detikHot

art

'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor

Jumat, 29 Jun 2018 15:20 WIB Tia Agnes - detikHot
'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor Foto: Image Dynamics
Jakarta - Teater Koma seperti tak pernah kehabisan ide untuk terus menulis naskah baru dan mementaskannya di hadapan publik setiap tahun. Dari cerita pewayangan yang banyak interpretasi sampai isu korupsi yang menyentil kondisi sosial, politik, dan pemerintah.

Di produksi ke-153, Teater Koma mengusung tema futuristik dengan mengambil judul 'Gemintang' yang berarti 'bintang-bintang'. Mengambil cerita tentang seorang astronom bernama Arjuna yang jatuh cinta pada alien Ssumphphwttsspahzaliapahssttphph (Sumbadra) yang jarak planetnya berada 12 miliar dari bumi.

Sumbadra yang ditemui Arjuna sebanyak 10 kali sejak kecil, membuatnya jatuh cinta dan berjanji sehidup semati. Sumpah mencintai Sumbadra itu membawa Arjuna pada takdir lainnya.

Bagi Arjuna yang berprofesi sebagai astronom, ilmu astronomi adalah pencarian terhadap cinta yang hilang. Ia tidak mendapatkan cinta dari bumi, ayahnya yang seorang koruptor dan memiliki istri lagi.

'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor Foto: Image Dynamics


Kisah roman picisan seperti sepasang muda mudi yang 'kebelet' menikah itu terhalang dua dunia. Saat Arjuna mengenalkan Sumbadra pada keluarganya lewat kehadiran teleportasi, keluarga Arjuna menerimanya meski membatin Arjuna dianggap gila.



Cuplikan cerita 'Gemintang' akan ditonton publik mulai malam ini sampai 15 hari ke depan. Selama itu pula, penonton dapat melihat nuansa yang berbeda dari pementasan Teater Koma.

Tak lagi monoton, serius maupun dilafalkan dengan bahasa-bahasa Indonesia yang baku, produksi kali ini Teater Koma berhasil menggaet generasi muda. Ada dua koreografi yang diciptakan penata gerak Ratna Ully yang milenial sekali. Lagu-lagunya pun disisipi unsur electronic dance music (EDM), rap, dan hip-hop.

'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor Foto: Image Dynamics


"Dua adegan koreografi dan lagu yang anak muda banget. Yang satu judulnya Rapper, satu lagi lirik lagunya kata-kata masa kini. Enerjik banget, ya itu buat menarik generasi milenial juga," tutur Nano saat diwawancara usai pertunjukan di Graha Bakti Budaya, kompleks TIM, Kamis (28/6/2018).

Nuansa berbeda tak hanya dari hadirnya 14 anggota muda Teater Koma, tapi juga artistik serta visual set yang mengagumkan. Teater Koma semakin mengukuhkan usia 41 tahun bukan sekadar angka namun eksistensi dari segala unsur dalam berkarier.

"Baru pertama kali setelah 41 tahun, kita masuk ke generasi muda," tutur Nano semringah.

Visual set yang dihadirkan pun tak membuat mata monoton dan terlalu 'teater banget'. Ada banyak unsur urban yang menghiasi artistik di setiap adegan.

Meski cinta Arjuna pada Sumbadra setengah mati, ada momen-momen kejutan yang akan mengagetkan penonton. Hati-hati menonton setiap adegan, jangan sampai tertidur ya!

'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor Foto: (dok.Image Dynamics)


Kritik Pemerintah dan Singgung Isu Korupsi

Bukan Teater Koma namanya kalau bukan menyisipkan isu sosial politik, korupsi, dan menyentil pemerintah. Lewat karakter Aprat Sakiro dan Subrat Balia, percakapan tentang negara bernama Hindianasasa yang jika didengarkan seksama oleh penonton kondisinya seperti Indonesia.

Ada perdebatan 7 dan 9 Presiden yang memimpin negara tersebut. "Presiden kedua selalu tersenyum tapi musuh-musuhnya selalu dihabisin. Dia berkuasa dengan seluruh jiwanya, ya untuk jiwanya sendiri. 31 tahun berkuasa dan diturunkan oleh mahasiswa," tutur percakapan di antara keduanya.

'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor'Gemintang': Roman Picisan Astronom-Alien di Tengah Keluarga Koruptor Foto: Image Dynamics


"Ada tokoh agama jadi Presiden. Dia itu guru bangsa yang seharusnya tidak jadi Presiden. Wakil perempuannya jadi Presiden. Lalu dilanjutkan Jenderal. Negaranya seperti tidak ada kemajuan, korupsinya yang maju," ucap keduanya lagi.

Tiba di bagian Presiden Jokowi yang diceritakan keduanya dengan ciamik. Perdebatan antara Jokowi yang dikatakan pencitraan dan menggenjot pekerjaan demi infrastruktur di berbagai tapal batas. "Dia bekerja sangat serius. Dengan amat sungguh-sungguh," ujar Subrat.

"Hoax," teriak Sakiro memperdebatkannya.

Selain itu, isu korupsi diceritakan lewat kasus E-KTP. Diceritakan ayah Arjuna yang seorang dewan rakyat terjerat korupsi. Dalam pelarian, mobilnya tertabrak tinggi listrik. Ia terluka hingga lukanya sebesar bakpau di kening.

Nano mengatakan tak akan berhenti menulis naskah tentang isu korupsi. "Selama ada korupsi di negara ini, saya akan tetap menuliskannya," tandasnya.

Lakon 'Gemintang' digelar di Graha Bakti Budaya, kompleks TIM, Jakarta Pusat mulai 29 Juni-8 Juli 2018. Tiketnya dibanderol Rp 80 ribu hingga Rp 500 ribu.



(tia/doc)

Photo Gallery
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikhot.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com