DetikHot

art

Amsterdam Blues

Sabtu, 23 Jun 2018 10:02 WIB  ·   Beni Setia - detikHOT
Amsterdam Blues Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Lebih sepuluh kali aku melihat Inneke Schenken di White Satin Bar, terutama di acara The Moody Blues Night (khusus anggota) --padahal aku baru sembilan bulan jadi anggota-- karena itu ia pasti anggota yang lebih senior. Meski begitu baru di Kamis sore itu, di pelataran kantor ketika bergegas ke halte bus kota memburu bus ke suburd di timur Amsterdam, aku memberanikan diri menyapa dengan anggukan serta senyuman bimbang. Tapi, Inneke Schenken hanya menatap dingin. "Maaf, rasanya..." kataku tidak lampias, meski --setelah tersenyum-- Inneke Schenken sigap menyebutkan nomor anggotanya. Nomor yang sangat dini dibandingkan punyaku.

"Selamat bergabung di club," ujarnya sambil melambaikan tangan dan bergegas ke halte untuk mengejar bus yang senantiasa setia berhenti --ada atau tidak ada si calon penumpang. Aku menelan ludah. Mengawasi berjalan kaku dengan langkah tegas dan tanpa gerakan di pinggul dan pantat, sebelum membelok di gang --jalan pintas-- yang melintasi blok serta tiba di jejalur bus kota itu. Mungkin ia bisa mengejar kesempatan terkini meskipun naik di urutan akhir. Tapi, sebelum berbelok ia berbalik, tersenyum sambil mengangkat tangan kiri dan menggerakkan jemari melempar salam sederhana. Aku menarik napas lega. Karena di kantor ia bukan tandingan --aku hanya si petugas cleaning service kontrak-- tapi di tengah musik blues rasanya kami setara, sama-sama si penikmat --dan penggila-- meski motifnya mungkin berbeda.

Empatinya pada lolongan jiwani itu tidak akan sebanding dengan rujukan derita hidup sebagai si yang dikucilkan di Amsterdam ini, dengan seluruh anggota keluarga yang sepakat untuk melupakan mengurung aku nun di masa lalu --meskipun jarak fisik hanya 101 km. Mengisolasi dalam perasaan sepi si diabaikan dalam sama sekali tidak ada isyarat pengampunan --karena itu pintu pulang dan kembali yang ada di masa lalu selalu membayang di pelupuk, dalam jaga dan (terutama) dalam terlelap. Kegelisahan sehari-hari yang coba dinetralisasi dengan suntuk bekerja. Karenanya aku selalu tidak sabar menunggu hari Jumat tiba, ketika jiwa bisa lebur tranced di antara titik postulat derapiah drum serta bass yang membentangkan atmosfer ngungun keyboard --semesta untuk mengempati manifesto murung. Lolongan. Koor yang mengukuhkan pengap dari si tidak lampiasnya ungkapan mencintai si Justin Hayward.

Semua tentang ihwal yang tak kuasa untuk dilisankan. Senantiasa. Selalu. "Mari membuka derita malam," gumanku, menelan omongannya Tan Tirtawinata, "Meski hanya curhat kepada diri sendiri..."

***

Aku bertemu Tan Tirtawinata di bar --awalnya aku tidak mengetahui namanya. Saat itu malam hangat di awal musim semi, dan hujan mendadak turun, sehingga aku berlari ke satu-satunya tempat berteduh yang memungkinkan. Bar di basemen yang ditandai neonsign serta lurung yang kelam di bawah alingan kubah yang membuat lorong seperti tidak berpintu --tapi jadi daerah publik ketika di bawah identitas bar itu tertera tanda merah open. Menekah turun, melolos di pintu dorong yang membuka ke luar dan ke dalam, mendekati bar dan meminta sebotol bir. Membayar, kontan, lantas pindah ke meja karena begitu banyak yang berdesakan di sana. Minta izin pada yang asyik dengan rokok dan setengah botol bir sisa. Duduk. Meneguk bir. Meletakkannya buat menyulut sebatang rokok--lama kemudian baru aku tahu nama bar itu, The Hope, yang merupakan satu dari sekian bar di kota yang (berizin) bebas rokok, bahkan drug.

Sekaligus bar bagi pencari kerja parttimer. Di sebuah papan dekat pintu masuk, selalu dilekatkan pengumuman lowongan kerja, ke mana para pengunjung bar datang memeriksa dan mempertimbangkan sederet tetek bengek pekerjaan enteng, semacam membetulkan pipa ledeng, menyiangi rumput taman, atau perbaikan jaringan listrik --kemudian menyimpan catatan nomor telepon yang harus dihubungi. Karena itu sejak sore selalu datang orang-orang yang membutuhkan kerja ringan dalam tempo pendek dengan bayaran lumayan. Mengambil iklan lowongan itu, dan mengambil sebotol bir sambil mengobrol sampai kantuk tiba. Meski banyak yang melulu datang tidak untuk mengecek pekerjaan dan melulu menghabiskan waktu di bar, menyempurnakan lelah, serta pulang dengan kantuk berat. Meski ada yang datang buat bernostalgia, merokok, dan minum dalam mapan kerja tetap --rindu momen resah mencari kerja serabutan.

"Anda senior?"

"Maaf....?"

"Saya belum pernah melihatmu, dan kamu tidak begitu peduli dengan lowongan kerja yang ada di papan harapan?"

"Papan harapan? Apa itu...?"

"Kamu benar-benar tersesat. Itu papan pengumuman lowongan kerja...."

"Di sini disebut begitu? Di mana itu?"

"Di dekat pintu. Kamu terlambat, semuanya sudah diambil orang," katanya. Aku bangkit dan mendekatinya. Memeriksa iklan personal lowongan kerja serabutan yang semuanya telah dicoret. Ada bolpen tergantung diikat benang, di dekat lembaran nota setengah telapak tangan untuk diambil setelah alamat serta nomor telepon si pemberi lowongan kerja itu dicatat oleh si pencari kerja. Aku balik. Menghenyak di depan Tan Tirtawinata, meraih bir dan meneguknya, kemudian berkata, "Itu tempatnya ya? Begitu caranya ya...?" Tan Tirtawinata tersenyum --sebuah keriut di rona cabar topeng wajah yang sia-sia melabi jiwa tertekan di balik lopak mata yang nyaris tertutup selaput tebal Asia Timur. Mengulurkan tangan dan kami berkenalan.

***

Aku pindah ke kamar Tan Tirtawinata demi menghemat biaya hidup --tapi kami makan dengan uang sendiri. Sesekali kami saling traktir, meski itu hanya si setangkup hotdog dan sebotol softdrink. Lain kali keluyuran untuk mencari kerja serabutan, dan pulang untuk tidur dengan perut kosong. "Kau tahu apa makna surga sesungguhnya," kata Tan Tirtawinata. Aku tersenyum --sudah lama Tuhan terlupa, karena terpikir kalau doaku sering diabaikan-Nya. Tan Tirtawinata tersenyum --tranced menenggelamkan biji matanya ke dalam lopak bertingkap pelupuk tebal. "Itu pembaringan roti isi daging asap dengan bantal softdrink, sehingga saat pergi tidur kita tidak dirisaukan oleh lapar, dan ketika terjaga cuma perlu WC," katanya.

Aku tersenyum. Itu sorga sosialis, utopia si semi menganggur yang tidak terkait dengan nash agama. Mungkin karena di selama tujuh tahun hidup bersama kami tidak pernah punya persediaan makan lebih, bahkan tanpa makan malam dan sisa duit untuk makan pagi --sehingga ketika bangun pagi itu kami benar-benar hanya berkumur, serta meneguk air ledeng Amsterdam. Pengganjal lambung, sekaligus cara sederhana buat mengencerkan asam lambung saat cairan pencerna itu tidak menemukan apa-apa selain selaput lambung yang dengan buas digerogotinya. Itu. Dan, karenanya, kami pergi ke dapur umum, untuk sekedar segelas kopi serta semangkuk sop dan roti. Tidak peduli akan rasa dan melulu ada yang diumpankan untuk mengentalkan cairan pencerna --si asam lambung. Kemudian menunggu hari menjadi sore dan bergegas mencari iklan lowongan kerja part time ringan tapi ada duitnya.

"Untung aku tidak tinggal di Surabaya," kata Tan Tirtawinata --getir. Aku diam saja. Apa itu Surabaya? Apa hebatnya sebuah kota nun di timur jauh sana? Atau, apa ada sesuatu yang membuat Tan Tirtawinata terkukung dalam masa lalu menyenangkan yang disimbolkannya dengan ikon Surabaya? Dan, ketika ia memutuskan untuk pulang ke Surabaya, baru Tan Tirtawinata bilang bahwa nama legalnya itu Setiana. Juga awal dari pengucilan diri sepuluh tahun tinggal sendiri di Belanda, yang disebabkan protes pada rencana kapitalistik orangtuanya: segera menikahkannya dengan gadis keluarga Tanaya --dan sekaligus merger dari dua usaha keluarga. Dan, ketika ia tetap bersikeras menolak, maka semua hak waris sebagai anggota keluarga Tirtawinata dicabut. Ihwal yang dilawan dengan segera lulus MBA di USA, mengirim ijazahnya pulang, serta ia sendiri jadi si imigran gelap di Amsterdam.

Dan, katanya, dengan tubuh menggigil sakit, "Di dua tahun terakhir ini mereka minta agar aku pulang untuk meneruskan bisnis keluarga, tapi aku bertahan sebelum akhirnya, tadi, menyerah. Jo, maukah kamu mengunjungi aku di Surabaya...?"

***

AKU mengantar ke bandara--meski tidak perlu diantar karena dijemput adiknya yang tidur di hotel bintang lima. Aku melihatnya kalah saat menaiki tangga pesawat, meski semalam mengajak menginap di suite, dengan di pagi hari pesan sarapan aneka menu yang tak terbayangkan. "Ini hampir surga impianku, Jo," katanya sambil meraih apa yang bisa diraih dan memamahnya dalam terbaring di ranjang --aku tak membalas, serta sama sekali tak bisa menikmati kemewahan berlimpah dari kelas hotel diamond. Apa itu karena terbiasa hidup subsistensi dengan makanan nan seadanya? Apa karena terkondisi selalu sengaja menekan naluri ingin dipuaskan dari si lapar, sehingga uang makan bisa diperpanjang untuk esok dan esoknya lagi --peduli ada kerja dengan upah lumayan? Aku merasa disaput blues. Aku membungkam.

Dan, di ruang tunggu --dalam pembayanganku: ia itu si buronan yang tertangkap, dan kini sedang dalam prosesi ekstradisi ke Indonesia-- berkali aku dirangkulnya kuat.

Dan, sebelum beranjak ke pesawat ia membisikkan kalimat sederhana, yang gaungnya kekal sampai kini --sebuah lolongan blues, "Aku akan masuk neraka yang lebih getir dari musim dingin tanpa pekerjaan di Amsterdam ini." Dan, aku cuma menelan ludah. Mungkin menganggur di musim dingin lebih mengerikan bagi si imigran gelap seperti Tan Tirtawinata --pada tujuh tahun terakhir agak lumayan karena aku kuasa menyelinap ke Dapur Dinas Sosial untuk semangkuk sop dan roti pengganjal lambung. Sebelum itu apa yang bisa dikerjakannya? Tidur dengan harapan kasur menjadi roti, bantal jadi ham, dan selimut jadi bir?

Dan, kengungunannya itu diwariskan dalam CD The Moody Blues, di dalam ujud lagu Nights in White Satin. Yang selalu mengingatkanku kepada suasana lelah bekerja dan ngungun kehilangan kepastian esok punya kerja parttime apa --yang selalu diputar berulang dan refleks diejanya dengan berguman. Kedegilan yang awalnya membuat aku sebel tapi pelan-pelan nuansa (lirih) dominan putus asa itu, yang kian menguat itu membuat tranced --ketika kami serentak berangkulan di ranjang yang membeku dalam remang tanpa tungku penghangat. Dan, kami berguman seperti flute yang tidak kuasa meneriakkan apa-apa --mengeletarkan gigil saja. Mencoba buat melawan dengan daya tahan fisik, sebab tidak ada duit untuk membeli penghangat yang lebih keras dari kopi atau sekedar air putih hangat. "Sesekali kau harus mencoba wedhang jahe, minuman hangat ala Jawa, Jo," katanya. Apa lagi itu?

Dan, bila sesekali ada duit maka kami lebih memilih makan yang bergizi agar di keesokan hari bisa lebih gigih bekerja dan punya saldo buat hari yang berikutnya. Bir terkadang jadi kemewahan borjuasi--terlebih wine. Kami telah dipaksa terdidik hidup berhemat, karena selalu esok dan esoknya lagi mungkin tak ada kerja part time, dan punya sedikit cadangan uang sendiri --selalu siaga menolong diri sendiri dengan apa yang ada saat ini. Dan, malam menjadi momen menghibur diri dengan mengeluh pada diri sendiri. "Siapa yang kuat untuk tidak membuka duka malam hari, meski itu hanya pada diri sendiri," desah Tan Tirtawinata --selalu. Dulu. Dan, kini (karenanya) aku jadi si penyusur setiap bar di Amsterdam, setiap malam mencari semesta blues serta blues music live --kemudian tercangkul di White Satin Bar, di acara The Moody Blues Night.

***

Mungkin tujuh kali --dalam rentang lima tahun-- Tan Tirtawinata mengunjungi Amstredam, memberi cek tanpa batas nominal. "Silakan diisi sendiri," katanya, atas nama Johan Schoon, dan dengan sungguh-sungguh berkali-kali meminta agar aku ke Indonesia. Berkunjung. Atau, menetap dan memegang posisi di perusahaan keluarga di Surabaya. "Sekarang aku sudah menikah dan mau punya anak. Meski tak dengan si gadis pertama yang ditawarkan dulu itu, aku tetap menikah dengan gadis Tanaya," katanya, "Aku menikah dengan anak rekanan bisnis ayah, hingga bisa total mengelola kedua perusahaan keluarga di satu tangan. Datanglah. Aku sudah bilang pada mereka, kalau kau yang menemani petualangan lapar musim dingin di Amsterdam, karenanya kau berhak atas surga di kamar tidur, saat terjaga langsung sarapan."

Aku tak membalas. Apa harus ke Indonesia dan jadi si kepala cleaning service? Atau, hanya kepala keamanan, yang kuasa memerintah orang profesional pengamanan Indonesia ("Jawa, arek Surabaya," katanya)? Apa bedanya? Aku tersenyum. Sore itu, seperti biasa: menjelang larut aku beranjak dari kantor, bersepeda di seperempat jam, masuk subway dan mengambil kereta ke selatan yang sudah lengang, turun di Zaken, dan bersepeda lagi selama seperempat jam --total satu setengah jam. Santai karena aku tak harus bangun sangat pagi dan bergegas pergi supaya tidak terlambat masuk kantor. Aku masuk sore menjelang jam kerja usai, sesuai kontrak kerja, sekaligus tak harus bergegas pulang agar bisa istirahat lebih dini, supaya terbangun di dini hari.

Rutin. Kecuali di hari Jumat, ketika aku pergi bekerja dengan beransel, ke mana seluruh pakaian kerja dilipat masuk dan pakaian kebesaran penikmat blues dikenakan --meski properti yang terutama itu: raut wajah yang lama dicelup dengan saputan duka, karenanya aku seperti si roh blues kesasar di Amsterdam. Berlangsung sampai dini hari dan aku bisa ngambil kereta yang pertama ke selatan. Untuk pulang dengan bersepeda dan terlelap dalam mimpi --tidur di atas kasur roti. Di besok Jumaat malam, barangkali, sambil minum bir aku bisa bercakap dengan Inneke Schenken --tentang si lowongan kerja sebagai manajer produksi atau apa di Indonesia, yang disediakan untuk si aku, dan yang bisa (juga) diperolehnya asal ia mau formal menikah denganku. Suatu kontrak sosial yang harus diekspresikan secara sosial, meski setelah itu kami (masing-masing) punya kehidupan pribadi yang dijamin privasinya. Tapi, mungkinkah itu?

Dan, nanti di setengah tranced, aku akan bilang, "Kita akan menghirup atmosfer surga tropical, yang di meja di sisi tempat tidur tersedia aneka buah-buahan, kue-kue etnik, serta bir atau wine. Di dapur ada kulkas yang penuh berisi bahan makanan yang siap dimasak secara Jawani oleh si pelayan pribumi, seperti yang selalu tertulis di teks roman kolonial setengah abad lampau. Semua dapat diraih dengan pura-pura menjadi istriku, serta senantiasa siap sedia dicumbu pura-pura. Dengan --tentu saja-- hak bebas ambil selingan seksual sejati di luar rutin harian lakon komedi si suami-istri, sinetron demi kelangsungan pekerjaan serta keutuhan sorga tropical Tan Tirtawinata. Kenapa begitu? Karena keluarga si Tan Tirtawinata kuno, tradisional dan konvensional."

***

Sering terpikir aku pergi ke Indonesia, ke Surabaya itu, dengan si sembarang perempuan profesional, yang didapat dari serius memasang iklan lowongan "kerja" di bar lowongan kerja seperti The Hope itu, atau malah formal legal di koran. Agar bisa datang ke Indonesia, ke Surabaya itu, dengan didampingi seorang istri, yang memiliki kemampuan profesional romantisme perkawinan ideal. Jadi si yang dibawa suami ke Surabaya, yang diperkenalkan sebagai istri mitra kerja Tan Tirtawinata di Amsterdam di pergaulan sosial Tan Tirtawinata. Sehingga secara rahasia kami bebas menyelinap, mengenangkan malam-malam musim dingin di Amstredam, yang dulu selalu dilakoni hanya dengan berpelukan dalam selimut, dengan gumam lirih mengikuti lenguh lagu Nights in White Satin, jadi tranced dalam pukauan flute yang menebar gigil sampai
syaraf. Membuat semesta lebur dalam gema blues.

Hal nostalgik --sesuatu yang membuatku resah, meski sesekali tuntas ketika Tan Tirtawinata diam-diam mampir dari kunjungan dinas atau liburan-- yang tak sekadar kuasa diaplikasikan sesekali dalam pertemuan rahasia kalau Tan Tirtawinata berbisnis ke Belanda. Kubah yang sangat riil --dibandingkan surga setengah utopis dari ranjang roti, bantal ham, dan selimut bir itu-- yang selalu diciptakan di musim dingin tanpa si lentik cahaya ada kerja parttime. Nun --bahkan ketika tidak di musim dingin, tapi kami tercangkul dalam tanpa pekerjaan, bahkan ketika kami ada punya saldo dan kepastian akan ada kerja parttime di esok hari. Sebuah percintaan yang lebih merupakan sebuah manifestasi kesalingmengertian, salingmelindungi setelah bertahun melulu hidup terkelucak dalam kesendirian, dan kebersamaan yang tetap mengelucak. Keluluhan --dan untuk itulah Tan Tirtawinta meminta agar aku datang ke Surabaya.

Tentu saja --suka atau tidak suka-- aku harus datang dengan akting lelaki normal yang memiliki istri, si perempuan yang juga harus normal atau bisa memerankan istri normal --mau disentuh, bereaksi panas, dan rela hamil serta melahirkan anak. Kenapa? Sebab keluarga Tan Tirtawinta itu keluarga kuno, tradisional dan konvensional--amat mengagungkan etika, kesantunan, dan kepantasan identitas saat bergaul. "Ya..." kata Tan Tanuwinata, sekali waktu di Schiphol, "Dengan begitu kamu bisa minta apa saja dari mereka, semuanya akan dikabulkan selama kau tidak mempermalukan mereka." Maksudnya, dengan pola dan selera seksual yang normal serta tradisional --suami-istri dan ada beberapa anak. Dan, saat itu aku cuma menarik napas, pelan menelan ludah dan melengos memperhatikan jala-jala pengukur kecepatan angin di kejauhan --berjuntai tak diserut angin.

"Aku pun, kini, harus segera punya anak. Lebih bagus lagi bila lelaki," kata Tan Tirtawinata saat itu --setengah berbisik. Ya! Aku memejam, dan sepertinya terdengar erangan Justin Hayward, dan seperti terdengar semua orang melolong memperpekat duka di antara desing pesawat yang mendarat serta terbang. Nun. Tapi, apakah aku tak bisa berbahagia dengan Tan Tirtawinata seperti si Tan Tirtawinata bebas berbahagia denganku, sambil kami masing-masing memperagakan kamuflase lucu: si punya istri, punya anak, dan sesekali berselingkuh dengan sembarangan perempuan --meski yang hakiki bagi kami adalah intimitas gigil dalam erangan Nights in White Satin.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed