DetikHot

art

Penembak Jitu

Sabtu, 17 Mar 2018 09:40 WIB  ·   Budi Afandi - detikHOT
Penembak Jitu Ilustrasi: Denny Pratama/detikcom
Jakarta - Ridwan meninggalkan rumah dengan senapan angin bertengger di pundak. Ia berjalan dengan langkah-langkah tegap dan dada membusung laiknya serdadu yang sedang dalam puncak yakin akan kemenangan di medan perang. Sepanjang perjalanan raut muka Ridwan tak berubah meski sesekali ia mengangguk kepada orang-orang yang ia temui.

"Latihan," jawab Ridwan singkat kepada mereka yang sempat bertanya hendak ke mana ia membawa senapan. Namun tak seorang pun bisa bertanya lebih jauh sebab Ridwan tak memberi peluang orang-orang berpikir setelah ia memberi jawaban.

Ridwan terus melangkah, tak memedulikan orang-orang yang hanya bisa mengernyitkan jidat atau tersenyum ganjil melihat sikapnya. Mungkin Ridwan habis bertengkar dengan ibunya, mungkin Ridwan sedang marah pada seseorang. Begitulah pikir orang-orang yang melihatnya.

Ridwan menghentikan langkah di depan kebun mangga milik ibunya. Ia membuka gerbang, memasuki kebun, menatap sekelilingnya. Tanah di kebun masih lembab, di atas tanah tergeletak beberapa buah mangga, beberapa di antaranya hanya tersisa separuh sebab sudah dimakan kalong.

"Bedebah," gerutu Ridwan sambil mendekati sebuah bangku panjang. Segera ia duduk, meletakkan senapan di pangkuan lalu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi butir-butir peluru.

***

Lebih tiga minggu Ridwan rutin menyambangi kebun mangga. Ia selalu berangkat pagi dengan membawa senapan angin dan bertingkah seperti seorang serdadu yang hendak menuju medan perang.

Kini orang-orang tidak lagi kebingungan melihat tingkah Ridwan. Tatapan bingung orang-orang telah digantikan sorot mata bangga.

"Ia akan menjadi penjaga yang tangguh," bisik orang-orang jika melihat Ridwan.

Bagi Ridwan, kebun mangga sudah menjadi tempat latihan menembak. Di sana ia berlatih menggunakan senapan angin peninggalan ayahnya. Ia belajar menajamkan pandangan, menenangkan urat-urat, membuat peka telinga dan tubuhnya.

Tiap tangkai buah mangga yang hampir matang atau mangga matang yang ia lihat, sudah tak ubahnya titik hitam di sebidang sasaran tembak. Ia terus mengasah kemampuannya dengan kesabaran dan keyakinan seorang pertapa agung.

Ia berlatih sedari pagi sampai siang saat ibunya datang membawa makanan sekaligus memetik mangga. Jika sudah menyelesaikan pekerjaannya, ibu Ridwan akan pergi membawa alat-alat makan juga buah-buah mangga yang akan dijual ke pengepul. Sementara Ridwan melanjutkan latihannya sampai menjelang malam.

Pada hari pertama hingga hari keempat Ridwan berlatih, tak satu pun buah mangga berhasil ia jatuhkan. Baru pada hari kelima ia mulai berhasil menjatuhkan buah mangga. Saat itu ia berteriak hingga mengejutkan beberapa orang yang melintas di jalan di samping kebun.

"Kena!" ucap Ridwan sambil menunjukkan buah mangga yang berhasil ia jatuhkan kepada seorang warga.

"Kebetulan," balas orang itu sembari memegangi pagar kebun. "Coba jatuhkan tiga mangga lagi."

Ridwan bergegas mendekati kursi kayu, mengisi senapannya, memompanya lalu melangkah ke tengah kebun dan mulai membidik. Letusan senapan angin terdengar dan satu buah mangga lepas dari tangkainya. Ridwan berteriak girang. Ia berlari mengambil buah mangga dan bergegas menuju pagar.

"Baru satu," kata orang itu.

"Dua," potong Ridwan.

"Yang tadi tak masuk hitungan," balas orang itu. "Aku tak menyaksikan langsung."

Ridwan kembali menyiapkan senapan dan sekali lagi satu buah mangga terjatuh. Namun Ridwan tak memungutnya dan tak pula membawanya kepada orang yang berdiri di dekat pagar. Ridwan bergegas menyiapkan senapan, menembak lagi, namun tak ada buah mangga yang terjatuh. Tawa kecil terdengar dari arah pagar. Ridwan kembali mengisi senapan dan segera menambak, namun sekali lagi tidak ada mangga yang jatuh. Tawa kecil terdengar lagi dari arah pagar.

Saat Ridwan kembali menyiapkan senapan, orang yang berdiri di dekat pagar itu mulai melangkah pergi. Namun orang itu berhenti dan berbalik saat terdengar suara tembakan. Ia menatap Ridwan sejenak sebelum tertawa dengan suara lebih keras dari dua tawa sebelumnya.

Hari itu, mangga ketiga baru jatuh saat sore sudah cukup dalam. Untung orang itu sudah pergi, kalau tidak, aku lempari ia dengan tiga mangga ini, Ridwan membatin.

Setelah hari itu tembakan Ridwan semakin baik. Dari tiap lima tembakannya, satu tembakan menemui sasaran. Dan beberapa hari kemudian, dalam empat tembakan satu mengenai sasaran dan seterusnya hingga pada minggu ketiga setiap tembakannya sudah berhasil menjatuhkan satu buah mangga.

Tersebab rajinnya Ridwan berlatih, tersebab semakin hebat ia menembak, orang-orang mulai tertarik melihat Ridwan berlatih. Mereka melihat dengan kagum, tak jarang mereka bertepuk tangan setiap satu buah mangga terlepas dari tangkainya.

***

Ridwan telah mahir menembak. Seluruh orang kampung sudah mengetahui hal itu. Bahkan beberapa orang dari kampung tetangga turut pula menjadi saksi kehebatannya.

Hanya saja muncul persoalan. Tidak semua buah mangga sudah siap dipetik dan bisa ditembak. Namun Ridwan seperti tidak peduli apakah mangga yang ia bidik sudah hendak matang atau matang. Ia menembaki semua mangga yang ia lihat dan mulai membuat ibunya kesal. Sampai akhirnya Ridwan dilarang berlatih menembak di kebun. Ibunya membeli gembok untuk gerbang kebun dan menyimpan kunci di tempat yang hanya ia dan Tuhan yang tahu.

Ridwan kesal pada ibunya, namun ia tak berani menunjukkan kekesalannya. Ibu yang memintaku belajar menembak, Ibu pula yang memintaku berhenti, begitu Ridwan kerap berkata pada dirinya.

Meski begitu ia sadar telah bersalah karena menembaki mangga yang masih muda. Namun ia merasa harus melakukan itu, ia yakin kemampuannya akan menurun jika ia tak tetap mengasahnya. Tapi ia sudah tidak punya sasaran. Mangga-mangga yang siap petik sudah habis ia tembaki, sementara jika harus menunggu hingga ada mangga yang siap petik, ia akan melewatkan hari-hari tanpa berlatih.

"Kamu sudah tidak perlu berlatih," kata ibunya.

"Semua orang sudah tahu kemampuanmu, kalau sekarang ada yang berani datang mencuri ayam-ayam kita lagi, itu sama artinya dia datang menyerahkan biji mata."

***

Malam itu Ridwan berbaring di dekat jendela seperti pada malam sebelum ia mulai berlatih menembak. Sesekali Ridwan mengelus senapan yang tergeletak di sisinya. Ia membayangkan maling yang sudah mengambil ayamnya akan datang lagi dan ia menembaki mata mereka. Bayangan itu membuat Ridwan gembira dan membuatnya tak bisa terlelap.

Ridwan terus menunggu, namun apa yang ia tunggu tak juga datang. Hingga pagi sudah sangat dekat ia tak mendapatkan apapun selain kegembiraan atas apa yang ia bayangkan. Dan sampai berhari-hari kemudian, maling-maling itu tak juga datang.

Saat ayam-ayamnya mulai berkokok, Ridwan bangkit dan melangkah menuju ke kandang. Ia memeriksa jumlah ayamnya kemudian melangkah lesu menuju rumah. "Masih utuh," begitu biasanya Ridwan menjawab ibunya yang menanyakan jumlah ayam mereka.

Setelah sarapan Ridwan akan menuju kamar, tidur sampai siang cukup dekat kemudian bangun menyusul ibunya ke ladang. Jika tidak, ia pergi ke kebun mangga membantu ibunya menembak mangga yang matang dan hampir matang. Tapi kegembiraan menembak sudah tidak seperti saat ia masih berlatih menembak. Satu-satunya kegembiraan hanya ia dapatkan dengan membayangkan dirinya menembaki mata maling-maling ayam. Karena itu Ridwan kerap terlihat lesu. Tanpa gairah. Tanpa semangat prajurit yang hendak bertempur. Segala yang ia kerjakan tampak seperti sesuatu yang tak ingin ia kerjakan. Seperti pagi itu saat ia memberi makan ayam-ayamnya dengan kelesuan yang tiada bandingannya.

Setelah memberi makan ayam-ayamnya, Ridwan menatap ke langit. Ia membayangkan melihat tubuh-tubuh maling yang telah mencuri empat ekor ayamnya. Ia membayangkan maling-maling itu datang lagi dan dirinya bersembunyi di dekat jendela, menyiapkan senapan, lalu menembaki mata mereka.

Ridwan tersenyum. Menarik napas panjang, kemudian meninggalkan kandang ayam untuk membantu ibunya di ladang. "Seharusnya maling-maling itu tahu aku belum pernah berlatih menembak dalam gelap," gerutu Ridwan.

Mataram-Jakarta 2017

Budi Afandi lahir di Dusun Bilatepung, Desa Beleka, Lombok Barat-NTB, 20 Juni 1983. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya-Malang. Menulis novel, cerpen, dan puisi.Cerpennya terhimpun dalam Badja Matya Mantra (2013) dan Kebaikan Istri (2017). Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed