'SophisTEAcation' Tampilkan Koleksi Cangkir Teh Desiree Sitompoel

Tia Agnes Astuti - detikHot
Rabu, 27 Mei 2015 16:46 WIB
Desiree Sitompul bersama dengan anggota IKAPI, Laura (Dok.Tia Agnes)
Jakarta -

Bagi sebagian negara, minum teh sudah menjadi tradisi turun menurun dan diminati masyarakat. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Desiree Sitompoel yang menuliskan pengalamannya sejak 10 tahun lalu dalam buku berjudul 'SophisTEAcation: An Anthology of Porcelain Teacup Collecting'.

Buku setebal 200 halaman tersebut menguraikan perkembangan sejarah apa yang sekarang dikenal sebagai cangkir teh, koleksi cangkir teh terbaik dari berbagai negara dan memberikan saran yang aman dan kreatif bagi para kolektor cangkir teh.

Dalam temu media di kediaman pribadinya kawasan Jalan Pangeran Antasari Jakarta Selatan, Desiree menceritakan kebiasaan mengoleksi ini didapatkan dari sang ibunda.

"Ibu saya sudah suka mengoleksi benda-benda antik termasuk teacup, tapi karena kesibukan kerja saya acuhkan. Sepuluh tahun lalu, saya mulai menyukainya lagi," katanya, Rabu (27/5/2015).

Mengoleksi cangkir teh, menurutnya dapat membuat orang kecanduan. "Kayak narkoba, yang tadinya koleksi ecek-ecek pasti bisa langsung terjerat."

Awalnya, ia mengoleksi cangkir teh Willerman yang motifnya sederhana. Saat itu, ia membelinya hanya puluhan dolar tapi kini harganya melambung tinggi menjadi ratusan dan ribuan dolar.

"Wah, itu yang sudah langka," ucap Desiree.

Pemilik toko cangkir teh bernama Mamitoko tersebut meluncurkan bukunya pada April 2015 lalu saat London Book Fair. Inggris dipilihnya karena negara tersebut sangat kental budaya minum teh.

"London saya nilai tepat untuk launching buku dan di sana tradisinya sudah turun menurun. Ditambah dengan event internasional yang sudah mendunia ini," katanya.

Buku 'SophisTEAcation: An Anthology of Porcelain Teacup Collecting' dibanderol dengan harga Rp 990 ribu.



(Tia Agnes Astuti/Is Mujiarso)