Diam memang bisa menjadi bias dan memicu kepada arah pembiaran. Di mana terdapat budaya patriarki dan posisi perempuan masih dianggap sebagai warga kelas dua yang disubordinasi. Beruntungnya, masih ada jiwa-jiwa yang ingin melawan budaya seperti ini ada lebih lama di Indonesia.
Salah satunya, relawan yang tergabung dalam gerakan menari secara kolektif untuk mengkampanyekan anti kekerasan seksual terhadap perempuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi pria berusia 28 tahun ini, kepedulian akan isu sosial di Indonesia bisa dibilang masih rendah. "Saya melihatnya dari media dan iklan di mana perempuan masih ditempatkan sebagai objek. Tubuh perempuan untuk jualan, dan ini bisa membentuk pola pikir masyarakat."

Ia juga menjelaskan bahwa di rangakaian acara OBR ini banyak sekali anak muda yang terlibat dan menunjukan kepeduliannya. Pada diskusi mingguan yang diadakan OBR Indonesia, anak-anak muda juga banyak yang menanggapi isu sosial secara kritis.
Setiap tahunnya, OBR Indonesia juga membuka pendaftaran bagi para calon relawan yang ingin ikut terlibat secara aktif. "Usia, jenis kelamin dan profesinya berbeda-beda. Ada yang masih muda, ada juga ibu-ibu yang datang bersama anaknya dan ikut latihan menari OBR rutin," ujarnya.
Bicara profesi, Shera menjelaskan bahwa kesadaran dan kontribusi untuk aksi sendiri tidak harus orang yang bekerja di lembaga non-profit atau yang dikenal dengan sebutan aktivis.
"Ini bisa siapa saja, ada yang desainer grafis, pembuat film dan lainnya. Yang penting dia peduli dengan isunya, dia peduli dengan korban kekerasan dan memiliki pengetahuan tentang hal-hal di luar apa yang dia dapatkan di sekolah maupun media," kata Shera.
Untuk membongkar pola pikir masyarakat itu juga bisa dengan caranya masing-masing, tapi bisa berkarya sesuai profesi dan lingkungannya sendiri.
Perempuan berusia 29 tahun ini menjelaskan alasan dirinya untuk terlibat di aksi atau gerakan seperti ini.
"Kalau dari aku pribadi berpikirnya, kalau bukan aku yang peduli maka siapa lagi? Kalau tidak mulai dari diri sendiri maka siapa lagi?" ujarnya.
Ia menjelaskan tak mau hanya menjadi pengkritik kondisi sosial namun di sisi lain masih mementingkan urusan sendiri dan tidak bertindak apa-apa.
(ass/tia)











































