Lewat pameran 'Pameran Besar Seni Lukis Jakarta 2015' dengan tema 'Rendering Regime', eksibisi kolektif hadir menampilkan sikap dan pernyataan politis seniman terhadap lingkungan sosialnya.
Dalam keterangan pers, Senin (19/10/2015) disebutkan, 'rendering' artinya penciptaan visual, gagasan artistik, dan struktur yang dilakukan oleh seniman. Serta istilah 'regime' dapat dibaca sebagai aturan, sistem, atau kondisi yang muncul dalam proses penciptaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sudut pandang sosial politik, secara umum istilah ini mencoba untuk menggambarkan bagaimana hubungan mental pemerintah, media, dan masyarakat saat ini," ucap kurator Leonhard Bartolomeus.
Persoalan mengenai sikap dan pernyataan politis inilah yang akan dibicarakan dalam pameran ini. Meluasnya praktek seni rupa kontemporer sekarang, turut membawa warisan pilihan sikap tersebut. Perkembangan teknologi dan kehadiran media baru seperti video, internet dan sosial media turut mempengaruhi apa yang kita tangkap sebagai karya seni sekarang.
"Setiap seniman diberi ruang gerak yang luas untuk masuk ke dalam sudut pandang yang paling dekat dengan praktik mereka, sekaligus membuka kesempatan juga untuk melakukan eksplorasi dari tema tersebut," ungkapnya.
Para seniman yang berpartisipasi adalah Andrew Delano, Bunga Yuridespita, Dwi βUbeβ Wicaksono Suryasumirat, Gadis Fitriana, Guntur Wibowo, Haris Purnomo, Hauritsa, Henry Foundation, Ipong Purnama Sidhi, Iswanto Hartono, Ito Djoyoatmojo, Jayu Julie, Jerry Thung, Jimi Multhazam, Kemalreza Gibran, KP Hardi Danuwijoyo, Monica Hapsari, Mushowir Bing, Reza Afisina, Ricky Malau, Rio Farabi, Rishma Riyasa, Ruth Marbun, Saleh Husein, Sony Eska, Tatang Ramadhan Bouqie, Tiar Sukma Perdana, Vonny Ratna Indah, Vukar Lodak, Yusrizal.
'Pameran Besar Seni Lukis Indonesia' akan dibuka pada 24 Oktober mendatang di Galeri Cipta III, kompleks Taman Ismail Marzuki. Dibuka dengan pertunjukan musik Efek Rumah Kaca dan We Love ABC.Β
(tia/mmu)











































