Apa yang Anda pikirkan jika penokohan di wayang dilukiskan? Apakah bisa? Hal itulah yang dicoba dilakukan oleh Agus Nuryanto atau dikenal Agus Wayang, 43 tahun.
Ia mengenal tokoh ini sejak usianya masih kecil. Saat di kampung di Solo, Agus selalu bermain dengan wayang dan ketoprak. "Bahkan saya masih bermimpi jadi dalang saat kecil," katanya kepada detikHOT Sabtu (14/12/2013) lalu.
Hiburan semasa kecilnya ini kembali ditemukannya ketika kuliah jurusan seni rupa di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta angkatan 1992. Di sana, ia belajar teknik sungging yaitu melukis dengan bentuk setiap penokohan wayang. Serta belajar kolaborasi warna seperti gradasi, ornamentik, dan lain-lainya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari belajar bentuk pakem dari wayang beber dan purwa, Agus mencoba membuat wayang sesuai dengan konteks kekinian. Ia pun menambahkannya kepala wayang dengan shio.
Ada berbagai bentuk seperti shio monyet, anjing, ular, dan sebagainya. Namun, ada juga lukisan wayangnya yang sarat dengan kritik sosial.
Seperti ketika ada peristiwa korupsi yang terkait wanita pembawa perlengkapan golf atau caddy. Ada juga peristiwa anggota KPK yang tersangkut kasus korupsi.
"Wayang itu bagian dari kehidupan manusia. Wayang juga bisa masuk ke dimensi ruang yang lebih luas dan tak hanya gambarkan dunia khayangan saja," ujar Agus.
Hingga kini, objek lukisannya tetap wayang. Ia pun menghargai lukisan wayangnya sekitar Rp 150 ribu sampai Rp 8 juta yang paling mahal.
Selama ini, kata dia, selalu membebaskan karakter wayang yang dilakoninya. "Jadi seniman enggak mau tekpaku kepada satu pakem saja. Nilai tradisinya memang sudah adi luhung tapi banyak tokoh modern yang bisa saya campurkan."

(tia/utw)











































