Proyek bahasa 'Terhah' dan tanaman pakis yang pernah ditampilkannya dalam eksibisi 'Typotopia' menyimbolkan kematian dan kehidupan. Sampai sekarang sudah lebih dari 1500 kata dan terus berkembang.
Baca Juga: Annisha Nisfihani, Komikus Asal Tenggarong yang Kini Mendunia
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam 'QUIESCENT', Tepu akan melestarikan proses tersebut dan menangkap momen terpenting. "Diam adalah sifat yang tidak aktif tapi berpotensi menjadi sesuatu sesudahnya," ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (10/2/2016).
Sebelumnya, Tepu pernah menggelar beberapa kali pameran tunggal. Seperti di Galeri Pearl Lam, Singapura (2014), dan presentasi tunggalnya di Art Basel Hong Kong berjudul 'Abiogenesis: Terhah Landscapes'. Ia juga pernah terlibat dalam proyek residensi di La Rochelle Prancis yang berakhir dengan pameran berjudul 'Lumieres' pada 2014.
Di tahun yang sama, dia menjadi bagian dalam Kuandu Bienalle di Taiwan dan baru saja menyelesaikan residensinya di Siheung Korea Selatan. Pameran tunggalnya kali ini akan dibuka pada 13 Februari dan bakal berlangsung sampai 13 Maret 2016 di ROH Projects Gallery, Equity Tower 40th Floor Suite E, SCBD Lot 9, Jl. Jenderal Sudirman Kav 52-53, Jakarta, Indonesia.
(tia/mmu)











































