DetikHot

art

Kecubung Merah

Sabtu, 10 Mar 2018 12:14 WIB  ·   Khoimatun Nikmah - detikHOT
Kecubung Merah Ilustrasi: Denny Pratama/detikcom
Jakarta - Pohon kecubung merah di dekat sumur itu kembali bersemi, semenjak hujan pertama turun tahun ini. Daun-daunnya menghijau. Yang paling mengagumkan, tak selang lama bunga kecubung merah mulai menguncup. Butuh tak lebih dari dua pekan untuk bunga kecubung merah mekar menyemarakkan pekarangan, seperti kesumba yang tertuang dalam adonan jajanan. Dan, pada saatnya nanti di balik kemegahan warna kelopaknya tersimpan sedompol racun. Kewaspadaan perlu dipertajam. Racun bunga kecubung merah tidak bisa disepelekan. Bukan hanya mampu membuat sapi atau kambing keliyengan jumpalitan bila tanpa sengaja tercampur damen atau tebon, dalam porsi tertentu racun kecubung merah itu mematikan.

Padma hampir kehilangan nyawa karena tumbukan bunga kecubung merah itu. Bibirnya berbuih, retina matanya memutih, dan Padma kehilangan kesadaran. Di dekat sumur itu, Padma ditemukan tergeletak bersama seember cucian yang belum sempat dijemur. Gelas kaca yang pecah di sekitar tubuh Padma berwarna merah. Aroma langu menyengat dari sisa-sisa cairan yang masih menempel terendus kuat sebagai racun kecubung merah.

Orang-orang yang menemukannya seketika menjerit. Semua mata mengandung iba. Bagaimana bisa, Padma gadis yang sudah lama lepas akil balig itu tak mengetahui betapa beracunnya bunga kecubung merah. Atau, memang Padma tak menerima pengajaran tentang apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan, karena sudah sejak usia lima tahun Padma menjadi yatim piatu. Ibunya mati karena cikunguya, dan bapak Padma merantau ke Malaysia tak jelas kabarnya.

Padma digotong ke dalam rumah. Direbahkan di atas ambin yang begitu dingin. Beberapa orang mengoleskan minyak kayu putih di dekat hidung dan pelipis Padma untuk memancing kesadaran. Yang lain mulai mencari air kelapa hijau untuk mengusir racun dari tubuh Padma. Padma tak boleh terlalu lama di luar alam sadar.

Air kelapa hijau dituang dalam gelas dicampur madu dan dua butir kuning telur. Ramuan itu diaduk rata dan pelan-pelan didulang ke mulut Padma. Tubuh Padma ditumpukan pada paha orang dewasa. Lehernnya ditegakkan agar laju ramuan lancar menuju perut Padma. Kegusaran bercampur rintik tangis kecil-kecil memenuhi ruangan tengah rumah Padma.

Tetapi, sebelum kesadaran Padma kembali ke permukaan, orang-orang terutama para ibu yang mengelilingi tubuh Padma merasakan ada cairan kental yang mengenang di selangkangan Padma. Mata orang saling menatap penuh keraguan. Apakah sekarang waktu Padma kedatangan tamu bulanan? Atau, ada sesuatu yang terjadi hingga darah itu menggenangi area keperempuanan Padma?

"Semua lelaki keluar!" perintah Karmi, bibi Padma yang menerima tanggung jawab menjaga Padma sehari-hari.

Tanpa ingin tahu lebih jauh, beberapa lelaki yang terdiri dari Wardi suami Karmi, Pak RT, dan beberapa lelaki lain mendusal-dusal menuju pintu keluar, sambil bergumam apa yang sedang terjadi terhadap diri Padma. Gadis itu terlalu muda untuk memahami kekejaman dunia, terlampau lugu untuk tahu hidup tak melulu mulus.

Mendadak Karmi histeris menangis, setelah menyingkap rok Padma. Cairah merah itu menetes, seperti kran air yang belum sempurna tertutup. Dia tahu darah itu bukan sekadar darah bulanan perempuan. Darah lara yang menancapkan bisa beracun. Bila yang tumbuh di pikiran Karmi benar adanya, Padma bukan hanya akan mati karena racun kecubung merah, tetapi juga dosa yang menggelayuti tubuh mudanya.

Karmi tak bisa berbuat apa-apa, karena hingga seminggu Padma belum pulih benar kesadarannya. Sesekali Padma membuka mata, tapi tak seberapa lama, Padma kembali terpuruk dalam alamnya. Sepertinya racun kecubung merah benar-benar telah merusak kesadaran Padma.

***

"Kita harus mencari bajingan yang begitu tega menancapkan racun kecubung merah ke tubuh Padma," Karmi bersungut-sungut.

"Hanya Padma yang tahu tangan siapa yang menyuguhkan tumbukkan racun itu," jawab Wardi.

Keduanya memiliki tanggung jawab penuh atas keselamatan Padma. Termasuk harta warisan - berupa tanah sawah, tegalan, dan sebuah rumah- yang dititipkan kepada Karmi dan Wardi, sampai Padma benar-benar mumayiz, paham baik buruk dalam mempergunakan harta.

"Sampai kapan kita menunggu Padma benar-benar sadar?" kalimat Karmi diiringi derai air mata. Matanya tak kuasa membendung kepedihan yang diderita Padma. Karmi membayangkan anak gadisnya, yang sekarang masih bermain di taman kanak-kanak, tergeletak pingsan dengan racun kecubung merah hampir membunuhnya.

"Kata Mbah Mantri mungkin seminggu lagi, Padma akan sadar."

"Aku geregetan," Karmi berdiri. "Apa kita perlu lapor polisi?" usul Karmi.

"Bila Padma sadar dulu. Kita akan tahu siapa lelaki bengis itu. Sudah kuasah parang agar dendam ini tuntas terbayar."

Padma masih tergeletak lemas di ambin. Kelopak matanya selayu bunga tanjung gugur diguyur hujan. Tangannya menjuntai, tak kuasa menumpu di lipatan kemul. Tubuhnya tak lagi sesegar Padma yang dulu.

"Cah ayu, cepatlah kamu sadar. Bulikmu ini butuh ceritamu, biar bisa menghajar siapa yang merusakmu, siang itu!"

Karmi mengelus kening Padma. Lampu ruang tengah telah bersinar terang. Silaunya tak juga mengganggu Padma. Karmi masih saja tak kuasa menanggung dentuman lara di dada.

Bunga kecubung merah di dekat sumur sudah mekar sempurna. Beberapa rebah ke tanah. Merah ranum menarik banyak serangga untuk sekadar hinggap melepas lelah, atau sesekali menyesap nektar dalam mahkota bunga. Tapi warna cerah itu justru menjadi pengapesan bagi banyak makhluk.

Sebagai sesama wanita, Karim mengerti ada yang tidak beres. Racun bunga kecubung merah bukan hanya ditenggak oleh Padma. Tetapi ada tangan-tangan lelaki beraroma iblis yang memaksa Padma berbuat seperti perempuan dewasa. Bunga kecubung merah kasar pasti telah mengoyak pangkal paha Padma, hingga darah segar mengalir saat Padma ditemukan pingsan. Mungkinkah ini hanya rentetan kejadian untuk menutupi sebuah peristiwa besar?

***

"Kenapa, Padma?"

"Timbaku jatuh. Cucianku belum selesai."

"Cah cilik jangan mendekati mulut sumur. Kalau terjatuh, mati nanti. Biar aku yang mengerek air."

Tangan lelaki dewasa itu mampu menggapai ujung tali timba. Padma mengalihkan pandangan ke semarak merah bunga kecubung. Padma memeras-meras cucian.

"Padma, kamu suka bunga kecubung merah?"

Padma mengangguk. Leher yang basah menguarkan aroma segar. Seperti reremputan usai tersiram hujan.

"Sekuntum bunga kecubung merah. Untukmu."

Lagi-lagi Padma hanya menganggukkan leher tanda iya sambil meraih kuntum kecubung merah. Saat lelaki itu hendak meraih ember, Padma menggeleng. Tangannya mencoba mengangkat ember berisi pakaian usai diperas. Padma tampak kebingungan mencari tempat menyimpan bunga kecubung merah itu. Padma menyimpan bunga kecubung merah itu di dalam mulut, menggamitnya dengan dua belah bibir mungilnya. Sedangkan tangannya berusaha menjaga agar ember berisi pakaian bersih usai dicucui tidak tergelincir dan jatuh. Betapa bodoh dan sia-sia bila Padma harus kembali mengulang mencuci, dan bagi anak sekecil dia menimba air dari sumur adalah bahaya.

"Jangan dimakan."

Padma melongo.

"Kusimpan di saku rokmu ya?"

Padma mengangguk.

***

Seperti benih padi yang tersendal dari ladonan sawah, kesadaran Padma timbul. Mata Padma bulat penuh. Suara Padma serak, seperti ingin berteriak namun sesak oleh udara.

"Tenang, Padma. Bulik Karmi ada di sini," Karmi mengusap peluh di kening Padma. Air matanya tak kuasa dibendung saking bahagianya.

Karmi menegakkan posisi duduk Padma. Lantas menyodorkan segelas air putih untuk membasahi kerongkongan Padma. Karmi mendekap hangat keponakannya. Sayangnya , cintanya berlimpah.

"Bulik, apa kecubung merah di dekat sumur masih berbunga?" Padma bertanya sesuatu yang mengejutkan Karmi.

"Bunga kecubung merah itu semakin berbunga banyak."

Padma menunduk.

"Ada sesuatu yang ingin Padma ceritakan ke Bulik Karmi?"

Hampir saja Padma membuka mulut dan menceritakan lengkap segala yang dialaminya. Tapi, di saat itu pula, seorang lelaki berhidung pesek, kulit sawo matang, rambut kaku, mulut hitam ditimbuni nikotin, masuk ke rumah Padma membawa beberapa kelopak bunga kecubung merah. Mendadak kepala Padma dirambati aroma langu memabukkan dari racun bunga kecubung merah.


Keterangan:
Keliyengan: kepala pusing
Damen: batang padi untuk pakan ternak
Tebon: batang jagung untuk pakan ternak

Khoimatun Nikmah menulis cerpen, esai, dan ulasan buku. Masih berstatus mahasiswa di Universitas Semarang

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed