DetikHot

Cerita Pendek

Salem, Orang Gila, dan Ayah

Sabtu, 03 Mar 2018 10:06 WIB  ·   Niken Kinanti - detikHOT
Salem, Orang Gila, dan Ayah Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - Ia mencoba mengingat kejadian-kejadian yang telah ia lewati bersama dengan kucing hitamnya. Ia masih ingat kedatangan kucing itu ke rumahnya. Ayahnya, yang sering melukis di ruangan rumah paling selatan, menemukan kucing kecil itu di dekat semak-semak dan rerimbun tebu. Ayahnya memungut kucing yang kedinginan pagi itu, lalu memandikannya.

"Mengapa disabun?" tanyanya polos. Saat itu ia masih kecil dan belum bersekolah.

"Agar bersih dan wangi, dan bebas dari kuman," ujar ayahnya lalu menyuruhnya mengguyurkan air ke tubuh kucing.

"Ayah, tapi ia tak suka. Lihat, ia menggeliat."

"Ya, memang seperti itu. Tapi mandi bagus buat kucing, bukan?"

Ia mengangguk pelan, melihat ayahnya membilas sabun di tubuh kucing hitamnya sekali lagi.

"Mau kau namai siapa kucing ini?" tanya ayahnya setelah selesai mengeringkan tubuh kucingnya.

"Aku tak tahu nama yang cocok," katanya membelai telinga kucingnya.

"Sepertinya kucing ini begitu kalem. Baiklah, mungkin Salem nama yang cocok," ujar ayahnya.

"Jelek sekali nama itu." Ia mengernyitkan dahi.

"Kau punya usulan?" tanya ayahnya.

"Aku belum punya. Kalau aku sudah sekolah, mungkin aku bisa menamai kucing ini. Aku kan belum bisa membaca, Yah," katanya riang.

"Nah, untuk sementara, panggil dia Salem. Kalau kau sendirian, kau bisa mengajaknya jalan-jalan."

"Dia makan apa?" tanyanya.

"Berbagilah makanan apa saja dengan Salem. Kalau dia tak suka, dia tak akan memakannya."

"Mungkin ia bisa mencoba permenku. Masih ada sisa dua." Ia menyobek bungkus permen lalu mendekatkannya pada lidah Salem.

Salem menjulurkan lidahnya lemas.

"Ia tak mau makan," ujarnya memprotes kepada ayahnya.

"Ia tak makan permen," kata Ayahnya.

Ia masih bisa mengingat dengan jelas percakapan-percakapan dengan ayahnya dan Salem. Semua terekam dengan baik di otaknya sampai sekarang. Kenangannya dengan Salem dan ayahnya adalah kenangan yang manis. Ia senang ketika ayahnya mengizinkannya memelihara Salem, yang sering menemani tidurnya di malam hari. Ayahnya sendiri, lebih banyak menghabiskan waktunya menekuni lukisan-lukisan pesanan pelanggannya.

Kalau ayahnya tak sempat mendongengkan cerita dari buku-buku bergambar, ia yang mengambil buku-buku bergambar lalu mendongengi Salem dengan kata-katanya sendiri. Saat itu, ia belum bisa membaca buku. Ia melihat gambar-gambar dari bukunya lalu membuat cerita sendiri sesuai versinya. Salem ia paksa duduk di dekatnya, denga pita bergaris yang ia kalungkan di leher Salem. Meski Salem menolak pita-pita yang ia kalungkan, tapi ia selalu punya cara untuk membuat kucingnya diam dan menurutinya.

Kalau ayahnya sedang berbaik hati, ia diperbolehkan membantu memulas warna di lukisan ayahnya. Kadang ia memiliki tugas untuk memulas warna kuning pada pepohonan, kadang pula warna coklat di langit senja. Beberapa lukisan yang dipesankan kepada ayahnya adalah lukisan bergambar burung, pepohonan, dan pantai. Ayahnya lebih banyak melukis gambar-gambar yang mudah ia pahami seperti daun, burung pohon, tanah, rumah, dan lainnya.

Kalau ayahnya sedang tak berbaik hati, maka ruangan paling selatan rumahnya akan terbuka sedikit sekali. Ia hanya bisa mengintip dari luar, sembari memeluk Salem. Itu artinya, ayahnya sedang tak ada kerja, dan hanya terpekur di ruang itu melihat ke luar jendela. Ia tak akan berkata apa-apa ketika ayahnya seperti itu. Ia akan mengelus Salem dari luar ruangan ayahnya. Kalau sudah bosan, ia akan mencorat -coret tanah pekarangan belakang rumahnya dengan ranting pohon.

Rumah yang ia tempati adalah rumah di tengah sawah, dengan tetangga yang terdiri dari pasangan keluarga perawat yang belum memiliki anak dan satu orang tetangga yang menjadi guru dengan tiga anaknya. Terkadang ia bermain dengan anak bungsu tetangganya. Tapi suatu kali, ayahnya menyuruhnya menjauhinya ketika ia pulang dengan badan berbintil berisi cairan.

"Makanya jangan main sama dia," ucap ayahnya marah.

"Aku hanya menengoknya," katanya membela diri.

Ayahnya mengoleskan salep ke tubuhnya, lalu mengipasinya dengan buku tipis. Salem tidur di antara mereka berdua.

"Aku tak punya teman," katanya pelan.

"Nanti kalau sudah besar dan kau sudah masuk sekolah, kau akan punya banyak teman."

"Betulkah?" tanyanya berbinar.

"Iya." Ayahnya menjawab pelan. "Kau tak ingin pindah dari rumah ini?"

"Aku tak mau pindah. Aku suka di sini," katanya.

Salem menjilati kakinya, lalu ia memposisikan Salem di dekat dadanya. "Ayah mau pindah dari sini?" tanyanya.

"Mungkin," kata ayahnya pendek.

Hari-hari selanjutnya ia lebih sering menahan lapar, karena terkadang ayahnya tak memasakkan nasi untuknya. Ia lebih sering memakan ketela rebus atau jagung rebus. Ia tak menanyakan lebih lanjut mengenai apa yang terjadi. Ia hanya disuruh berhemat dan tak boleh jajan banyak-banyak. Ia menuruti permintaan ayahnya dengan menghemat uang jajan pemberian ayahnya. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk memulas buku bergambarnya. Sesekali ia dikomentari oleh ayahnya karena memulas langit dengan warna merah, atau memulas pisau dengan warna hitam. Tapi ayahnya lebih banyak menyendiri di ruangan kerjanya.

Salem semakin hari bertambah kurus, begitu pula ia dan ayahnya. Pesanan untuk melukis semakin sepi sejak harga kebutuhan pokok naik secara drastis. Ia sendiri sudah jarang makan di luar, dan lebih banyak makan apa saja yang ayahnya masakkan untuknya. Meskipun terasa kurang asin atau kurang manis, tapi ia makan dengan lahap, tak pernah mencerca masakan ayahnya.

Pernah di masa yang sulit itu seorang gila menempati teras mereka di suatu pagi dan sempat tinggal di sana berhari-hari. Ia dan ayahnya memergoki orang gila tersebut beralaskan daun pisang dan baju compang camping serta rambut yang acak-acakan. Ia melihat ayahnya memberikan makan kepada orang gila tersebut, seperti apa yang ia, ayahnya dan Salem makan saat itu. Orang gila yang duduk di depan teras mereka tidak pernah diusir, pun juga tidak dipersilakan oleh ayahnya untuk masuk rumah. Dengan kehadiran orang gila tersebut, muncul lagi orang-orang yang berkunjung ke rumahnya. Mereka berbondong-bondong datang ke rumahnya untuk menanyakan perihal apa saja kepada orang gila.

Ia mengamati dari jendela kamarnya, beberapa orang menanyai orang gila tersebut mengenai peruntungan mereka, nomor togel yang akan keluar esoknya, atau menanyakan mengenai hari baik untuk melamar kerja. Orang gila jarang berbicara, lebih banyak mendehem dan menggerutu dengan kalimat tak jelas dan lamat-lamat.

"Besok nomor yang keluar berapa?" tanya seseorang di suatu malam.

"Mungkin besok yang keluar angka tiga, buktinya dia mengangguk tiga kali."

"Ah, bukan tiga. Salah kau. Dia pasti bilang dua, karena tadi tangannya melambai dua kali."

"Kau yakin?"

"Ya, aku yakin sekali. Aku besok pasang nomor itu."

"Aku masih ragu. Aku akan menunggu. Kurasa ia akan memberikan petunjuk lain."

"Hati-hati, sebentar lagi jam malam. Kau bisa saja dikira preman dan ditembak ditempat kalau keluyuran."

"Ya, aku mengerti."

Beberapa peristiwa itu lalu lalang di otaknya, sampai sekarang. Orang gila yang duduk di depan terasnya pergi di suatu malam tanpa ia tahu ke mana. Bersamaan dengan itu, orang-orang yang datang dan menanyai orang gila pun berangsur-angsur tak tampak batang hidungnya. Mereka tak pernah terlihat di sekitar rumahnya lagi.

Selepas orang gila pergi, ia membantu ayahnya yang membersihkan kotoran dan sisa-sisa daun yang tertinggal di teras rumah. Ia membawakan sapu dan beberapa ember yang ia ambil bolak balik dari kamar mandi. Ia mendengar cibiran tetangganya yang terganggu dengan kehadiran orang gila di rumahnya. Sedangkan ayahnya menanggapi dengan santai.

"Kau tak boleh mengusir mereka," kata ayahnya. "Siapapun yang datang ke rumah kita."

Ia mengangguk meski tak begitu paham artinya. Ia pun menyuruh Salem mengangguk dengan cara menekan kepalanya cepat-cepat. Salem pun menjilati kakinya.

Tak lama setelah beberapa peristiwa datang dan pergi, pada suatu pagi dengan hujan deras, ayahnya yang semakin kurus berjalan terhuyung ke sawah. Ia yang baru saja bangun, melihat ayahnya di tengah sawah dari jendela kamarnya. Ia lalu berlari mengejar ayahnya yang terlihat menggelepar tersambar oleh petir. Ia panik dan meminta pertolongan sebisanya, berteriak keras-keras.

Ia menangis sejadi-jadinya karena ayahnya tidak berkata apa-apa. Salem ada di sebelahnya, di kubangan lumpur dan berputar-putar kecil. Salem kemudian melompati tubuh ayahnya. Salem melompat sekali ke kanan tubuh ayahnya, sekali ke kiri tubuh ayahnya, lalu kembali lagi ke kanan tubuh ayahnya. Bau lumpur menyeruak di antara baju dan tubuhnya. Ia melolong keras agar ada yang membantunya. Ia tak melihat Salem lagi saat orang-orang membawa ayahnya ke rumah sakit. Salem hilang, tepat di hari nahas ayahnya yang tersambar petir. Setelah peristiwa itu, ayahnya sering ditanyai banyak orang mengenai peruntungan dan hari baik, karena dianggap sebagai orang yang lolos dari maut.

Untuk Salem yang hilang dan tak pernah ditemukan (1998)

Niken Kinanti kelahiran Pati, 5 Januari 1990. Berdomisili di Kopo Soreang, Katapang-Bandung. Pernah memenangkan lomba penulisan puisi WA Award, lomba musikalisasi puisi 30 Tahun Semesta Mizan, lomba puisi bertajuk Palestina FAM Indonesia, dan lomba puisi Ramadan Majelis Sastra Bandung

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

FOKUS BERITA:Cerpen detikHOT
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed