Saat itu Mould mesti membayar ÂŖ100,000 atau sekitar Rp 1,9 miliar pada tahun 1992. Penjualnya adalah warga Inggris pendatang dari Rusia, yang merahasiakan nama asli pemilik sebelumnya. Kemudian selama 20 tahun lukisan itu tenang dipajang di rumah Lang.
Karena penasaran dengan keaslian lukisan itu, Lang kemudian membawa lukisan itu untuk diselidiki dalam sebuah reality show dari BBC berjudul 'Fake or Fortune'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya sungguh mengejutkan. Beberapa ahli sejarah seni dan dua orang cucu perempuan Chagall yang juga seniman, menyatakan lukisan itu palsu. Lebih menyakitkan lagi berdasarkan hukum tentang karya seni di Prancis, lukisan palsu harus dimusnahkan dihadapan para ahli dan pewaris sang seniman.
"Ini adalah peraturan yang kocak. Meskipun lukisan itu mungkin tak berharga tapi tetap ada nilai sentimentalnya," kata Lang saat mendengar keputusan pemusnahan itu seperti dikutip The Telegraph.
Pertanyaannya kemudian, mengapa Lang tak boleh memiliki lukisan itu dan memajangnya sebagai milik pribadi? Lang sempat mencari kemungkinan bisa menuntut Chagall Committee dengan menyatakan hak azasinya atas kepemilikian lukisan itu telah dilanggar.
"Hukum di Inggris menyatakan jika Anda membeli sesuatu dengan keyakinan, benda itu menjadi milik Anda," kata Dick Ellis, pendiri satuan khusus untuk benda seni dan antik di Scotland Yard.
"Tapi di Prancis, hukum menyatakan pewaris boleh menghancurkan karya seni palsu. Kesalahan Lang adalah membawa lukisan ini kembali ke Prancis," kata Ellis yang kini menjadi direktur di konsultan Art Management Group consultancy.
Lukisan palsu Chagall milik Lang, bukan kasus pertama. Tahun lalu ada lukisan cat air dan gambar yang awalnya diakui karya Joan Miro, dari Spanyol yang dimusnahkan setelah Pengadilan Paris menyatakan lukisan itu palsu.
"Ini memang praktek yang lama berlangsung di Prancis," kata Pierre Valentin, ahli seni di kantor hukum Constantine Cannon. "Ini untuk melindungi pasar benda seni dan mencegah pemalsuan. Tapi sering terjadi ketegangaan karena benda palsu juga dijual dengan harga sangat mahal."
Kini Martin Lang, sudah bersikap lebih tenang. "Mereka boleh menghancurkannya, mereka boleh membakarnya. Tidak akan ada penangguhan," kata Lang.
Namun dia masih sangat ingin lukisan itu kembali ke rumahnya. "Tetap bisa dikagumi bagaimanapun. Meski ternyata bukan karya Chagall, tapi pasti lukisan itu punya cerita sendiri."
(utw/tia)











































