Itulah yang dilakukan gerakan One Billion Rising (OBR) Indonesia tahun ini. Sebuah pemutaran film yang diikat dengan diskusi santai khusus bagi para pria digelar di Coffeewar, kedai kopi di Kemang Timur Jakarta Selatan.
Tahun lalu acara pemutaran film dan diskusi semacam ini juga digelar. Bedanya tahun ini secara khusus OBR menembak sasaran kaum pria lewat tiga ajang V-Screen, V-Dialogue dan V-Men. Ketiganya diadakan setiap akhir pekan selama empat minggu pada bulan Januari-Februari ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program yang dimulai pada 18 Januari 2014, pertama kali mengangkat tema soal mitos dan fakta tentang tubuh wanita. "Kita coba mematahkan mitos-mitos dan menjabarkan faktanya," kata Gery Paulandhika, Koordinator OBR Indonesia 2014, kepada detikHOT (10/01/2014).
Fakta yang dijabarkan dalam film itu memang ironis. Tentang keseluruhan bentuk kekerasan seksual, penanganan negara, tanggapan lingkungan sekitar hinga trauma psikis dan fisik yang tak pernah hilang dari para korban. Wacana dari film ini diikat dalam diskusi santai bersama tiga orang narasumber.
Kemudian pada pekan keduanya, tanggal 26 Januari 2014, diadakan diskusi V-Men yang disambung dengan V-Screen. "Ini tentang bagaimana posisi laki-laki dalam isu kekerasan seksual." V-Screen kali ini memutar film berjudul 'Surga kecil di Bondowoso' dan 'Ballon for Allah'.
Pada V-Dialogue selanjutnya yang digelar pada 2 Februari 2014, OBR Indonesia membahas tentang otoritas tubuh perempuan. V-Screen kali ini memutar film berjudul 'Perempuan Punya Cerita'. Dan yang terakhir membahas soal masalah mengapa korban memilih bungkam.
Meski tema yang diangkat sangat sensitif, tapi justru pengunjung benar-benar memadati ruang kedai kopi yang tak terlalu besar itu.
Narasumber pertama yang dihadirkan adalah seorang penyintas dari kasus perkosaan, kemudian ada pendamping hukum dan seorang pendamping psikologis untuk korban kekerasan seksual.
Nuansa haru biru mulai hadir di tengah pengunjung ketika penyintas tadi menceritakan pengalaman buruknya di masa lalu. Beberapa pasang mata yang hadir pun terlihat berkaca-kaca, tak lama kemudian seorang pengunjung ikut membuka kisah pedihnya di masa lalu, berbagi dengan para hadirin yang lainnya.
Film 'The Invisible War' yang diputar pada hari Minggu petang (09/02/2014), tampak disimak dengan serius oleh pengunjung. Film dokumenter ini berkisah soal kasus kekerasan seksual yang dialami oleh banyak perempuan yang tergabung dengan militer di Amerika Serikat.
"Antusiasme pengunjung di tiap pekannya itu berbeda-beda, bisa naik turun, dan sempat terganggu dengan banjir. Yang terakhir kemarin cukup ramai mungkin karena isunya dan ini rangkaian terakhir V-Dialogue."
(ass/utw)











































