Seni tari tradisi Indonesia mencerminkan keanekaragaman suku dan budaya bangsa. Di negara ini terdapat 700 suku suku bangsa dan ragam tarian yang asyik untuk dijelajahi satu per satu.
Di Indonesia, hanya segelintir penari dan koreografer yang masih mempertahankan tari tradisi sebagai akarnya dalam bergerak. Salah satunya adalah Dedy Lutan Dance Company.
Siapakah Dedy Lutan? Dalam dunia tari, kiprahnya sudah terkenal seantero negeri dan mancanegara. Ia disebut sebagai salah satu koreografer tradisi yang konsisten hingga kini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
***
Menjadi kelompok tari yang konsisten mementaskan seni tradisi di Indonesia, tidaklah mudah. Butuh kerja keras, kesabaran, dan karya yang tak pernah berhenti untuk dikenal masyarakat.

Sama halnya yang dilakukan oleh Dedy Lutan Dance Company. Di usianya yang ke 23 tahun ini, para muridnya membuat pentas penghargaan terhadap gurunya, Dedy Lutan.
"Ini penghormatan terhadap Pak Dedy Lutan, maestro tari tradisi Indonesia. Karena dari beliaulah seni tari tradisi kita terjaga hingga sekarang ini," kata pimpinan DLDC, Iga Mawarni kepada detikHOT di Gedung Kesenian Jakarta Rabu (18/12/2013) lalu.
Β
Awalnya kelompok tari ini bernama Dedy Dance Company, namun karena kesepakatan teman-teman, namanya berubah menjadi Dedy Lutan Dance Company (DLDC). Wadah yang dibentuk awal 1990 ini berdiri atas gagasan Dedy Lutan bersama istrinya Elly Lutan dan Iriene S.Prinka.
Aspek utamanya adalah melakukan riset lapangan terhadap berbagai macam tari tradisi di berbagai daerah di Indonesia. Serta bersentuhan langsung dengan sumber tradisional.
"Menjaga tradisi melalui cara-cara yang bertanggung jawab dan mengantarkan generasi muda untuk mengerti pertunjukkan yang baik itu gampang-gampang susah," kata Iga.
Tak hanya berdiri sekaligus konsisten di ranah tradisi saja, kata Iga, namun juga mempertahankan jumlah penonton di tiap pementasan.
"Itu kesulitan kedua, seolah-olah dimensi tradisi itu jauh dari publik padahal mereka produktif, nyaris enggak pernah berhenti berkarya," katanya.
Namun setiap garapan tari kontemporer maupun modern, kata dia, pastinya berdasarkan dari tradisi terlebih dahulu. "Semua tergantung alur dan packagingnya tapi benang merahnya tetap tradisi."

Iga juga menekankan yang namanya tradisi bukan berarti kuno. Setiap penonton pun diharapkan mampu berkembang dan berinovasi. "Mindsetnya jangan anggap tradisi itu kuno. Meski kami mengedepankan tradisi, tapi gerakan kontemporer pasti ada," kata Iga.
Komunitas DLDC ini bertahan lantaran hati para pemimpinnya yang mampu menjalankannya. Serta mendorong setiap penari yang ada di DLDC untuk berkembang di luar sanggar tarinya.
(tia/utw)











































