Lukisan-lukisannya dipenuhi oleh warna-warna muda. Goresannya juga tampak lebih halus dan terstruktur. Naratif dan pesan tersembunyi yang ditonjolkan oleh Soegeng terasa sekali dalam setiap karyanya.
Seperti kekuatan seni tradisi dalam lukisan 'Rampogan'. Jejak wayang beber terlihat di lukisan tersebut. Serta lima lukisan berjudul 'Boyong Kedaton', 'Bersih Desa', 'Pisowanan', 'Nitibeksan', dan 'Palagan'. Kelimanya menceritakan tentang kisah atau upacara yang diikuti oleh banyak orang pada suatu era.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca Juga: 10 Pertunjukan Terbaik 2014
"Dulunya saya melukis abstrak, modern, dan kebarat-baratan. Tapi begitu jadi pengajar, kok saya makin semangat buat bikin lukisan budaya," ucapnya kepada detikHOT di sela-sela pamerannya di Galeri Cipta 3, TIM, Jakarta Pusat, Selasa (7/1/2015) malam.
Soegeng lahir dari dinamika sosial dan akar budaya yang kuat. Mengembangkan aset budaya dalam bentuk seni rupa adalah tujuannya.
"Saya asli orang Jawa tapi tinggal dan kuliah di Bandung. Kembali lagi ke Solo buat ngajar sampai pensiun 2007 kemarin," katanya.
Usai pensiun dari ISI Surakarta, setiap hari Soegeng masih melukis di rumah kecilnya. Sepuluh lukisan yang dipamerkannya kali ini pun, semuanya karya terbaru. Di tahun 1982, ia pernah menghebohkan ibukota dengan pameran lukisan kaca pertama.
Saat itu, belum banyak seniman yang mampu dan berani melukis di atas medium kaca. "Itu sampai heboh karena saya mengajak beberapa seniman lainnya untuk pameran di Jakarta," ucap Soegeng.
Soegeng menjadi salah satu pelukis asal Solo yang tergabung dalam pameran seni rupa '4 Sekawan' di TIM. Pameran yang dibuka semalam hingga 20 Januari 2015 ini menampilkan berbagai lukisan tentang Solo dari sudut pandang yang berbeda-benda.
(tia/mmu)











































