Tromarama yang terdiri dari Febie Babyrose, Herbert Hans dan Ruddy Hatumena yang ketiganya lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB. Mereka juga adalah generasi revolusi digital di Indonesia era awal 2000-an. "Kami diundang khusus oleh Stedelijk Museum untuk ke sana tanggal 12 Juni," kata Herbert Hans kepada detikHOT, Rabu (27/5/2015).
Baca Juga: Patung Raksasa Jeff Koons Terjual Rp 173 M di Cannes
Bagi mereka, internet tak hanya membentuk cara berpikir tapi juga bagaimana mereka bekerja dan berkarya. Terlihat di karya terbarunya yang berjudul 'First Wave' yang menampilkan bagaimana teknologi digital mempengaruhi citra diri seorang seniman.
"Kami juga menyukai terlibat di pembuatan video animasi tapi kali ini tidak menampilkan instalasi," ucap pria yang akrab disapa Ebet.
Pameran ini menampilkan tiga animasi yang menggabungkan foto HD objek animasi, sepatu, koper, dan kain hijau panjang, serta digabungkan dengan lanskap perkotaan Indonesia. Animasi karya Tromarama tidak hanya menciptakan ilusi sempurna tapi juga animasi yang tidak sempurna.
Karya-karya yang akan dipamerkan adalah 'First Wave' (2015), dan karya sebelumnya 'Happy Hour' (2010), 'Unbelievable Beliefs (2012), On Progress (2013) dan The Charade (2014).
Pameran Tromarama merupakan bagian dari Global Collaborations yang proyek tiga tahunnya diluncurkan Museum Stedelijk pada 2013 lalu. Proyek ini menawarkan pandangan perkembangan seni kontemporer di negara berkembang seperti Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara.
(Tia Agnes Astuti/Is Mujiarso)











































