Tahun ini merupakan momen bersejarah bagi kota Banda karena menandai ulang tahun yang ke-350. Perjanjian yang dinamai oleh Belanda pada 31 Juli 1667 itu mengakhiri perang Aglo-Belanda yang kedua (1665-1667) dimana Inggris dan Belanda memperebutkan salah satu rempah-rempah dalam perdagangan dunia.
Dengan menandatangani Perjanjian Breda, Belanda menerima peraturan Inggris mengenai New York (New Amsterdam), dan pemerintah Inggris menerima aturan Belanda atas kepemilikan Suriname dan Run, salah satu pulang yang terpencil di Kepulauan Banda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pulau Banda saat itu telah menjadi pusat perdagangan internasional, jauh sebelum orang Portugis mengunjungi Banda. Di Pulau Banda terdapat perdagangan pala yang sangat mendunia dan berbagai negara memonopoli perdagangan pala. Eksibisi ini akan menelusuri sejarah di balik Perjanjian Breda.
"Melalui penyajian peta sejarah, gambar dan obyek, serta keunikan dari Perjanjian Breda, para pengunjung akan berkenalan dengan pala dan karakteristiknya. Banda menjadi pusat perdagangan internasional sekaligus politik," tutur pernyataan yang diterima, Senin (24/7/2017).
Pameran akan dibuka pada Senin (31/7) dan berlangsung hingga Selasa (31/8) mendatang di Erasmus Huis, Jakarta. Selain itu, seminar yang diisi oleh penulis Ayu Utami dan sejarawan Usman Thalib serta Wim Manuhutu akan menyajikan berbagai perspektif mengenai sejarah Banda yang terlupakan. Seminar akan membahas dampak perjanjian Breda terhadap dunia saat ini.
(tia/dar)











































