"Jadi kain ini diberikan oleh orang tua sebelum si anak masuk ke kamar pengantin," kata Iwet Ramadhan, dalam acara bertajuk 'Cerita Kain Nusantara' di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia beberapa waktu lalu.
Batik dengan motif Galung Manten itu, mengandung lambang laki-laki dan perempuan. "Jadi ada lambang ovarium dan testis di sini. Sebelum mereka masuk ke kamar pengantin orang tua akan menceritakan kepada anaknya, bahwa pernikahan itu bukan hanya soal membuat keturunan tapi di dalamnya ada cinta kasih dan tanggung jawab."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lepas dari dua kisah batik yang sudah ia paparkan, Iwet sedikit menjelaskan hal-hal yang membuat sebuah karakter batik bisa jadi lebih mahal dari jenis batik yang lainnya.
"Batik mahal itu, yang garis-garis atau ceceknya detail, bolak baliknya juga sama. Selain itu, semakin banyak warnanya maka akan semakin mahal harganya," kata Iwet. "Jadi yang disebut batik tulis halus itu bukan bahan batiknya yang halus, tapi buatannya yang halus."
Motif batik lainnya adalah Wahyu Tumurun. Motif ini bisa dikatakan spesial, dalam sebuah upacara pernikahan, hanya orang-orang yang dianggap sepuh dan bisa jadi tauladanlah yang berhak memakainya.
"Kain ini ciri khasnya ada mahkotanya, ini dipakai oleh orang yang sudah bisa dijadikan suri tauladan karena mahkota adalah lambang kesempurnaan." Di bawah mahkota di motif ini, terdapat lambang ayamnya sepasang, juga tanaman merambat.
Maknanya adalah untuk mencapai kesempurnaan yang dilambangkan dengan mahkota, dibutuhkan kerja keras yang diwakili oleh ayam dan sulur atau tanaman rambat yang melambangkan energi yang terus tumbuh.
(ass/utw)











































