'Kuntilanak Waru Doyong' Jadi Cerita Favorit Penonton Sandiwara Miss Tjitjih

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 27 Apr 2017 13:07 WIB
Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih merayakan hari jadi yang ke-89 di Jakarta, tadi malam. Dalam pertunjukan 'Napak Tilas Sri Panggung', akhir ceritanya sangat mengejutkan sekaligus mengundang decak kagum dari penonton yang mengisi lebih dari seribu kursi di Graha Bakti Budaya (GBB), kompleks TIM, Jakarta Pusat.

Sang sutradara, Imas Darsih, mengatakan tema horor memang menjadi cerita favorit para penonton.

"Masa kejayaan Miss Tjitjih memang para penonton suka banget sama cerita horor yang naskahnya ditulis sutradara sendiri," katanya kepada detikHOT, Rabu (27/4/2017) malam.

Sebut saja, judul seperti 'Si Manis dari Jembatan Ancol', 'Beranak dalam Kubur', 'Kuntianak Waru Doyong', dan lain-lain. "Memang itu jagoannya dari Miss Tjitjih tapi kan kita nggak terus-terusan pentasin cerita itu mulu. Penonton pastinya bosen," terang Imas Darsih.

Imas yang menjadi warga Miss Tjitjih sejak zaman kakeknya dahulu mengungkapkan naskah kelompok sandiwara Sunda yang berdiri 1928 silam itu kerap mencampurkan dengan cerita drama. Terkadang mengambil dari cerita babad Tanah Sunda.

"Saya sendiri sudah menulis hampir 50-an naskah pertunjukan. Ada Setan Cipularang, Dendam Arwah Banci Kaleng, dan banyak lagi," pungkas Imas Darsih.

Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih berdiri pada 1928 silam saat Tjitjih asal Sumedang dan Wan Habib hijrah ke Batavia. Kelompok yang awalnya bernama Opera Valencia, sepeninggal Tjitjih pada 1936 terus melestarikan seni tradisi Sunda hingga sekarang.

Baca Juga: Merayakan 89 Tahun Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih (tia/ken)