Setiap hari jika ada inspirasi untuk menulis, Putu hanya bermodalkan Blackberry yang dimilikinya. "Saya ngetik pakai tangan kanan di Blackberry," ujarnya kepada detikHOT akhir pekan lalu.
Bahkan sebelum ia melukis di ruang makan kediamannya, Sabtu lalu (5/4/2014), ia sedang menulis tiga tulisan untuk kolom media cetak hari Minggu. Ia mengetiknya langsung di ponsel tersebut lalu mengirimkannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mau tak mau, Putu kembali harus mengetik apa yang ada di ingatannya dan segera mengirimkan kepada redaksi dari tiga media massa. Ya, aktivitas ini selalu dilakoninya jelang akhir pekan selama bertahun-tahun.

Jika saat ia masih sehat, Putu bisa menggunakan komputer di kamar putranya, Taksu. Namun kini, dengan Blackberry ia lebih fleksibel dan bisa dibawa ke mana saja.
Tak hanya itu saja, Putu juga mengatakan ketika ia sedang menunggu giliran berobat dan tiba-tiba ia ingin menulis maka ia akan menggunakannya. Satu puisi dan cerita pendek pun bisa jadi dalam hitungan jam. Sementara novel dalam waktu beberapa hari saja sudah kelar. Ritme yang serba cepat ini diakuinya didapatkan dari ayahnya, I Gusti Ngurah Ngaka.
"Ayah saya itu memuja militerisme. Apa pun yang dilakukannya harus serba cepat, ia mengajarkan ke anak-anaknya agar serba cepat. Makan saja bisa dua menit," ujar Putu.
Lantaran hal ini, ibunya Mekel Ermawati suka kesal. Katanya, jangan ajarkan anak-anakmu makan seperti binatang. "Tapi ternyata ajaran ayah membekas di saya."
Ritme cepat dan produktivitas dalam membuat karya memang mempengaruhi prosesnya dalam membuat karya seni. Putu tak pernah menyerah dengan kondisi kesehatannya saat ini, ia justru makin giat melukis dan menulis.
Akhir pekan lalu, di sela-sela wawancara, bahkan beberapa kali ia memanggil anggota Teater Mandiri dan mengecek persiapan latihan. Putu juga yang mengecek jadwal latihan para pemainnya juga. Ada yang tak bisa latihan, ada yang absen acara keluarga.
Ia sendiri juga yang memperhatikan setiap riasan dan kostum dari para pemainnya. Jika ada yang salah dan tak sesuai dengan karakter naskah, ia akan meminta anggotanya untuk ganti.
"Ini karena pekan depan kami ada tiga pementasan jadi semuanya harus serba cepat," katanya. Nantinya minggu depan akan ada tiga pentas yang digelar di Komunitas Salihara. Mereka adalah lakon berjudul 'Bila Malam Bertambah Malam', 'HAH', dan 'Jpret'.
(tia/utw)











































