Karena proyek ini wanita yang dijuluki 'Mattersgirl' ini berkeliling kampusnya dan mempertontonkan di depan khalayak. Ia menuntut keadilan dan memprotes karena pengadilan membebaskan terdakwa yang memperkosanya. Namun, proyeknya menjadi kontroversial dan diperdebatkan.
Pro dan kontra terjadi, banyak dukungan yang diterimanya tapi sebagian besar lainnya mencaci maki. Kenapa?
"Karyanya adalah sepotong pekerjaan seni yang kuat tapi inklusif. Dengan membawa ke mana-mana kasur atau matras tersebut adalah bagian dari protes Emma," ucap kritikus seni Roberta Smith dilansir dari LA Times, Senin (1/6/2015).
Baca Juga: Demonstrasi Besar-besaran, Seniman Turki Bikin Mural Sepanjang 10 Meter
Tiga tahun lalu, Emma melapor kepada pihak kepolisian dan kampus tempatnya kuliah karena peristiwa pemerkosaan yang terjadi terhadapnya. Seorang mahasiswa seni lainnya memperkosanya. Mahasiswa tersebut bernama Paul Nunggeser yang kini dibebaskan dari tuduhan pemerkosaan.
Bulan lalu, Paul justru mengugat pihak kampus Columbia karena mengizinkan aksi yang dilakukan Emma sejak September 2014 lalu. Ia membantah dirinya memperkosa Emma dan membela diri melakukannya atas dasar suka sama suka.
Paul juga mengajukan gugatan terhadap dosen seni yang mengajar di Columbia. Ia adalah seniman terkenal Jon Kessler yang memberikan saran kepada Emma untuk melakukan aksi protes dan proyek seni keliling kampus.
Hingga sekarang, kasus perkosaan dan pelecehan seksual Emma masih diselidiki di pengadilan. Ia mengatakan tidak ingin berhenti melakukan aksinya hingga mendapatkan keadilan.
(Tia Agnes Astuti/Tia Agnes Astuti)











































