DetikHot

art

Pintu Belakang

Sabtu, 23 Sep 2017 10:40 WIB  ·   Rafiqa Qurrata A’yun - detikHOT
Pintu Belakang Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta - Tak lama setelah genap berusia sepuluh tahun, Kantil mengagetkan seisi rumah ketika ia berkeras hati meminta sang ayah membongkar pintu di belakang rumah dan menutupnya dengan tembok. Kantil –sembari menangis- menyebut pintu itu menuju neraka, sehingga lembaran papan tebal kayu jati itu mesti dirobohkan.

Pintu itu membatasi dapur, berhadapan dengan pekarangan kecil yang dinaungi keteduhan dua pohon mangga, dan menjadi jalan bagi Kantil maupun dua saudara perempuannya keluar masuk rumah manakala sang ayah berlama-lama menerima tamu di beranda depan.

Sesungguhnya, pekarangan belakang merupakan satu surga kecil di rumahnya. Ada berbagai tetumbuhan harta para bocah: pohon mangga untuk persembunyian putri yang diburu raksasa, perdu-perdu liar dengan daun atau berbunga seperti mahkota, hingga biji-biji berwarna menyala sebagai harta kerajaan. Kantil menamakannya surga, sampai datang hari ketika ia menemukan jalannya dihadang oleh pintu belakang. Pintu yang tanpa pernah ia sangka, dapat mengisap dan menyakiti inti sari tubuhnya.

Dalam temaram, pintu itu membuka ruang lain dengan bara panas tempat penghancuran segala yang memiliki rupa dan jiwa, juga segenap suara. Kantil melihat dua saudara perempuannya dilalap gumpalan api, namun tumbuh kembali seperti semula. Persis seperti berbagai cerita tentang neraka yang didengarnya daripara guru. Ia tak menduga, bahwa surga berada di balik pintu neraka, dan begitu senyap tanpa bunyi apa pun juga.

Maka demikianlah kemudian Kantil dengan kesungguhan hati memohon penghancuran pintu neraka itu, agar tak ada lagi siapa pun terisap ke dalamnya. Sayangnya, sang ayah tidak mengabulkan permintaan dengan penjelasan khayali dari sang gadis ragil. Bagi sang ayah, Kantil hanya sedang meracau, barangkali karena ada satu-dua kehendak remehnya tak terwujud. Atau, Kantil barangkali kesal dengan pekerjaan rumah (terutama dapur yang selalu sibuk), dan ingin menjadi jenis perempuan lain dari yang jamak ditemui di desanya. Hanya itu isi pikiran sang ayah.

Ketika Kantil kerap menangis saat berada di dapur, sang ibu menggerutu tentang hal lain. "Aku khawatir namanya telah mengundang roh-roh jahat. Kita harus mengganti namanya dengan bunga lain. Kita juga mesti memangkas pohon-pohon besar di belakang rumah."

Namun, lelaki itu mengabaikan apa yang dikatakan orang lain, termasuk istrinya sendiri, perempuan yang dinikahi pada usia cukup dini. Sang ayah hanya mendengarkan suara dari kepalanya sendiri sebagai penjelasan paling genap dan sempurna. Lagi pula, nama itu adalah pemberian seorang tetua kampung yang banyak didatangi para pemohon nama.

Sesungguhnya, kepada ayah dan ibunya, Kantil ingin menceritakan suatu runtutan cerita mengenai pintu belakang. Ia ingin bercerita tentang luka-luka di tubuhnya yang tak pernah terlihat. Namun, mulut Kantil terbungkam ketika sang ayah bersikukuh tak ada hantu di rumah itu, tak ada luka bersarang dalam badannya, tak ada pintu yang harus dibongkar, tak ada nama yang mesti diganti, dan tak perlu ada pohon yang ditebang.

Sementara sang Ibu masih memelihara prasangka-prasangka pribadinya dengan rapi. Saat suaminya pergi, diam-diam ia membuat bubur merah putih untuk nama baru yang rahasia, merapal doa-doa tertentu yang dipercaya menolak bala, dan tak lupa pada hari-hari yang diyakini bertuah, ia mengendapkan rasa lapar dan dahaga.

Kantil memilih diam dan menyelamatkan dirinya melalui nilai ujian sekolah dasar yang tertinggi di kecamatan. Ia lalu memiliki alasan tepat untuk bersekolah di kota kabupaten, meninggalkan rumah beserta pintu belakangnya. Kantil hanya merasa perlu pulang sebulan sekali demi uang saku, dan melewati pintu depan tanpa peduli siapa pun tamu sang ayah.

Ketika seorang kerabat dari pihak ibunya yang penggunjing mengetahui kebiasaan janggal Kantil, ia berusaha keras mencari tahu dan menghasilkan rumor yang disukai banyak orang. Satu di antaranya adalah hantu-hantu yang bermukim di pekarangan belakang, juga kutukan masa lalu dari asal-usul sang ayah, yang terdengar lewat bisik-bisik tanpa bukti, yang anehnya dengan mudah diterima sebagai kebenaran.

"Kau ingat, leluhurnya adalah tangan-tangan yang berdarah. Mereka mungkin terdidik dan pernah terhormat, namun kau tahu bagaimana orang-orang yang tak bertuhan itu tak punya rasa kemanusiaan. Aku tak bisa membayangkan saudaraku menikahi keturunan orang-orang yang demikian."

Begitu Kantil genap menyelesaikan sekolah menengahnya, ia memilih kota yang lebih jauh lagi. Ia benar-benar tak ingin pulang, dan menyibukkan diri dengan rupa-rupa kimia, sesuatu yang ia pikir bukan hanya baik bagi pengetahuan, melainkan juga bagi sesuatu yang ia pikir terbaik untuk melupakan pintu belakang rumahnya.

Kedua orangtuanya memiliki kekhawatiran mengenai kuliahnya yang terlalu sungguh-sungguh. Sementara setiap ibu menanyakan mengenai pasangan, setiap itu pula Kantil selalu menjawab dengan enggan. Ia teringat pada pintu belakang rumah, entah kenapa.

****

Andai saudara perempuannya tak langsung memintanya hadir menjelang prosesi pinangan, Kantil merasa tak perlu pulang. Sesungguhnya ia tak pernah menyukai pertemuan keluarga, yang di matanya selalu penuh dengan basa-basi melelahkan. Apalagi telah jelas bagaimana ia dengan dua saudara perempuannya adalah rupa jiwa yang berbeda.

Kakak-kakaknya telah mahir mematut wajah di depan cermin, yang selalu terampil dengan hal-hal mengenai keanggunan perempuan, dan membuatnya selalu menjadi sosok lain seolah tak setara. Ia berbeda dari keduanya, dari saudara yang pertama, yang segera menjadi mempelai wanita dalam hitungan sekian minggu dari sekarang, maupun yang kedua yang masih membuat ibu mereka memikirkan dengan siapa ia akan kawin.

Mereka juga tak terlalu peduli dengan keresahan kanak-kanak Kantil mengenai pintu belakang. Namun Kantil tahu sesungguhnya kadar kehancuran yang mereka rasakan adalah sama.

Kantil tak merasa perlu pulang sampai ia merasakan pikirannya menyala ketika sang saudara perempuan bercerita laki-laki yang akan menikahinya adalah anak lurah. Ini tentu baik bagi derajat keluarganya, baik untuk memulihkan segala hal yang sesungguhnya tak pernah diwariskan oleh para pendahulu, namun tetap melekat hingga penerusnya kini.

Namun, Kantil mengingat sesuatu yang membuat ia merunut garis keluarga laki-laki yang akan menikahi saudara tertuanya, hingga menemukan sesuatu yang nyaris terlewat. Sesuatu yang mungkin telah membuat saudara perempuannya menginginkan ia hadir.

Maka Kantil memutuskan pulang. Ia tiba melalui pintu depan sebelum orang-orang datang. Ia menjadi saudara muda yang baik, membantu kakaknya mengenakan kebaya berwarna jambon dan mengambilkan santapan yang dikehendaki saat juru rias memulas wajah sang kakak.

Ketika Kantil melihat iring-iringan keluarga lurah datang, dan sebagaimana yang ia perkirakan, ia menemukan seseorang yang dengan terang benderang ia kenal dari masa lalunya. Namun, ia tak percaya sosok itu benar-benar hadir kembali.

"Wak Yai ada di sini Bu?"

"Dia wakil keluarga. Kau kan tahu kalau adik Wak Yai adalah calon mertua mbakyumu."

Kantil kembali ke dapur dengan detak jantung yang terasa lebih lekas dari sebelumnya. Dari balik tirai pembatas, ia melihat lelaki itu semakin uzur namun masih rupawan. Kemenakan lelakinya juga rupawan dan solah tingkah keduanya membawa kesan penuh kebajikan.

Sejak masa kanak-kanak, Kantil mendapat kisah-kisah mengenai raksasa jahat sebagai sosok kejam dengan rupa seram yang muncul memusnahkan kehidupan. Tak ada suatu perkecualian bahwa api malapetaka mungkin saja hadir dari bentuk-bentuk makhluk Tuhan yang elok sempurna lagi terhormat. Tak ada satu pun yang mengingatkan bahwa rumahnya yang suka cita, dapurnya yang riuh dan hangat, beserta pintu menuju pekarangan belakang yang permai, tanpa disangka dapat menjadi jalan neraka.

Ketika mata lelaki tua itu bersinggungan dengan Kantil dan dua saudara perempuannya, ia seolah menyatakan permohonan untuk melupakan. Sementara ketiga perempuan itu tentulah terpaksa menjadi pemaaf sebagaimana dikehendaki oleh keadaan. Dengan kata lain, tentu mereka telah siap dengan prosesi kehidupan bahkan yang terlalu pahit untuk dilalui.

Lelaki itu tampak membisikkan sesuatu pada seorang kerabat yang segera menyampaikan maksudnya pada tuan rumah. Mereka tahu lelaki itu menggemari kopi hitam bukan hanya karena setara mendampingi tembakau yang tak henti, melainkan juga tepat menyelamatkan diri pada ingatan yang membuatnya mesti meredam kegugupan sebaik mungkin.

Lelaki tua itu mungkin abai pada sesuatu hal, namun Kantil masih mengingat sosok itu melewati pintu belakang rumah untuk menyergapnya, dan bukan sekadar membuat tubuh kecilnya menggigil ketakutan. Kantil tak mengalami kehilangan apa yang dijaga oleh kebanyakan para perempuan di desanya, tapi tak kurang terluka hatinya saat ia didudukkan di sana demi menyaksikan pemandangan yang mengguncang keseluruhan indranya.

Kantil mengingat dengan baik dan hati-hati, bagaimana kedua kakaknya dijerat hingga rasa sakit mereka tak lagi berwujud melalui kemarahan raga. Pikirannya mampat saat menemukan begitu banyak cerita yang keliru mengenai rupa-rupa manusia keji, yang tak selalu berwujud ngeri, yang mungkin saja muncul dari orang yang sangat berhati, atau bisa jadi sebab ia menurunkan amarah masa silam yang tak terperi. Untuk itu, Kantil bukan hanya harus berhati-hati untuk memastikan takaran racun dalam secangkir kopi pekat dapat bekerja sebagaimana mestinya, melainkan juga mawas akan penjelmaan iblis dalam suatu dendam.

Maka, begitu hiruk pikuk kepanikan mendadak terdengar dari ruang tamu, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun berlalu, Kantil membuka pintu belakang tanpa ketakutan. Tanpa perlu lagi meminta siapa pun untuk membongkarnya.

Rafiqa Qurrata A'yun menulis cerita pendek, dan pernah menjadi jurnalis. Cerita pendeknya Selintas Sepi di Quebec memenangkan Sayembara Mengarang Cerpen Remaja Nasional, Pusat Bahasa Depdiknas. Kini mengajar di Universitas Indonesia


Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, tema bebas, disesuaikan dengan karakter detikcom sebagai media massa umum yang dibaca semua kalangan. Panjang naskah sebaiknya tidak lebih dari 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media lain. Kirim ke email mumu@detik.com



(mmu/mmu)

Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed