Jadi Destinasi Wisata, Nasib Sandiwara Sunda Miss Tjitjih Masih Tak Pasti

Tia Agnes - detikHot
Kamis, 27 Apr 2017 08:40 WIB
Foto: Tia Agnes/ detikHOT
Jakarta - Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih baru saja merayakan hari jadi yang ke-89. Puluhan tahun berkiprah di seni tradisi dan mempopulerkan budaya Sunda di ibu kota, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Jakarta merencanakan akan mencanangkan menjadi salah satu destinasi wisata.

Hal tersebut dikatakan oleh Kabid Seni Budaya, Ahmad Yani, saat sambutan sebelum pertunjukan 'Napak Tilas Sri Panggung'.

"Pertunjukan ini adalah awal kebangkitan Miss Tjitjih di Jakarta. PHRI, ASITA, dan kami sudah terpikirkan untuk tempat Sandiwara Miss Tjitjih dan Wayang Orang Bharata menjadi destinasi wisata," tuturnya, pada Rabu (26/4/2017).

Simak: Peringati 89 Tahun, Sandiwara Miss Tjitjih Gelar Pertunjukan di Jakarta

"Mudah-mudahan perencanaan ini tidak lama lagi bisa terealisasi. Secara operasional, keberadaan Miss Tjitjih ada keterkaitan dengan tujuan pariwisata," terangnya disambut tepuk tangan meriah.

Dia pun menyarankan agar Kelompok Sandiwara Miss Tjitjih terus bertahan dan tidak meninggalkan akar tradisi yang selama ini digeluti. "Yang kedua, yang kami pikirkan bagaimana kalau suatu saat diadakan Pekan Budaya Sunda di Jakarta," terang Ahmad Yani.

Sementara itu, Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih yang berdiri 1928 silam tengah gundah terkait penghentian dana hibah. Setiap tahunnya, mereka selalu mendapatkan dana namun khusus tahun ini terhenti.

"Sejak tahun 2000 saya diminta menjadi Ketua Yayasan Miss Tjitjih sampai manager gedung. Hingga zaman Bang Yos akhirnya gedung jadi, dengan bantuan dana Hibah itu kami bisa mengatur anak wayang dan buat AC. Alhamdulillah Rp 15-25 ribu, setidaknya bisa makan, tapi sekarang terhenti," ujar Ketua Yayasan Miss Tjitjih, Tubagus Rasanuddin.

Sutradara Imas Darsih pun mengatakan hal yang sama. "Tahun ini kami tidak ada pentas. Karena biasanya disubsidi, ini entah kenapa tidak ada sama sekali. Terakhir kami pentas akhir tahun lalu," tutup Imas Darsih. (tia/wes)