Lima orang berdiri di balik layar putih. Tangan mereka terangkat di atas. Dengan seksama setiap pemain, memainkan telapak tangannya. Ada yang membentuk seperti burung, kepala manusia, hingga benda-benda lainnya.
Bayangan tangan tersebut mengisahkan sebuah cerita. Kali ini, dalam Festival Salihara ke-5 kelompok teater bayangan tangan asal Tbilisi Georgia yang bernama Budrugana-Gagra akan pentas akhir pekan ini di Salihara Jakarta Selatan.
Budrugana-Gagra didirikan oleh Gela Kandelaki pada 1982. Grup teater ini mempertunjukkan aneka lakon, musik dan multimedia. Selama 15 tahun terakhir, Budrugana-Gagra telah memproduksi sekitar 300 pertunjukan. Termasuk untuk sejumlah festival internasional, dan sebagian besar untuk anak-anak pengungsi serta terlantar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam 'The Four Seasons of the Year' yang berdurasi 60 menit bercerita tentang seekor anak beruang yang mengalami petualangan berbeda dari musim semi hingga musim dingin. Di akhir cerita, si anak beruang bersama karakter-karakter lainnya menyanyikan lagu rakyat Georgia berjudul Ca Lajvardi yang berarti 'langit biru'.
Sedangkan 'Isn't This a Lovely Day' berdurasi 80 menit mengisahkan tentang siklus hidup manusia. Dari kelahiran hingga kematian dan keabadian jiwa. Louis Armstrong sebagai tokoh protagonis memiliki hubungan cinta dengan Ella Fitzgerald. Dalam lakon ini Dizzy Gilespie adalah gajah, dan musisi jazz terkenal lainnya berubah menjadi ular, laba-laba dan kepiting.
Penasaran dengan pentas teater bayangan produksi Budrugana-Gagra? Jangan lupa saksikan pentasnya selama dua hari akhir pekan ini di Salihara dengan harga tiket Rp 100 ribu (umum) dan Rp 50 ribu (pelajar/mahasiswa).
(tia/mmu)











































