang berada dekat dengan mereka. Pada kesempatan tertentu kami bertiga menghadiri misa bersama-sama. Sepulang dari gereja, perempuanku akan sibuk di dapur membuat puding yang ia beri nama "Puding Pengantar Doa". Kami menunggu sambil bermain puzzle. Ia tak pernah mengizinkanku menemaninya, dan aku tak keberatan dengan itu. Setelah semuanya siap, masing-masing kami duduk di depan puding berwarna putih susu. Menutup mata beberapa saat untuk berdoa-memanjatkan keinginan terbesar saat itu-sebelum menyantap puding. Doaku selalu sama. Aku ingin kami bertiga selalu dilimpahi kesehatan dan terus bersama-sama.

Namun, agaknya doa-doa tidak semudah itu terkabul.

Neneknya meninggal setahun lalu karena serangan jantung. Pagi ini perempuan yang baru berusia dua puluhan yang amat kusayangi, yang kuanggap sebagai cucuku sendiri, yang bernama Luna, meninggalkanku karena kanker sialan itu. Kau tahu, aku jadi membayangkan bagaimana caraku mati. Sekarang saja aku berpikir bahwa mungkin aku akan mati saat tidur siang. Tapi, tak ada yang tahu kan, Ruth?

Ruth,

Mungkin surat ini akan bernasib sama seperti surat yang lain. Kau tak akan pernah membalasnya. Bahkan kau mungkin meradang seharian hanya karena membaca nama pengirim yang tertera di sampulnya. Apapun itu, aku akan selalu mengirim surat selama aku masih sanggup melakukannya. Happy Thanksgiving, Ruth! Semoga keberkahan senantiasa menyertaimu.

Saudarimu yang Kangen,


Leslie.

Malia Fai lahir pada 17 September 1998. Tinggal di Buleleng, Bali

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed