Berpengaman Ekstra Ketat, Museum di Tengah Kebun Tak Bakal Dikelola Pemerintah

Menilik Museum Pribadi (8)

Berpengaman Ekstra Ketat, Museum di Tengah Kebun Tak Bakal Dikelola Pemerintah

- detikHot
Senin, 24 Feb 2014 15:22 WIB
Berpengaman Ekstra Ketat, Museum di Tengah Kebun Tak Bakal Dikelola Pemerintah
Salah satu koleksi berharga Museum di Tengah Kebun. (Ropesta Sitorus/detikHOT)
Jakarta - Tak sesantai Endang Ernawati mengamankan museum pribadinya, Sjahrial Djalil justru memberi perhatian khusus untuk pengamanan museumnya. Tentu saja ini juga bertentangan dengan cara pria pendiri sebuah biro periklanan itu dalam merawat benda-benda bersejarah di museum pribadinya itu.

Dia sadar betul bahwa kadang meski dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, benda-benda kuno bersejarah itu buat orang berniat buruh yang tahu nilainya sering jadi incaran. Hal ini seperti pengalaman Museum Nasional yang sempat kehilangan empat artefak dari emas yang diprediksi harganya mencapai miliaran rupiah, September tahun lalu.

β€œDampaknya kita jadi memperketat keamanan,” kata Mirza. Tiap aktivitas di ruangan dan sekeliling kebun dimonitor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Koleksi yang mahal juga ditaruh di pintu yang dilengkapi dengan terali besi. β€œUntuk keamanan kita mengikuti standar internasional, sudah pasti setiap ruangan dan sekeliling ada CCTV, alarm dan kawat silet," kata Mirza menjelaskan. "Pokoknya untuk security sistem kita contoh dari museum negara lain."

Sejauh ini, Sjahrial mengatakan belum pernah kecurian barang-barang koleksinya. Dia juga bertekad menjaga koleksinya dengan segenap kemampuannya sendiri. Sjahrial sudah mewanti-wanti tidak akan menyerahkan koleksi museumnya kepada pemerintah.

Pasalnya, banyak benda bersejarah yang bernilai tinggi justru raib dari museum pemerintah. Celakanya, hal ini diduga bukan karena dicuri orang luar tapi justru karena ulah pengelolanya sendiri. β€œKalau saya meninggal, ini semua diwariskan untuk semua pemuda Indonesia. Semua kekayaan saya, banyak loh kekayaan saya, itu diwariskan,” ujar Sjahrial.

Dia hanya meminta agar kondisinya tetap dirawat, terutama bagian kebunnya. β€œSaya mau seperti sekarang keadaannya, kalau nanti tambah jelek bilang terus terang, saya mau tambah bagus,” ungkap pria yang tetap melajang itu. Mirza, keponakan yang dipercaya untuk mengurus museum, berujar pewarisan itu dilakukan lewat yayasan keluarga yang sudah dibentuk.

β€œSaya suka diamanahkan jangan sampai barang ini jatuh ke tangan pemerintah. Dia mewariskan untuk bangsa Indonesia bukan berarti jadi diambil dan dikelola pemerintah," kata Mirza.



Menurut Mirza, Sjahrial berprinsip daripada diberikan ke pemerintah, dia lebih rela semua koleksinya dipindahkan saja ke negara lain. "Karena kita tahulah bagaimana pemerintah,” kata Mirza.

Kini, semua keperluan museum, mulai dari penambahan barang, perawatan, operasional dan kebutuhan pegawai masih ditanggung Sjahrial pakai kocek sendiri. Bahkan, pengunjung museum tak dipungut biaya sepeser pun. β€œSebulannya bisa habis sekitar Rp 50 juta untuk perawatan dan operasional,” kata Mirza. β€œTapi Sjahrial sudah menyiapkan semua hingga nanti 15 tahun setelah ia meninggal.”

Mirza belum mengetahui apakah kelak pengurus yayasan akan menarik bayaran atau tetap menggratiskan museum bagi pengunjung. Yang jelas, untuk saat ini, paling tidak sepanjang Sjahrial masih hidup, maka pengunjung bisa bebas masuk.

Persyaratannya hanya tidak boleh ngaret dari jam yang ditentukan. Anda bisa memilih datang pada Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu pada pukul 9.45 atau 12.45. Kunjungan juga harus memesan waktu terlebih dulu, sebab Mirza tidak akan membuka pintu jika Anda datang tanpa pemberitahuan lewat telepon atau websitenya.








(ros/utw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads