Pendiri dari Sembilan Matahari, Adi Panuntun merasakannya saat ia menyelenggarakan video mapping di Fatahillah pada Maret 2010 dan Maret 2014 lalu. Meski kerja sama dengan lembaga berbeda tapi yang dirasakannya berbeda.
"Saya sebenarnya cenderung merasa kuatir kalau pertunjukannya tidak disaksikan oleh publik. Kalau sama pejabat enggak jadi soal," ujarnya kepada detikHOT.
Di tahun ini, ketika pelaksanaan video mapping Fatahillah sekuel kedua, sayangnya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tidak menyaksikan. Saat video diputar belum ada 5 menit, Jokowi langsung meninggalkan lokasi Plaza Fatahillah.
"Mungkin Pak Jokowinya sibuk. Sebagai warga negara kita harus memakluminya karena ia punya prioritas lainnya," kata pria yang kini berdomisili di Bandung ini.

Berbeda ketika empat tahun lalu, mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo justru menonton karya seninya hingga habis. Namun bagi Isha Hening ia tidak terlalu peduli dari golongan apa yang menonton.
"Untuk sisi komersil, karena saya sering membuat karya untuk event, saya selalu sesuaikan dengan target audience event-nya itu sendiri," ujar Isha.
Ia selalu mengusahakan hasilnya sesuai dengan budget dan kemauan klien, dan tentu saja tetap menjaga kualitas dan ciri khas dari karyanya. Tapi jika untuk karya personal atau saat pameran bersama, ia menyerahkannya kepada publik.

Lain lagi dengan seniman dari Yogyakarta, Raphael Donny. Menurutnya, seni pertunjukan ini belum bisa menarik pengunjung karena publik belum teredukasi dengan baik.
"Tapi saat ini di Yogya banyak yang sudah menjadikan seni visual dan video mapping sebagai salah satu gimik yang menarik," kata Donny.
Banyak pesta di klub, event komersil, sampai pertunjukan budaya yang menyelenggarakannya. Termasuk pagelaran Yogya Video Mapping Project atau JVMP yang baru diselenggrakan beberapa waktu lalu.
(tia/utw)











































