'UOB Painting of the Year' yang sudah digelar ke-6 kalinya menitikberatkan terhadap persoalan sensibilitas. Sensibilitas dalam seni mengaitkan kepada emosi dan perasaan dari seniman kepada karya yang dibuatnya.
Salah satu tim dewan juri Kuss Indarto mengatakan sensibilitas merupakan persoalan mendasar dan klasik. "Ini tentang bagaimana seniman memiliki kedekatan emosi dengan karyanya," ucapnya dalam acara peresmian perhelatan tersebut, tadi malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Kuss, ada dua dewan juri lainnya yang berpartisipasi. Yakni akademisi Fakultas Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB) Agung Hujatnikajennong dan seniman asal Yogyakarta Heri Dono. Presiden Direktur UOBI Kevin Lam mengatakan, kompetisi ini secara serentak juga digelar di tiga negara tetangga.
"UOB Painting of the Year digelar juga di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Seniman yang menang dari regional Indonesia akan dikompetisikan lagi di tingkat yang lebih tinggi," kata Kevin.
Kompetisi ini telah menghasilkan seniman-seniman Indonesia ternama selama lima tahun terakhir. Di antara Y.Indra Wahyu yang meraih UOB Southeast Asian Painting of the Year di tahun 2012, yang terkenal dengan teknik cat air dan sketsa. Antonius Subiyanto, seniman Indonesia kedua yang memenangkan UOB Southeast Asian Painting of the Year tahun 2014, dengan material arang dan arkilik emas. Serta Anggara Prasetyo, pemenang UOB Southeast Asian Painting of the Year tahun lalu. Dia menggunakan kombinasi beberapa teknik pahatan, cat semprot, dan arkilik dalam karya 'Exploitation of Fish'.
Selain itu, kompetisi tahun ini juga dimeriahkan oleh talkshow seni berjudul 'Membingkai Sensibilitas dalam UOB Painting of the Year - Pengaruh kompetisi terhadap perkembangan seni rupa Indonesia' pada 17 Juni 2015 di ISI Yogyakarta.
(tia/mmu)











































