Serta bertuliskan, "Dalam keyakinan di mana pun tirani harus tumbang." Itu adalah penggalan syair dari penyair Wiji Thukul yang hilang sejak 1998 silam.
Dalam mural tersebut hanya terdapat dua warna mayoritas yakni kuning dan merah. "Ini hanya efek dramatisir dari kata-kata perlawanan saja," ujar R.M Herwibowo atau akrab disapa Bowo kepada detikHOT.
Karakter dari karya seninya ini bernama Robowobo. Peran dari figur ini menggantikan Bowo dalam penampilan setiap karyanya. Sebuah karakter lumrah dikeluarkan oleh seniman dalam seni rupa.

"Saya selalu memakai dan menampilkan Robowobo," ujar salah satu pendiri Propagraphic Movement pada 2004 lalu. Bowo bersama figurnya pernah mengadakan pameran tunggal dengan 8 karya lukis, dan 3 karya triplek.
Selain itu, mural Wiji Thukul juga diisi oleh komunitas Jadi Terus dan merupakan komunitas di bawah Serrum. "Kita mau menekankan sosok realitas seorang Wiji Thukul yang hilang dan mural yang kuat," ujar Havis Maha kepada detikHOT di Galeri Serrum.
Havis juga menjelaskan jika karya muralnya bersama tim lebih bergaya realis. Ia memakai satu warna biru tua sebagai latar belakang mural di tembok. Warna putih di teks dan penggambaran Wiji Thukul memakai jaket yang sudah kusam.
Bowo berharap dari visualisasi mural Wiji Thukul simbol pengingat perlawanan bisa tersampaikan kepada masyarakat. Berbagai macam gaya karakter dan pembuatan mural, kata Bowo, semuanya memiliki satu tujuan.
"Di Dinding Berpuisi ini kita ingin memperingatkan dan membuat mereka jadi ingat sama kasus yang sudah lewat. Nyatanya kita lumayan berhasil," jelasnya.
(tia/utw)











































