Di hadapan kursi itu, tergeletak sebuah meja kayu dengan komputer yang bertengger di atasnya. Tak jauh dari sana, terdapat televisi. Terlihat juga beberapa tumpukan bantalan kursi yang ditumpuk begitu saja.
Dengan udara adem di kawasan rumahnya, rasa nyaman pun segera menghampiri sesaat setelah duduk di sini. DetikHOT pun tergelitik untuk bertanya pada Indra Kharisma, putra bungsu Renny Djajoesman, apakah rumah ini sering dijadikan tempat tongkrongan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak teman-teman, anak asuh dan anak teater yang tinggal di sini. Sampai dibilang kos-kosan gratis karena 80 persen yang tinggal di sini bukan saudara."
Indra menjelaskan, sebelum Timor Timur berpisah dari Indonesia ada sekitar seratus orang yang pro-integrasi mengungsi di sini. "Sempat jadi tempat ngungsi waktu Timor-Timur pecah," jelasnya.
Sang kakak, Yuka Mandiri memperinci penjelasannya. Menurutnya, tokoh pro-integrasi saat itu seperti Enrico Gutierrez tinggal di rumahnya.
"Ini kejadiannya sebelum Timor-Timur akhirnya lepas, kan ada yang pro-integrasi tapi ada yang anti-integrasi. Jadi, seperti Enrico Gutierrez di sini" kata Yuka.

Rumah Renny yang memang dikonsepkan terbuka ini, muat menampung sebegitu banyaknya orang untuk tinggal di sana. Mereka bisa tidur di daerah pendopo, hingga ke paviliun di rumah Renny.
"Ada yang di pendopo, yah di mana-mana. Tapi kita di sini seadanya, jadi makanan kita siapkan ala kadarnya kita. Ini kejadiannya sekitar tahun 1998."
Sebelum terjadi peristiwa ini, Renny beserta dua anaknya yang sudah tinggal sejak 1992 ini sudah terbiasa memberikan tempat tinggal bagi siapa saja.
Misalnya pada 1994, rumah ini mulai diramaikan dengan kehadiran anak-anak teater dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), yang berlatih mengasah perannya.
"Kalau dulunya tahun 1994-an, di sini ada banyak anak-anak teater IKJ. Dulu ada sekitar 10 orangan yang ada di sini," ujar Yuka.
Menurut ibu dua anak ini, kediamannya bersama sang ibu hingga tahun 2006 masih dijadikan basecamp bagi anak-anak IKJ. Ini karena mereka rutin memproduksi teater setiap satu tahun sekali. Kini sebagiannya sudah berpencar dan hanya tersisa dua atau tiga orang yang tetap tinggal di rumahnya.
Tak hanya itu, kediaman Renny juga sempat dijadikan lokasi syuting beberapa judul sinetron 90'an. Salah satunya sinetron berjudul Anak Menteng. Baik orang-orang yang terlibat di produksi maupun para artisnya, juga sekaligus nongkong di rumah Renny.
Pendopo permanen di rumahnya, didominasi warna putih pada cat tembok dan ubinnya. Memiliki kuda-kuda atap yang tinggi dengan paduan kayu apik berwarna gelap. Renny juga menggantungkan sebuah lampu antik di pendoponya ini.
"Kalau lagi ramai di sini digelar tikar atau karpet, jadi santai aja di sini posisinya sudah enggak karuan kalau pada kumpul."
(ass/utw)











































