Seni tak hanya ditujukan bagi manusia. Namun, seni juga bisa menjadi sarana advokasi bagi orangutan. Ya, Centre for Orangutan Protection bekerja sama dengan Giginyala dan IAMProject menggelar pameran kolektif '#artfororangutan' yang berlangsung akhir bulan ini.
Eksibisi '#artfororangutan' kali ini berjudul 'Menolak Punah' yang akan dibuka pada Sabtu (26/11) mendatang. Proyek seni ini bermula pada September 2014 lalu. Berbagai komunitas maupun individu seni menghimpun agenda serta penggalangan dana yang sudah dilaksanakan pada 26 September-1 Oktober lalu di Asmarra Art and Coffee Shop (ASCOS).
Pada Januari 2015 lalu, juga diselenggarakan pameran yang menampilkan 100 karya dari 90 seniman. Penulis kali ini adalah Andrew Anti-Tank dan Bambang Muryanto yang digelar di lokasi yang sama pada 26-29 November.
Eksibisi '#artfororangutan' bertujuan untuk meneruskan isu tentang pelindungan orangutan, memberikan dukungan pada relawan yang berhadapan langsung di lapangan.
"Melalui pameran seni rupa, semoga bisa membuka mata dan menumbuhkan kepedulian kepada masyarakat yang lebih luas tentang orangutan," tulis IAMProject di media sosialnya.
Saat malam pembukaan juga dimeriahkan oleh gelaran musik Tecnoshit, Miskin-Porno Jogja, Not A Woy, Pub Riot, AGONI, Kota dan Ingatan, dan Mengayun Kayu. Pada Senin (28/11) juga berlangsung diskusi terbuka 'Manusia, Orangutan, dan Habitatnya' yang diisi oleh narasumber penulis buku 'Orangutan: Rhyme and Blues' Regina Safri, Direktur Pelaksana Centre for Orangutan Protection Ramadani, dan dokter hewan satwa liar Imam Arifin.
(tia/mmu)
Eksibisi '#artfororangutan' kali ini berjudul 'Menolak Punah' yang akan dibuka pada Sabtu (26/11) mendatang. Proyek seni ini bermula pada September 2014 lalu. Berbagai komunitas maupun individu seni menghimpun agenda serta penggalangan dana yang sudah dilaksanakan pada 26 September-1 Oktober lalu di Asmarra Art and Coffee Shop (ASCOS).
Pada Januari 2015 lalu, juga diselenggarakan pameran yang menampilkan 100 karya dari 90 seniman. Penulis kali ini adalah Andrew Anti-Tank dan Bambang Muryanto yang digelar di lokasi yang sama pada 26-29 November.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melalui pameran seni rupa, semoga bisa membuka mata dan menumbuhkan kepedulian kepada masyarakat yang lebih luas tentang orangutan," tulis IAMProject di media sosialnya.
Saat malam pembukaan juga dimeriahkan oleh gelaran musik Tecnoshit, Miskin-Porno Jogja, Not A Woy, Pub Riot, AGONI, Kota dan Ingatan, dan Mengayun Kayu. Pada Senin (28/11) juga berlangsung diskusi terbuka 'Manusia, Orangutan, dan Habitatnya' yang diisi oleh narasumber penulis buku 'Orangutan: Rhyme and Blues' Regina Safri, Direktur Pelaksana Centre for Orangutan Protection Ramadani, dan dokter hewan satwa liar Imam Arifin.











































