DetikHot

art

Koper Berisi Dirimu

Sabtu, 14 Okt 2017 10:58 WIB  ·   Dyah Merta - detikHOT
Koper Berisi Dirimu Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta - Sebuah koper pasti selalu ada pemilik. Aku tidak sedang berkelakar jika kubilang bahwa koper ini berisi dirimu. Bocah cilik seringkali bermain-main dengan memasukkan tubuh mereka ke kardus dan kadang koper. Sudah pasti koper ukuran ini muat untuk mereka. Memasukkanmu ke koper ini? Aku berpikir beberapa hari: memilah dan memilihnya sebelum memutuskan untuk membelinya.

***

Bunyi keriut tulang-tulangnya yang sengaja dipisahkan bak pintu-pintu rusak. Bahkan selepas mati pun prosesi untuknya belum selesai—tanpa upacara dan isak tangis. Ia sudah beberapa hari menghilang, itu saja yang ditahu keluarganya. Mereka melapor ke polisi tapi tak seorang pun aparat mengendus jejaknya. Ia disembunyikan di sebuah kamar di rumah kontrakan yang penghuninya tidak gaul dengan orang di sekitar rumah itu. Tetangga pun nyaris tak peduli.

Maka, nasib nahas yang menimpanya tidak segera menggema, andai saja kondektur bus antarkota itu tidak berteriak-teriak mewartakan, "Koper siapa yang ketinggalan?" penumpang bungkam, wajah-wajah lelah gegas keluar tak peduli. Mesin dimatikan. Suara Didi Kempot menyanyikan Sri Minggat terpotong. Sopir loncat keluar menyulut sebatang kretek. Lalu ia menghilang ke toilet dan muncul lagi di warung. Tidak ada lagi siapa pun di bus. Jengah, kondektur pun akhirnya tak peduli. Wajahnya nongol dengan dengus kesal di samping sopir.

"Nanti juga diambil!" ujar sopir menyeruput kopi panas yang uapnya masih mengepul. Mereka makan lahap.

***

Koper itu berisi dirimu. Iya. Kau dan aku yang hatinya pernah bertaut satu sama lain layaknya semua hubungan sepasang kekasih. Mendadak kau dan cara berpikirmu semakin kusut, susah terurai, susah kupahami. "Kita tidak bisa melanjutkan hubungan seperti ini!" kau mulai cerewet. Aku tidak suka perempuan cerewet.

Aku ingat kapan pertama kali kita bertemu. Kau menyeret kopermu dan aku awalnya cuma menatap sepasang kaki itu—betapa sepatu membuatnya nampak istimewa dalam presisi yang tepat berbanding dengan roda-roda koper yang berderit nyeri menggesek lantai bandara. Betis yang telanjang. Lalu bibir itu. Yang di tengahnya seperti ada lubang kecil dan sebilah tusuk gigi akan persis mengisinya. Bibir yang dibalur oleh lipstik warna dark rose. Bibir yang diam itu begitu indah. Betismu juga. Aku tersihir untuk beberapa detik.

"Sendiri?" kau mengangguk.

Supaya tidak lagi kau sendiri, aku menawarkan diri menemanimu. Kau tertawa. Ini bukan kelakar. Deretan gigi yang putih dan serupa biji buah timun terpajang. Kau sempurna. Kau dan aku seperti bertemu di persimpangan yang sama—lalu sepakat memutar haluan.

"Cuma beberapa hari?" "Aku pasti akan segera merindukanmu lagi!" rengekanmu mendadak kudengar seperti suara bayi.

"Aku tidak bisa menawarkan apapun," balasku.

Lalu keesokan paginya, kau dan aku menyeret koper masing-masing dari samping ranjang yang beberapa malam ini menjadi tempat sandar. Tujuan kau dan aku selepas ini berbeda.

Lepas itu, aku seperti diserang demam. Kau begitu sempurna. Itu mengganggu sekali. Bayanganmu menari-nari di pelupukku.

"Kau sepertinya diguna-gunai. Siapa?" aku melengos. Istriku jengah melihatku seperti aku jengah ia menambah anak lagi. Bibir
dark rose itu melayang-layang di pelupukku. Aku tak tahan. Pertemuan pun dijadwalkan, lagi.

***

Ranjang itu begitu hangat sekaligus dipenuhi hujan. Mereka bergulat seperti tak mau henti. Jeda sesaat lalu lagi. Ia sampai paham semua lekuk tubuh sempurna itu. Dari tulang belikat yang menjadi pangkal gerak sepasang tangan lembut itu saat mengelus dadanya—memberi rasa hangat sekaligus gelisah. "Aku tidak pernah bisa membawa pulang kesempurnaan ini!" pikiran-pikiran kalut mendesak di kepalanya. Lalu ia menghujaninya lagi dengan ciuman-ciuman untuk menekan pikiran-pikiran yang terus meronta di batok kepalanya—yang lama-lama berubah seperti ejekan.

"Lagi!" ucap pemilik bibir dark rose itu.

Ranjang pun bertambah basah.

"Aku ingin terus bersamamu!" bibir dark rose merajuk lagi.

"Tidak bisa."

"Kita akan terus seperti ini?"

"Aku tidak bisa menawarkan apapun."

Ia mengontrak sebuah rumah di kawasan padat penduduk yang orang-orangnya acuh tak acuh sebab dituntut untuk pergi secara rutin dari pagi hingga petang. Awalnya, ia membawa pemilik bibir dark rose itu untuk tinggal di situ—tapi di tempat itu keindahannya seperti koyak.

"Kau ingin bersamaku, 'kan?"

Tidak segera dibalas anggukan tetapi mata indah itu memutar berkeliling menyapu sekujur isi rumah dan merasa tidak cocok dengan tempat yang ia datangi. Tak ada ranjang lembut dengan seprai bersih. Wangi bunga-bunga segar. Kamar mandi dengan shower, sabun dan shampo yang memanjakan tubuhnya. "Bukan begini," kilahnya.

"Bisa didekor ulang sesuai maumu!"

Ia tidak dibiarkan pergi. "Tunggu saja di dalam, aku akan segera kembali!" Di kamar itu ia dikunci. Pemilik bibir dark rose membiarkannya, melempar tas lalu rebah di ranjang. Betisnya berkilau oleh cahaya purnama yang baru saja terbit yang bocor dari lubang kecil di atas jendela. Lantas ia tertidur. Rasa lapar membangunkannya. Saat ia mau membuka pintu—terkunci. Ia coba beberapa kali. Jendela itu juga berteralis. Ditutup papan dari luar—seakan-akan jendela rusak yang kacanya bolong tapi selalu abai untuk diperbaiki. Ia memanggil kekasihnya. Tak ada balasan. Lama kemudian, suaranya meninggi. Ia mulai berteriak-teriak. Suaranya tenggelam. Kedap. Ia bingung. Diambilnya ponsel di tas, tidak ada. Ia masih berpikir bahwa kekasihnya yang dijumpainya di persimpangan perjalanan itu sedang menggodanya—dan cumbuan hangat akan segera terjadi. Malam melaju semakin sepi, semakin dingin. Tak ada selimut. Ia mulai menggigil dan kekelaman itu terus berlanjut hingga berhari-hari. Hingga wajahnya sepucat bulan yang kesepian dan telapak tangannya letih memukul-mukul pintu. "Tolong buka! Aku haus!"

Kekasihnya itu datang dengan koper-koper. Kekasihnya itu datang dengan beberapa jenis pisau. Lalu ke dapur—menyiapkan meja—ya, ia suka mengkalkulasikan segala hal. Di mana air, kain-kain lap, plastik-plastik. Dan memastikan semua pintu terkunci.

Saat pintu kamar dibuka, pemilik bibir dark rose itu begitu pucat dan lemah terkulai di tepi pintu. Berdiri pun ia tidak bisa.

***

Kau terlalu sempurna. Kau seperti tanpa cela. Kau melukaiku dengan seluruh keindahanmu. Aku melepas tulang belikat itu dari tempatnya. Memisahkan tangan lembutnya. Membelah bibirnya. Aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak merusak keindahan itu. Aku sangat kesal. Keindahannya begitu menghantuiku. Aku dibuat cemburu. Lalu aku memasukkannya ke koper-koper itu. Lalu aku terus menerus menyeret koper itu. Koper berisi dirimu.

***

"Kang!"

"Jiancuk!" umpatan terlempar. Ia turun melompat dari bus lalu muntah-muntah dan terus mengumpat mungkin ratusan kali.

"Isine menungsa, Kang! Wedus!" semua nama hewan muncul dalam umpatannya.

"Ndhek koper?" tanya sopir. Kondektur itu mengangguk.

Polisi muncul di terminal. Lalu lama-lama orang-orang tambah berdesakan.

***

Koper itu berisi dirimu. Dirimu yang dulu sempurna. Dirimu yang kemudian tercacah sedemikian rupa. Dirimu yang telah hilang bentuk. Dirimu menjadi abstrak—belum menjadi tulang-tulang yang berserak antara Karawang-Bekasi. Tapi nyata. Dirimu yang ditemukan antarkota antarpropinsi, di terminal-terminal, dalam koper-koper baru yang berbeda warna. Semua dirimu ada di sana.

Dyah Merta penulis novel Peri Kecil di Sungai Nipah (2007). Tinggal di Yogyakarta


Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com


(mmu/mmu)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed