Asyiknya Terbitkan Buku Sendiri, Jadi Writerpreneur Sekaligus Penulis Best Seller

Rupa-Rupa Penerbitan Buku Mandiri (8)

Asyiknya Terbitkan Buku Sendiri, Jadi Writerpreneur Sekaligus Penulis Best Seller

Firda Puri Agustine - detikHot
Rabu, 15 Jan 2014 16:29 WIB
Asyiknya Terbitkan Buku Sendiri, Jadi Writerpreneur Sekaligus Penulis Best Seller
Jakarta - Seperti kebanyakan penulis lain, Restu Ashari Putra bermimpi karya bukunya mejeng di toko-toko buku besar. Tak peduli soal royalti kecil, yang penting prestisius.

Namun, apa daya, standarisasi tinggi yang diberlakukan penerbit besar membuat pria 25 tahun itu gigit jari. Dia baru mampu menerbitkan buku lewat jalur penerbit mandiri, atau dikenal indie publishing.

Restu bilang, usaha tersebut punya nilai plus dan minus. Plusnya ada pada rasa senang karena karya yang dibukukan. Minusnya, soal pemasaran yang mesti dilakukan sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Enak enggak enak ya soalnya kan kita kudu masarin sendiri bukunya. Kecuali kita punya modal gede buat masuk ke jaringan toko buku besar," kata Restu kepada detikHot, akhir pekan lalu.

Dia melihat, menerbitkan buku sendiri sama dengan berinvestasi. Dengan kata lain, penulis bisa sekaligus menjadi pengusaha lewat strategi penjualan bukunya sendiri.

"Positifnya ya bisa jadi writerpreneur. Penulis ngeluarin modal juga, dan memang royalti lebih besar kalau lewat indie publishing," ujarnya.

Pengamat perbukuan Ahmadun Yosi Herfanda berpendapat, menerbitkan buku secara mandiri justru memiliki banyak keuntungan.
Pertama, buku-buku idealis yang kurang diminati penerbit komersial, seperti kumpulan puisi, kumpulan cerpen, dan kumpulan esai, dengan mudah diterbitkan.

Kedua, terbukanya jalan bagi penulis pemula untuk mengembangkan bakat. Bisa jadi, dari penerbitan indie ini lahir buku-buku bestseller yang akhirnya dilirik oleh penerbit komersial.

"Lihat, misalnya, Asma Nadia, dulu memulai karir dari penerbit indie, Forum Lingkar Pena. Ketika ternyata novel-novelnya diminati pembaca, penerbit besar lantas berebut untuk meminta karyanya," kata Ahmadun.

Jika penerbit memiliki jasa pengurusan ISBN, lebih bagus lagi. Buku-buku tersebut dapat diikutkan ke dalam berbagai tradisi penghargaan sastra, seperti penghargaan sastra Badan Bahasa dan Katulistiwa Literary Awards.

Dengan buku baru, apalagi memenangkan suatu penghargaan, eksistensi mereka sebagai penyair, cerpenis, eseis maupun novelis, akan makin kuat. Mereka berpeluang memasuki pasar lain, yakni menjadi pembicara lokakarya penulisan, seminar, panggung sastra, dan diundang ke berbagai perhelatan sastra lainnya.

"Ambil positifnya saja. Bisnis perbukuan tidak lagi didominasi oleh penerbit-penerbit besar yang saat ini lebih cenderung berpihak pada pasar, dan mengabaikan buku-buku idealis," ujarnya.




(fip/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads