Jas putih, kacamata, dan laboratorium kini sudah ditinggalkan. Rebecca tampil dengan imej baru sebagai Toxic Cherry, seorang penari tiang yang anggun memakai celana pendek, juga sepatu hak tinggi.
Seperti dilansir Dailymail, Senin (17/2/2014), Cherry tidak pernah menyesali keputusannya itu. Dia rela melepas profesi dosen kimia untuk mendirikan sebuah sekolah tari, Β Cherry Dance Academy tahun 2011.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inspirasinya datang dari seorang penari tiang asal Australia yang dianggap sangat seksi dan brilian. "Dia sangat seksi dengan punya bentuk tubuh yang bagus. Meliuk-liuk di tiang seperti itu terlihat indah dan saya khusus mengikuti kelasnya," ujarnya.

Banyak orang terkejut dan menyayangkan keputusan tersebut. Namun, ia tetap yakin melangkah karena gairah serta kecintaannya ada pada tari.Terbukti, kesuksesan berhasil diraih Cherry. Pada 2012, ia menyabet juara pertama kompetisi menari tiang paling bergengsi di Inggris, UK Pole Profesional Cup.
"Banyak orang tak suka dengan keputusan saya karena dianggap menyiakan pendidikan. Tapi, mereka salah. Saya cinta menari, saya juga cinta sebagai dosen.Tapi, passion saya memang menari," katanya.
Saat ini, Cherry Dance Academy memiliki 150 murid berusia antara 18 sampai 60 tahun. Mereka datang dari latar belakang berbeda. Ada yang pekerja kantoran hingga korban perkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Cherry sendiri bersyukur bahwa keputusannya memang tidak salah. Menari dapat membantu seseorang merasa lebih bahagia."Saya berinteraksi dengan korban perkosaan dan kekerasan. Jika menari bisa membantu mereka lebih bahagia, maka saya sudah melakukan pekerjaan saya," ujarnya.
(fip/utw)











































