Upacara kepergiannya diselipi oleh pembacaan sajak maupun puisi karya Sitor Situmorang atau si 'Raja Usu'. Sejarawan JJ Rizal menyebutnya sebagai #DzikirPuisi. Selain itu, karya apresiasi mengenang kepergiannya juga dibacakan. Sang penyair Danau Toba itu berpulang pada 21 Desember lalu, namun duka masih berbekas hingga kini.
Saat jenazahnya tiba di Jakarta pada Senin (29/12/2014) malam dan dibawa ke Galeri Nasional, kerabat Sitor sudah berkumpul. Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan juga hadir menyambutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ideologinya boleh beda tapi kita semua yang ada di sini datang untuk menghormati Sitor," ucapnya.

Tak hanya Anies, kawan-kawan lainnya juga menyemangatinya. Agenda #DzikirPuisi itu pun dibawakan oleh putri Presiden Republik Indonesia pertama, Sukmawati Soekarnoputri. Puisi Sitor berjudul 'Jakarta 17 Agustus 45 Dinihari' dibacakannya.
"... seperti embun/ seperti sinar matahari/ menerangi bumi/ di hari pagi/ kemanusiaan/ Indonesia Merdeka/ 17 Agustus 1945..."
Penggalan puisi tersebut mengingatkannya akan sosok Raja Usu kelahiran 1924 silam. Selain itu, penyair Zefry Al Katiri, Arswendo, dan lainnya ikut berduka dengan #DzikirPuisi.
Simak juga artikel seni budaya detikHOT kali ini, yang akan mengangkat seputar kepergian Sitor Situmorang, si penyair Danau Toba.
(tia/tia)











































