DetikHot

Cerita Pendek

Gara-gara Gaspar

Sabtu, 26 Mei 2018 09:35 WIB  ·   Fajar Martha - detikHOT
Gara-gara Gaspar Ilustrasi: Denny Pratama/detikcom
Jakarta - Jika kau lelaki, hal yang paling menyedihkan adalah membuat seorang perempuan bersedih. Aku sering membuat mereka bersedih. Aku tidak kepalang tanggung saat membuat mereka bersedih, meski setelahnya-entah dalam hitungan jam atau hari-aku juga turut bersedih. Betapa kesedihan cepat sekali menular, mengular seperti kartu domino yang berjatuhan.

Satu perempuan lagi masuk dalam daftar itu: Dini. Walau tak menangis, aku tahu ia sedang bersedih karenaku. Bukannya baru saja kukatakan, aku berbakat membuat mereka bersedih? Tolong simak baik-baik.

Kalau dipikir-pikir, membuat perempuan bersedih menempati urutan teratas setelah, 1. Membiarkan kotak email-ku penuh dan tidak membacanya sampai kira-kira tiga puluhan email, serta 2. Menyuruh pengamen menuntaskan lagu yang ia nyanyikan sebelum akhirnya kuberi uang. Untuk yang kedua aku telah lama tidak melakukannya. Pengamen zaman sekarang semakin tidak pantas disebut pengamen. Berharap mereka bernyanyi dengan sungguh-sungguh hanya akan membuat telingaku pekak dan kotoran di dalamnya kian menggumpal.

Bukan berarti aku playboy atau apa, memangnya perempuan melulu pacar? Mereka bisa saja ibuku, adikku, guruku, temanku, atau perempuan penjual Yakult bersepeda yang kusenggol lalu jatuh tanpa membantunya (ini terjadi ketika aku nekat mengendarai motor di usia tiga belas). Dan, sumpah, aku bukan seorang misoginis yang menganggap perempuan sebagai warga kelas dua. Ini adalah bakat dan kau seharusnya tahu, bakat adalah mukjizat sekaligus kutukan.

Dini bersedih setelah kuajak menonton Enter the Void yang digarap Gaspar Noé, dan hubungan ganjil kami harus berakhir karenanya.

***

"Lihatlah, semua orang bisa dan berhak menciptakan surga kecilnya masing-masing di dunia," kataku kepada Dini, seraya menunjuk sebuah balkon yang berhadap-hadapan dengan balkon rumahnya.

Fungsi utama balkon itu untuk menjemur pakaian, tetapi sang empunya menambahinya dengan empat buah kursi, beberapa tanaman hias, dan untaian bola-bola lampu kecil yang jika kota ini diguyur gerimis akan mampu membuat siapa pun memaafkan pejalnya hidup.

Dini hanya tersenyum sambil menatap kedua mataku. Kepalanya masih bersandar di dadaku yang naik turun dengan tenang dan pasti, setenang dan sepasti Andrea Pirlo kala menggiring bola. Ia baru saja kuajak menonton trilogi Before-nya Richard Linklater. Ia terpana dan terbuai setelah menyaksikan ketiga film itu secara maraton. Dini juga berterima kasih kepadaku karena telah diperkenalkan dengan film cinta sebermutu itu.

Aku tahu Dini akan menyukainya, tapi tidak menduga akan sedramatis ini. Ini hubungan yang tidak biasa antara dosen dan mahasiswa. Usia kami terpaut sepuluh tahun. Seharusnya ini tidak terasa seperti perselingkuhan karena toh aku dan ia sama-sama lowong. Tapi tetap saja, jika kau seorang dosen kau tidak bisa seenaknya memacari mahasiswa dari kampus yang sama, kan? Jadi kami berpikir ini tidak bedanya dengan perselingkuhan. Hari-hari kami jalani dengan mengendap-endap.

Sambil memandang balkon surgawi itu, aku terus saja memainkan ulang Special Needs dari Placebo. Sepertinya hanya lagu itu yang cocok mengiringi kebersamaan kami petang itu. Mamanya menyukai Placebo dan saat ia tahu aku seorang dosen, tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Perbincangan tentang Placebo seperti menambah impresi positifku di matanya. Kupanggil ia "Mama Molko", yang kuambil dari nama vokalis Placebo. Ia tak berkeberatan sama sekali, bahkan sedikit tersanjung.

"Lagu ini biar enak liriknya menyedihkan lho," oceh Dini padaku.

"Iya. Aku tahu. Brian Molko sama seperti Morrissey, hampir tak pernah menyisakan optimisme di lagu-lagu mereka yang bernada paling riang sekali pun. Aku senang memutarnya karena kupikir aku tak pantas buatmu. Tokoh Aku di lagu itu ya aku, yang menganggap kamu pantas menjadi bintang lalu kamu tinggalkan."

Aku masih berpikir hubungan kami seperti dua tokoh di Like Someone in Love-nya Abbas Kiarostami. Ada asmara yang merona, tapi sebaiknya tidak terejawantah dalam tukar-menukar sentuhan dan harapan. Apalagi tokoh pria di film itu juga berprofesi sebagai dosen.

Aku kerap melanglangkan tindakan dan pikiranku ke film-film yang kutonton, entah mengapa. Mereka sudah kuanggap layaknya nubuat atau kitab suci saja. Mungkin ini pula yang membuatku sulit dimengerti orang-orang. Dan sama seperti di film itu, hubunganku dan Dini berawal dari ketidaksengajaan, lalu menjadi usaha menyelamatkan sang perempuan.

Dini, pada perjumpaan kami yang kelima, mengaku sedang hamil dan meminta bantuanku untuk mengaborsi janin yang dikandungnya. Pria brengsek itu mengajak Dini kawin dan memelihara anak yang nanti lahir. Ia bahkan menjanjikan rumah dan umrah bagi Mama Molko. Dini tidak menginginkan itu. Ia melakukan persetubuhan yang konsensual dan tahu risiko ini rentan menghampiri.

Kecantikan Dini adalah kecantikan yang garib. Ia cantik seperti aktris Jepang, Ai Hashimoto: kurusnya, potongan rambutnya, lekuk pipinya, terutama tatapan tajamnya.

Kecerdasan yang Dini miliki adalah kecerdasan yang tidak ortodoks. Ia tak pernah memulas kosmetik di wajah dan selalu mengenakan tas punggung saat di kampus. Para mahasiswi zaman sekarang sudah menganggap kampus seperti runway peragaan busana sehingga lebih tekun berdandan ketimbang membaca buku.

Masukilah kampus mana saja, di kota apa saja, kau akan sulit menemukan mahasiswi yang masih membawa tas punggung. Aku pernah memergoki seorang mahasiswi yang di dalam tas purse-nya hanya membawa selembar kertas. Ya, selembar!

"Kamu berbakat memelihara nelangsa," tukasnya, seperti menggandengku keluar dari lamunan.

***

Kencan-kencanku bersamanya bukanlah kencan biasa. Kuajak ia menonton teater; tiga kali Teater Koma, sekali Teater Garasi. Kusadarkan ia bahwa puisi bukan hanya Sapardi. Ia juga semakin membuka perspektifnya tentang hidup. Ketika kuajak mengobrol soal industri perfilman tanah air yang bobrok, ia mengajakku menonton di sebuah bioskop tua di Senen. Satu-satunya alasan bioskop itu bisa bertahan adalah karena tempat itu dijadikan tempat mesum alternatif bagi para bromocorah, serta murid-murid sekolah berkantong cekak.

Kuberi ia akses ke berbagai perpustakaan online akademik. Kuajari ia bahasa Jerman dan Prancis. Dini cepat belajar dan aku pun semakin menyayanginya. Mungkin telah banyak skandal antara mahasiswa dan dosen. Tetapi aku lebih beruntung. Partnerku tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas dan haus akan hal-hal baru.

Ia senang sekali bila kuajak berwisata ke taman-taman kota. Di sana, akan kubacakan ia puisi-puisi Octavio Paz, Pablo Neruda, Rainer Maria Rilke, dan tak ketinggalan "si Merak" Rendra. Sering, kami saling bertukar puisi saat berada di kampus. Rasanya seperti mengirim kode rahasia saja. Lewat puisi-puisi itulah kami meluruhkan sekat di sela-sela rindu yang menggumpal.

Aku mensyukurinya begitu dalam, meski tahu diriku tak ubahnya samsak tinju.

Dini sedang berkelahi dengan hidup-dan aku, si samsak tinju, menjadi sarana baginya melampiaskan segala.

***

Hubungan ini terjadi tiga belas tahun yang lalu dan sampai kini masih sering kukenang. Dini bisa saja menjadi perempuan cerdas-cantik-progresif yang melawan stereotip. Alih-alih, ia justru memelihara bayi yang dikandungnya dan pihak kampus pun mengeluarkannya.

Putaran balik ini ia lakukan setelah menonton Enter the Void.

"Sepertinya bayi ini aku kupelihara saja, Bang. Film itu begitu menghantuiku. Aku takut jiwanya akan senantiasa memperhatikan tiap polahku dari alam sana, seperti jiwa malang Oscar yang hanya bisa menyaksikan penderitaan-penderitaan Linda di dunia," katanya lewat telepon.

Mengapa aku begitu tolol? Kenapa ia tak kuajak menonton film-film La nouvelle vague saja?

"Abang pasti kecewa sama Dini. Abang telah baik hati mendampingi Dini, melindungi Dini dari teror pria itu. Abang juga mau meminjamkan Dini uang untuk biaya aborsi," lanjutnya.

Kutunggu kalimat selanjutnya dengan cemas.

"Aku tega, Bang, membunuh janinku. Aku cuma takut dihantuinya. Terlalu sulit meneladani Simone de Beauvoir. Sayangnya, kita hidup di Indonesia dan dari hari ke hari perutku kian membuntal saja."

Kutahu itu merupakan salam perpisahan tidak hanya kepada prospek akademiknya, tapi juga kepadaku. Dini baru saja terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar dan namanya serta-merta dicoret pihak kampus.

Demi Tuhan, mengapa aku begitu tolol? Dan, mengapa juga Dini bisa terpukau oleh film yang sesungguhnya sangat berpotensi membuat mual itu?

Aku tahu aku akan menghadapi Dini-Dini yang lain. Aku selalu risau saat menerima undangan pernikahan dari bekas mahasiswi yang sebenarnya pintar, lalu mengorbankan kariernya demi suami. Mereka pada akhirnya melestarikan stigma yang selama ini dengan susah payah mereka lawan.

Aku tidak peduli jika mereka goblok. Kalau memang tidak punya otak, ya jadi istri orang saja. Aman. Dini berbeda. Aku sempat membayangkan ia bisa turut menjadi akademisi sepertiku, lalu hubungan kami pun beranjak ke pernikahan. Muluk-muluk, memang.

Maka, sejak itulah aku memutuskan untuk tidak menikah dan tak lagi menonton film-film si keparat Argentina Gaspar Noé.

Fajar Martha menulis esai-esai bertema musik, sepak bola, dan politik sejak 2009. Sejak 2017 mulai gandrung mengarang dan menerjemahkan cerpen

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed