Jika Sjahrial Djalil membuat museum yang secara umum memuat segala benda bersejarah, beda lagi dengan Endang Ernawati.
Pebisnis kecantikan ini awalnya jatuh cinta pada layang-layang. Selama hampir 25 tahun berkecimpung di bidang ini tak sekali pun ia merasa letih mengajar maupun ikut festival layang-layang tingkat nasional dan internasional.
Namanya pun kian terkenal tatkala ia mendirikan Museum Layang-Layang Indonesia pada 21 Maret 2003. Lokasinya di Jalan H Kamang Nomor 38. Pondok Labu, Jakarta Selatan. Ia juga menjadi satu-satunya sosok yang aktif menularkan ilmu layang-layang kepada siapa pun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari situ saya sudah bisnis kecantikan. Saya sudah punya salon dan bisnis berjalan lancar. Baru 25 tahun yang lalu saya fokus di layang-layang," katanya.
*****
Ketertarikannya terhadap bidang ini lantaran ketika melihat anak-anak kecil bermain adu layang-layang hanya ada satu jenis yang digunakan. "Saya pikir gimana cara terbangnya, kok layang-layang cuma itu saja yang dipakai. Nah, dari sanalah saya coba cari tahu."
Atas alasan itu, Endang belajar secara otodidak. Ia pun berkeliling ke setiap daerah di nusantara dan mempelajari layang-layang tradisional. Setelah menjelajah, wanita yang mempunyai tiga orang anak ini pun mulai menemukan ragam layang dari berbagai daerah.
Misalnya di Sulawesi Tenggara menggunakan bahan daun ubi hutan yang dikeringkan. Sedangkan kota Jakarta terkenal akan layang-layang adu-nya.
Totalnya, ada 20 layang-layang jenis tradisional. Sedangkan yang tiga dimensi maupun yang berukuran besar dibuat sendiri oleh pihak museum. Seperti layang-layang berbentuk dewa dan dewi, kereta kencana, kupu-kupu, naga, burung, dan sebagainya.
Setiap kali usai festival pun, Endang selalu menaruhnya di museum tersebut hingga kini. Pihaknya pun mempunyai layang-layang ukuran raksasa yang terbesar di tanah air. Namanya 'Megaray' berukuran 9 x 26 meter yang dapat disewakan untuk kegiatan eksibisi.
Ternyata membuat layang-layang sama sekali tak susah. Dari tertarik belajar hingga mengoleksi dan membuat museum pribadi ia pun akan tetap membukanya untuk publik.
Jika Anda tertarik mengunjunginya, harganya sekitar Rp 10 ribu dan tersedia berbagai macam paket workshop dari buat payung, layang-layang sampai keramik.
Wanita kelahiran Pontianak ini juga mengatakan jika dirinya tetap akan mempromosikannya. "Saya ingin layang-layang meluas. Saya inginnya ke pendidikan supaya ilmunya tetap ada," ujarnya.
(tia/utw)











































