DetikHot

art

Untuk Siapa Pohon Berdoa?

Sabtu, 27 Jan 2018 12:06 WIB  ·   Umar Affiq - detikHOT
Untuk Siapa Pohon Berdoa? Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Kita keluar gedung, menuju taman di seberang jalan dan duduk di basemen yang dibentuk menyerupa sebatang pohon saat langit telah berubah warna. Mengapa langit senang merubah warnanya, semantara kenangan tak bisa berubah warna?1

Tiba-tiba kau teringat tentang sebatang pohon yang kutanam diam-diam di depan jendela kamarmu. "Masihkah kau ingat tentang pohon doa?"

Aku mengangguk. Kita tersenyum dengan pandangan yang bertepukan.

Duatiga mobil melintasi jalan, pandangan, dan pikiran. Pikiran kita seolah berpindah. Ke suatu tempat. Ke suatu waktu. Saat kau bertanya,

"Pohon apa ini?"

"Pohon aku."

Wajahmu heran. Sepertiganya tak percaya.

"Kau bisa juga menyebutnya pohon doa."

"Pohon doa? Bisakah pohon-pohon berdoa?"

Aku mengangguk. Liang tempat kaki pohon itu tertanam telah tertutup gunduk.

"Semua pohon selalu berdoa. Aku juga selalu berdoa seperti pohon, untuk engkau."2

"Gombal."

Lalu kita tertawa. Sementara pertanyaanmu menyuruhku kembara, membuatku teringat pada banyak hal dan banyak pohon. Pohon kelapa gading di depan rumahmu, kamu pernah menceritakan ini padaku dulu, mengantarmu masuk ke dunia seberang, dunia para hantu. Kau pernah sekali hilang dibawa lelaki yang katamu adalah Paklikmu, tapi bukan. Ialah tuan dari kelapa gading itu, genderuwo yang juga pernah menjelma bapakmu.

Kau bercerita, bapak palsu itu meniduri ibumu dan lahirlah si bungsu yang buruk rupa. Konflik dalam drama televisi memenuhi rumahmu. Peperangan terjadi, antara bapak dan ibumu. Namun kau mencoba menutup telinga untuk mereka. Kepadaku kau tak bercerita bagaimana rincinya sesosok genderuwo bisa jatuh cinta pada tubuh ibumu, pun sebaliknya. Ibumu mencintai tubuh genderuwo yang menjelma bapakmu. Mereka bercinta dan lahirlah si bungsu yang buruk rupa.

Haruskah aku menjadi genderuwo dan menjelma suamimu?

Si bungsu itu akhirnya dipeluk maut, sebulan setelah pupakan. Ibumu menangis bak dirajam. Bapakmu memilih menyirami luka dadanya dengan cuka duka dengan berupa-rupa menolak berkata-kata. Pun lelaki yang tinggal di kelapa gading, berduka sepanjang malam. Mengapa kaum lelaki lebih memilih menyimpan dukanya dalam diam, dan memasrahkan diri kepada rasa sakit saat malam menyupit?

Satu-satunya aku, lelaki yang tak bisa berbuka dari duka, sepanjang malam. Tapi tak akan kubiarkan kau tahu sedalam apa aku gali liang duka untuk mengubur diri sendiri.

"Hei, jangan bengong."

Aku menggeleng. Juga aku, teringat pada pohon kawis di halaman rumah yang sering menjatuhkan buah. Genteng rumahku sering pecah dibuatnya, sebelum akhirnya bapak menebangnya. Selain aku, ibu, satu-satunya yang menolak keputusan bapak menebang pohon kawis itu. Di kemudian hari ibu bercerita tentang si pohon kawis: ia satu-satunya kenang-kenangan dari mantan kekasih ibu. Ibu merahasiakan itu dari bapak yang juga suka sekali makan buah kawis. Bapak tak tahu, setiap suap pohon kawis adalah sesuap suap-menyuap kenangan dari mantan kekasih ibu.

Pernah beberapa kali aku membawa kawis untukmu. Kau bilang, di kotaku pohon kawis tak bisa tumbuh. Maka aku membawa untuk mendiang ibumu yang dulu sangat suka sekali buah ini. Sekarang pohon itu sudah tak lagi ada dan kita mulai jarang bertemu. Sibuk, alasan kita klise dan sama.

Pohon aku, atau pohon doa juga mengingatkanku pada kamboja ibumu. Pohon kamboja di atas makam ibumu, kita yang membelinya dari toko tanaman hias di jalan menuju pasar yang sekarang kiosnya terkena pelebaran jalan. Tanpa sepengetahuan bapakmu kita diam-diam menanamnya, tepat sebelum malam peringatan seratus hari ibumu, empat tahun lalu. Apakah kau masih ziarah ke makamnya? Aku bisa memastikan, Tidak. Karena kau perempuan. Dan perempuan, kata bapakmu, tak perlu ke makam.

"Ada satu pertanyaan yang hampir selalu lupa kutanyakan padamu." Kalimatmu merebut pandanganku dari kuning daun yang jatuh di telapak tangan.

"Siapakah yang mengajari pohon-pohon berdoa?"

Hahaha. Aku tertawa.

Ini sama halnya menanyakan siapa yang menyuruhmu menjadi manusia(?). "Semua pohon terlahir hanya dan hanya untuk selalu berdoa. Kemampuan berdoa, barangkali adalah bawaan mereka dari lahir. Pohon-pohon tak butuh guru les berdoa. Mereka lahir dan langsung bisa berdoa."

Sebuah motor yang dikendarai seorang lelaki melintas. Di jok belakang, seorang perempuan membonceng dan menggelangkan lengannya pada tubuh si lelaki, barangkali perempuan itu kekasihnya, atau perempuan simpanannya.Dan kau tiba-tiba memasrahkan kepalamu pada bahu kiriku. Kita hendak bertukar gelang pelukan, tapi urung.
Kita tahu, sekarang kita bukan siapa-siapa, atau siapa anu-nya siapa sekarang.

"Apa kau tahu mereka berdoa untuk apa atau siapa?"

Ini pertanyaan sulit. Sama sulitnya dengan pertanyaan: apa yang dibicarakan oleh para batu di gunung, kerikil di sungai atau pasir di laut? Atau pertanyaan, sebelum kau lahir sebagai manusia pernahkah kau berpikir bagaimana rasanya menjadi manusia?

"Mereka berdoa untuk…."

Kau memindahkan ujung jilbabmu ke bahu. Aku kembali teringat pohon di depan jendela kamarmu. Aku berusaha mencipta diriku di kepala sebagai sebatang pohon. Pohon yang selalu berdoa, untuk engkau. Tubuhku adalah pokok pohon, lengan-lenganku penuh gurat menjelma batang dan jemariku menjadi lancip duri adalah kuncup yang rawan. Di kepala dan dahan-dahanku daun merimbun hingga seekor burung Trucukan membuat sarang, memberi makan anak-anaknya yang baru berbulu jarum.

Barangkali di sekumpulan daun ada rumah semut krangkang menyimpan butir-butir kroto di dalamnya. Pada ketiakku ada tokek hitam tidur setiap siang. Pada pusarku, bisa jadi, seekor pelatuk setiap hari mematuki rayap-rayap yang dari balik terowongan tegaknya ingin mencapai puncak aku. Sesekali seorang pencari telur kroto berdiri di bawah rimbun daunku, atau seorang pemburu tokek hitam untuk dijual ke dukun sebagai jimat penggendam. Singkatnya, aku pohon yang menguntungkan banyak orang. Aku pohon yang setiap hari berdoa untukmu yang bahkan tak pernah bertanya, pohon apakah aku?

"Apakah pohon-pohon berhenti berdoa saat telah ditebang?" kau seolah tak sabar, seolah jawabanku atas tanya sebelumnya sama sekali tidak kau butuhkan.

"Apakah manusia-manusia kehilangan kemanusiaannya setelah mereka meninggal?"

"Tidak."

Kau menggeleng. Aku menebak, kau teringat makam wali di dekat makam ibumu yang meski telah ratusan tahun terkubur tak pernah kehilangan kemanusiaannya. Mereka memberi makan banyak pedagang, pengemis dan para peminta-minta di jalan sempit menuju makam. Mereka dikebumikan untuk membumi, menjadi bumi dan lebih dekat dengan penduduk bumi.

Aku membayangkan lelakimu datang membawa parang dan olehnya tubuhku ditebangtumbangkan. Barangkali, jika aku tinggal di hutan, aku ditebang untuk dibawa ke pabrik pengolahan kertas. Aku tetap akan selalu berdoa, untuk engkau. Meski tubuhku menjadi serbuk kecil yang bahkan tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Tubuhku lalu menjadi lembaran-lembaran tipis. Kertas-kertas itu diantar ke percetakan dan menjelma menjadi buku-buku yang masih-selalu-berdoa. Berdoa: akulah buku yang engkau baca.

Atau, aku menjadi lembaran-lembaran surat yang tak terbalaskan. Atau surat dari seorang lelaki untuk perempuannya yang jauh di seberang dan secara diam-diam dikuak oleh tukang pos, dibaca dan dicuri keperawanan kata-katanya di kaki pohon sambil penuh tawa. Manusia memang memiliki kecenderungan menertawakan manusia lain secara diam-diam. Aku yang telah berupa surat tak perawan masih-selalu-berdoa. Berdoa: semoga aku bukan surat yang sia-sia kau baca karena terlambat tiba.

"Surat yang kautulis untukku tiba sewindu dari angka surat itu dituliskan." Engkau memulai tema baru.

Sekarang, aku sehelai surat yang terlambat tiba. Dalam keadaan ini pun, aku masih-selalu-berdoa: setidaknya aku masih kaubaca meski kemudian diremaslemparkan ke dalam tong pembuangan.

Kita, diam. Kita adalah diam yang dalam.

Aku merasa seperti terjebak di ruang angkasa dan O2 yang kuhirup seakan tak cukup membuatku hidup. Tak baik memang duduk malam-malam di bawah pohon.

"Maaf."

"Tak apa."

"Apa yang sedang kaupikirkan sekarang?"

"Aku baru saja membayangkan diriku sebatang pohon, selembar surat yang terlambat datang atau buku yang dijual murah."

"Kau terlalu imajinatif."

"Bukankah itu bagus?" tentang pertanyaan ini, aku ingat suatu hari di bulan hujan: entah waktu itu siapa yang memulai lebih dulu, kita seakan tiba-tiba terjebak dalam tanya, "Seperti apakah pasangan idamanmu?"

Aku tak menjawab dulu. "Ladies first." kilahku. Dan kau mengaku, "Aku belum tahu jawabnya. Yang pasti, aku tak ingin dipilihkan oleh orangtuaku."

Aku terhenyak. "Kenapa?" Dalam hati seorang bocah kecil tertawa. Lalu kau bercerita panjang tentang misanan*-mu, mindoan**-mu bahkan Bulikmu yang hanya selisih dua tahun lebih tua darimu dan kau bilang dialah kembang kampung—meskipun keluargamu memanglah taman bunga, mereka kini tampak seperti Nyai Durgandini setelah rabi. Padahal mereka baru beranak satu. Bulikku, kau bilang, bahkan belum hamil sekali pun. Kejarmu, "Kau tahu mengapa?"

Aku menggeleng.

"Mereka gerah dengan suami yang tak mereka kenal."

Aku teringat peribahasa tak kenal maka tak sayang—dan membayangkan betapa menderitanya saudari-saudarimu. Tapi, bukankah setiap pernikahan akan merapatkan mereka yang tak kenal, mendamaikan mereka yang bermusuhan sebagaimana diceritakan oleh Pencerita Agung? Lalu, bagaimana mungkin mereka menikah dengan laki-laki yang sama sekali tak mereka kenal?

"Tidak semua pilihan mereka buruk."

"Kau bilang begitu karena kau... Dan bukan..."

Semata aku yang tahu kalimat yang urung kauucapkan.

"Seseorang pernah bilang, jika seseorang tidak dapat menikahi orang yang dicintainya, maka dia harus menikahi siapa pun yang mendatangkan manfaat paling besar baginya.3" aku menyela. Namun kau sama sekali tak peduli ini kata-kata.

"Kau sendiri, seperti apakah pasangan idamanmu?"

"Aku belum bisa menjawabnya."

"Mengapa?"

"Apakah semua tanya harus ada jawabnya?"

Kita lalu berganti tema pembicaraan yang entah apa, dan tak lama setelahnya kita berpisah. Hari itu, aku tahu, hal terbodoh yang dilakukan seorang lelaki sepertiku adalah menyimpan bara perasaan dalam bungkam yang suatu hari menjadi hantu tanya: Apakah semua harus ada pasangannya? Anak kecil dalam diriku saat itu bilang, semua berpasangan, kecuali Tuhan. Selengan lengang, kemudian kita pulang dalam keadaan terbakar. Terbakar api sendirian.

Setelah hari itu, lama kita tak jumpa. Kudengar kabar kau melangsungkan pernikahan dengan Lelaki Sepertimu yang sangat bisa dipastikan adalah pilihan oran tuamu. Beberapa tahun kemudian kau pulang, sepekan lalu. Anakmu tiga sekarang. Kecantikanmu tak berguguran, bahkan tambah cerlang. Oh, apakah ini hanya perasaan seseorang?

Yang kuperkirakan dan kupikirkan sekarang, kau telah menemukan pembenar dari "Tidak semua pilihan mereka buruk." yang pernah kunyatakan.

Hari ini kita bertemu lagi, di sebuah bazar buku habis-habisan karena memang hampir semua buku dijual semurah-murahnya murah. Dalam lamun, barangkali aku adalah sejudul buku paling murah. Tapi aku masih-selalu-berdoa, untuk engkau.

Angin timur kembali berembus. Kuning daun kembali berjatuhan.

"Apa kabar pohon aku sekarang?"

"Pohon itu sudah tinggi-besar sekarang. Anak-anakku suka bermain di bawahnya dan suamiku suka sekali buahnya."

Tuban, 2017

Keterangan:
1. Dikutip dari puisi Di Hadapan Mata Jendela karya M. Aan Mansyur
2. Dari puisi yang sama
* sepupu dalam
** sepupu luar
3. Digubah dari perkataan He Zhiwu kepada Mo Yan, "...jika seseorang tidak dapat menikahi wanita yang dicintainya, maka dia harus menikahi siapapun yang mendatangkan manfaat paling besar baginya," dalam Di Bawah Kibaran Bendera Merah

Umar Affiq lahir di Rembang, 14 Desember 1992. Menulis sejumlah cerpen, puisi, dan resensi yang tersiar di berbagai media dan antologi. Bergiat di Komunitas Sastra Malam Minggu. Alumni Kampus Fiksi #KF16. Tahun 2017 meraih penghargaan sebagai Cerpenis Terbaik Kampus Fiksi Emas lewat cerpen yang juga menjadi judul buku Hari Anjing-Anjing Menghilang (Diva Press, 2017)

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed