DetikHot

art

Emak Kinoli dan Seekor Babi

Sabtu, 21 Jul 2018 11:32 WIB  ·   Dody Wardy Manalu - detikHOT
Emak Kinoli dan Seekor Babi Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Belum sepenuhnya pagi. Teriakan Emak Kinoli memekakkan gendang telinga. Terpaksa mengakhiri waktu tidurku. Kepala menyembul dari jendela mencari tahu apa yang terjadi pada tetanggaku itu. Tampak Emak Kinoli berdiri di depan pintu kandang babi terletak di samping dapur. Wajahnya dipenuhi air mata. Ia belum berhenti meraung persis seperti suara babi sedang lapar.

Gegas keluar kamar, penasaran perihal menimpa Emak Kinoli. Namun, langkahku terhenti. Bukankah Emak Kinoli sering berlebihan menanggapi sesuatu? Bisa saja masalahnya sepele. Dua bulan lalu, di pagi buta, aku dan istriku Liona mendengar teriakan minta tolong dari dalam rumah Emak Kinoli. Pintu dan jendelanya tertutup rapat.

"Pecahkan saja kaca jendelanya. Emak Kinoli dalam bahaya."

Liona memberi saran. Aku lempar kaca jendela pakai batu. Kami mendapati Emak Kinoli berdiri di atas meja.

"Emak kemalingan?"

Emak Kinoli menunjuk ke arah lemari. Aku pikir maling itu sembunyi di sana.

"Dari kolong lemari muncul seekor tikus. Aku takut sekali."

Sangat jengkel mendengarnya. Emak Kinoli mengganggu aktivitas kami di pagi buta hanya karena seekor tikus.

"Tolong ganti kaca jendela yang kalian pecahkan," ujar Emak Kinoli ketika kami pamit pulang.

"Berapa harga kaca jendela ini?" Pipi Liona memerah menahan emosi.

"Hanya empat ratus ribu." Entengnya Emak Kinoli menjawab.

"Kami meninggalkan opor ayam di atas kompor gara-gara teriakan emak. Opor itu pasti sudah gosong. Modal membuat opor itu lima ratus ribu. Berarti, emak berutang seratus ribu padaku."

Kalau marah, isteriku bisa lebih ganas dari beruang beranak. Liona berbohong. Kami tidak masak opor. Kami sedang bercinta ketika Emak Kinoli berteriak.

Emak Kinoli belum berhenti menangis. Aku menghampiri. Jari telunjuknya mengarah ke dalam kandang ketika bertanya apa yang terjadi.

"Amelia hilang."

Babi betina berwarna putih itu bernama Amelia. Senang mendengar babi itu hilang. Itu artinya, tidak ada lagi yang merusak taman rumahku.

"Jangan menangis. Mari kita mencarinya."

Aku gapai tangan Emak Kinoli, menunjukkan kalau aku tetangga yang baik, meski dalam hati tetap berharap babi itu jangan ketemu. Aku dan Emak Kinoli keliling kompleks. Barangkali babi itu lepas dan tidak tahu jalan pulang. Kami kembali tanpa hasil setelah satu jam berkeliling. Sampai di rumah, memberitahu Liona tentang hilangnya Amelia. Ia luar biasa senang mendengar kabar itu.

"Makan dulu. Aku masak daging bakar kesukaanmu."

Mataku berbinar melihat setumpuk daging bakar terhidang di atas meja.

"Rasanya beda dengan daging masakanmu sebelumnya."

"Itu daging rusa. Mana lebih enak dari daging lembu?"

"Lebih enak ini."

Liona tersenyum melihatku makan begitu lahap.

"Kasihan Emak Kinoli. Padahal Amelia sudah dianggap anak sendiri." Suaraku tidak jelas. Mulutku dipenuhi daging bakar.

"Amelia menjijikkan. Hidung bulatnya mengeluarkan ingus. Suaranya terdengar aneh," ujar istriku.

Amelia masih berumur tiga bulan. Setiap pagi babi kecil itu dimandikan, diberi bedak, kepala dihiasi pita-pita persis seperti anak perempuan. Emak Kinoli akan mengajak Amelia keliling kompleks. Kembali Emak Kinoli meraung. Aku dan Liona mengintip dari balik kaca jendela dapur.

"Semoga yang mencuri Amalia mandul."

Emak Kinoli mengangkat tangan tinggi-tinggi. Ia benar-benar sudah gila.

***

Kebiasaan Emak Kinoli berubah drastis. Tidak lagi terdengar suara cempreng memanggil babi kecilnya. Ia habiskan waktu duduk termenung di teras rumah.

"Kasihan juga melihat Emak Kinoli menjadi seperti itu. Bagaimana kalau kita mengganti anak babinya," ucap Liona pagi ini.

"Nanti taman rumah kita dirusak lagi."

"Namun kebahagiaan Emak Kinoli lebih penting."

Dulu, Liona sangat benci babi itu. Kini, ia malah ingin membeli babi baru untuk Emak Kinoli.

"Buang-buang duit. Lama-lama Emak Kinoli akan melupakannya."

"Ini bulan kedua sejak Amelia hilang. Emak Kinoli semakin menyedihkan."

Tidak tega melihat tatapan Liona. Aku setuju untuk membeli anak babi buat Emak Kinoli. Ternyata membeli anak babi mirip Amelia bukan perkara gampang. Sudah tiga puluh peternak babi kami sambangi belum juga menemukan yang cocok. Akhirnya, di minggu kelima, aku temukan anak babi mirip Amelia. Rasa bahagia menjalari hatiku bagai menemukan setumpuk harta karun. Pemilik babi seorang kakek sedikit sinting. Ia mau menjual babinya jika dibayar dengan semangkok bubur kacang merah setiap pagi selama satu bulan. Sintingnya lagi, Liona setuju.

Betapa repotnya Liona demi seekor anak babi. Menu sarapanku Liona korbankan bila terlambat bangun. Ia memilih masak bubur kacang merah dari pada masak nasi goreng kesukaanku. Di hari ketiga puluh, Liona mengantar semangkok bubur kacang merah untuk terakhir kali. Satu jam kemudian ia kembali. Di jok belakang motor sebuah boks terikat kuat. Suara nguik-nguik dari dalam boks terdengar nyaring.

"Tolong isi ember dengan air. Babi ini harus dimandikan sebelum mengantarnya."

Bergegas menyiapkan segala keperluan mandi. Aku seperti ayah muda hendak memandikan bayinya pertama kali. Selesai mandi, tubuhnya dibedaki dan kepala diberi pita. Liona menggiring babi keluar. Penasaran bagaimana reaksi Emak Kinoli saat melihat babi barunya.

"Ia bukan Amelia."

Liona terus membujuk. Emak Kinoli tetap menolak.

"Perempuan tua tidak punya hati. Ia tidak menghargai pengorbananku."

Liona menggiring anak babi kembali ke rumah. Dapat merasakan kekecewaannya. Bangun pagi selama tiga puluh hari demi semangkok bubur kacang merah berakhir sia-sia.

"Anak babinya dijual saja."

Liona menggeleng.

"Kita tunggu beberapa hari lagi. Barangkali Emak Kinoli berubah pikiran."

Beberapa hari berlalu. Emak Kinoli tetap menolak. Liona memutuskan untuk merawat babi itu.

***

Babi itu sudah besar. Kami (sebenarnya hanya Liona) baru merayakan ulang tahunnya yang ketiga. Di pagi buta, Liona sibuk memasak kolak satu panci penuh.

"Jangan makan! Itu kolak khusus buat babi kita. Ia ulang tahun," teriak Liona ketika aku mengangkat tutup panci karena tergoda aromanya. Liona menjadi sibuk untuk hal menurutku sia-sia.

Liona kurang memperhatikan aku sejak kehadiran babi itu. Waktunya lebih banyak mengurus babi. Menu sarapanku sering disamakan dengan makanan babi. Liona tak pernah memberi makan babi kami dengan makanan ternak sungguhan. Ia memperlakukannya seperti manusia. Namun, tetap saja tidak setuju menu sarapanku sama dengan makanan babi itu. Pun Liona punya kebiasaan baru. Ia senang berburu barang berkaitan dengan babi. Ada boneka babi, kaos bergambar babi, poster babi dan apron merah bata bergambar babi.

Emak Kinoli makin hanyut dalam kesedihan. Ia habiskan waktu melamun di teras rumahnya. Aku dan Liona sudah ratusan kali membujuk. Bahkan mengiming-imingi akan beli sepuluh ekor babi asal ia kembali ceria. Emak Kinoli tak bergeming. Pagi ini, ketika baru bangun, Liona menghampiriku ke meja makan.

"Babi kita sudah berumur tiga tahun. Ia sangat gemuk dan sehat," ucapnya. Sudah paham sifat Liona kalau ada maunya. Perkataannya adalah kalimat pengantar menuju topik utama.

"Apa nama yang cocok buat babi kita?"

Babi berbeda dengan binatang peliharaan lain. Berbeda dengan anjing atau kucing. Babi tidak perlu diberi nama. Apa lagi menggunakan nama manusia. Bagiku, itu bentuk penghinaan bagi manusia sendiri.

"Bagaimana kalau babi kita diberi nama Arimbi?"

Aku kaget. Bagaimana bisa Liona memberi nama itu untuk seekor babi. Apa ia lupa janji kami sebelum menikah?

"Nama Arimbi untuk anak kita kelak. Kamu keterlaluan." Kubanting sendok ke atas meja. Liona sudah gila gara-gara seekor babi. Bahkan lebih gila dari Emak Kinoli.

"Mungkin aku tidak bisa punya anak."

"Dokter bilang, kita berdua sehat. Masih ada harapan untuk punya anak."

Aku memeluk tubuh Liona terguncang hebat. Menyesal mengapa tadi membentaknya.

"Mungkin rahimku telah kena kutuk."

Aku tidak mengerti arah pembicaraannya.

"Masih ingat daging bakar yang kamu makan bertepatan di hari hilangnya Amelia tiga tahun silam?"

Aku mengangguk.

"Itu bukan daging rusa. Itu daging babi. Aku mengolah Amelia menjadi daging bakar." Tangis Liona semakin kuat.

"Mengapa melakukan itu?" tanyaku setengah sadar.

"Emak Kinoli selalu mengataiku isteri bertubuh gemuk, jelek, dan tidak bisa merias diri. Katanya, aku kalah cantik dengan babinya. Aku sakit hati dikatai demikian. Namun, jadi menyesal setelah melihat keadaan Emak Kinoli makin menyedihkan."

Tertegun mendengar pengakuan Liona. Empat tahun tujuh bulan menjalani biduk rumah tangga. Kami belum dikaruniai anak. Adakah kaitannya dengan kutukan Emak Kinoli? Entah.

Dody Wardy Manalu guru di SMA Negeri 1 Sosorgadong, Kecamatan Sosorgadong, Tapanuli Tengah

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed