Haruki yang dianggap salah satu penulis paling berpengaruh di dunia, dalam salah satu novelnya memang bercerita tentang warga kota di kaki gunung utara Hokkaido itu.
Dalam sebuah novela berjumlah 24 halaman berjudul Drive My Car - Men Without Women, Haruki berkisah tentang wanita separuh baya yang sedang berkendara mobil sembari ngobrol dengan supirnya, seorang lelaki muda.
Dalam salah satu adegan di buku yang terbit Desember lalu setelah ditampilkan di majalah bulanan Bungeishuju itu, ceritanya si wanita membuang puntung rokoknya lewat jendela mobil ke jalanan. Lalu si sopir berpikir, "Mungkin membuang rokok sembarangan di jalan adalah kebiasaan warga Nakatonbetsu ini."
"Padahal malah kami saban awal musim semi, punya kebiasaan mengumpulkan sampah tanpa diminta dalam operasi kebersihan di jalanan," kata Shuichi Takai, kepala sekretariat dewan kota dalam protesnya seperti dilansir The Telegraph.
"Kami juga bekerja keras untuk mencegah kebakaran hingga, ketika kota kami dipenuhi dedaunan dari hutan hingga 90 persen. Jadi kota kami tak mungkin punya kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan," kata Shuichi mewakili Nakatonbetsu. "Kami ingin tahu mengapa dia menggunakan nama asli kota harus digunakan seperti itu."
Buku terbaru Haruki, Shikisai wo Motanai Tazaki Tsukuru to Kare no Junrei no Toshi, langsung laris manis sejak diluncurkan April 2013 lalu. Novel-novelnya yang sudah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa. Di antara karyanya adalah 1Q84, Kafka on the Shore, Norwegian Wood, The Wind-Up Bird Chronicle. Penulis Jepang yang dianggap paling punya pemikiran ala Barat ini, digadang-gadang bakal jadi pemenang Nobel Literature di masa depan.
(utw/utw)











































