Mainteater Bandung Pentas di Helateater Salihara Akhir Pekan Ini

Mainteater Bandung Pentas di Helateater Salihara Akhir Pekan Ini

- detikHot
Jumat, 04 Apr 2014 16:47 WIB
Mainteater Bandung Pentas di Helateater Salihara Akhir Pekan Ini
Jakarta - Suatu hari, sebuah keluarga bahagia di pinggiran kota Bogor mendapat kunjungan dari seorang pensiunan tentara. Ia membawa cakar monyet yang sudah dikeringkan. Cakar monyet itu dibawa dari pedalaman Kalimantan dan sudah dimantrai oleh seorang dukun dan dipercaya mampu mengabulkan tiga permintaan.

Lantaran bernafsu ingin punya uang banyak, si ayah minta uang. Esok hari, anak tunggalnya dikabarkan meninggal dunia. Dua orang datang membawa santunan sebesar yang diminta si ayah.

Lambat laun keserakahan telah menjerumuskan keluarga itu kepada kehancuran. Lakon berjudul 'Cakar Monyet' tersebut bakal dipentaskan oleh Mainteater Bantung akhir pekan ini Jumat-Sabtu, 4-5 April di Teater Salihara.

Pementasan ini merupakan serangkaian dari kegiatan 'Helateater Salihara 2014: Sastra Manggung'. Sebelumnya sudah dipentaskan lakon yang disadur dari 'Odyssey' karya Homer oleh Teater Paper Cinema (Inggris), 'Rain' oleh Teater Rictus (Perancis), Metamorfosis oleh Stock Teater (Jakarta).

Helateater kali ini mementaskan lakon yang bersumber dari tradisi sastra. Dewan Kurator Komunitas Salihara mengundang sejumlah kelompok teater untuk menafsirkan kembali karya sastra yang sudah cukup terkenal.

Sama seperti naskah 'Cakar Monyet' yang disadur dari β€œThe Monkey’s Paw”, sebuah cerpen horor dalam kumpulan cerpen The Lady of the Barge (1902) karya sastrawan asal Inggris. W.W. Jacobs.

Cerpen ini telah diadaptasi dalam pelbagai bentuk yakni lakon, novel, film, lakon televisi, komik, buku audio, dan lagu. Mainteater Bandung akan mengadaptasi lakon ini ke dalam konteks Indonesia masa kini.

Penasihat literatur Yopi Setia dari Mainteater Bandung mengatakan di situs teaternya bahwa cerpen ini berhasil mendapatkan apresiasi yang cukup tinggi dari penikmat sastra.

"Malah bukan hanya penikmat sastra di negeri yang kini terkenal dengan liga sepakbolanya saja, tapi apresiasi itu juga datang dari berbagai belahan dunia," tulisnya.

Tahun lalu, cerpen ini juga diangkat ke layar lebar oleh salah satu rumah produksi di Hollywood dengan judul yang sama. Serta disutradarai oleh Brett Simmons.

Sedangkan, Mainteater sendiri yang dibentuk pada 1994 oleh teaterawan Indonesia dan Australia akan menafsirkannya ulang sesuai dengan konteks kekinian Indonesia.

(tia/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads