'Opera Kecoa' pernah beberapa kali dipentaskan. Pertama, tepatnya 27 Juli 1985 di TIM saat penonton membludak hingga pertunjukan diperpanjang selama tiga hari. Karena peristiwa itu, pendiri sekaligus penulis naskah Nano Riantiarno terpacu untuk meluncurkan pertunjukan teater lainnya.
Empat tahun berikutnya, 'Suksesi' dilarang tampil dan berimbas pada 'Opera Kecoa' di tahun 1990. Japan Foundation memilihnya untuk dipentaskan di empat kota di Jepang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditemui usai gelaran 'Semar Gugat', Nano mengatakan 'Opera Kecoa' direncanakan digelar kembali. "Iya, rencana Opera Kecoa akan dipentaskan lagi akhir tahun ini," tandasnya kepada awak media di GKJ, Kamis (3/3/2016).
'Opera Kecoa' tak hanya sekali maupun dua kali saja digelar. Untuk mengenang peristiwa tahun 1985 dan 1990, di produksi yang ke-100 Teater Koma mementaskan 'Opera Kecoa'.
Simak: 'Semar Gugat' ala Teater Koma Mengkritik Siapa?
"Lebih lengkapnya seperti apa, Opera Kecoa di 2016 kita lihat saja nanti," pungkas Nano.
Lakon ini mengisahkan tentang cinta segitiga penuh konflik. Seorang Bandit bernama Roima, Julini seorang waria, dan Tuminah seorang Pekerja Seks Komersil (PSK). Mereka dianggap binatang yang tak berguna dan kisahnya masih sarat dengan kritik sosial dan pemerintahan namun sekaligus menghibur.
(tia/mmu)











































