DetikHot

art

Go Internasional Tanpa Modal Bahasa Inggris dan Gadget Pendukung? Bisa Kok!

Rabu, 11 Des 2013 10:51 WIB  ·   - detikHOT
Go Internasional Tanpa Modal Bahasa Inggris dan Gadget Pendukung? Bisa Kok! (dok.pribadi)
Jakarta - Mendapat penghargaan di luar negeri bisa menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang.
Setiap apresiasi, perkembangan alur wacana dan pengaruh baik ke negeri sendiri, juga merupakan pencapaian yang menarik bagi tiap insan seni, termasuk pembuat film dokumenter.

Seperti halnya Kiki Febriyanti, yang telah memutar dua film dokumenternya ke beberapa negara.

Uniknya, sutradara kelahiran 10 Februari 1986 ini tak punya modal peralatan membuat film. Ketika merampungkan film pertama, ia mendapat pinjaman perangkat dari loka karya In-Docs yang diselenggarakan di kotanya. Begitu juga komputer untuk mengedit film.

Hijrah ke Jakarta, ia juga tak menenteng banyak barang. Hingga suatu hari seorang pembuat film dari Malaysia menghibahkan laptop dan handycam kepadanya.

\\\"\\\"

\\\"Laptop sama handycam itu aku dikasih sama Kak Yati, pembuat film dari Malaysia. Dia nanya aku kalau kerja gimana, aku punya laptop enggak? Terus dia kelebihan bagasi, dikasihlah laptop itu ke aku,\\\" ujar Kiki kepada detikHOT (06\/12\/2013). Ya, rezeki memang tak kemana.

\\\"Dia juga tanya aku kalau buat film gimana, punya handycam enggak? Aku bilang pinjam. Jadi dia kasih aku handycam mini dv,\\\" Kiki melanjutkan.

Dengan modal barang pemberian itu, Kiki setidaknya telah merampungkan film \\\'Yup It\\\'s My Body\\\' dan syuting sebuah film dokumenter yang belum rampung.

Ia memang telah mengantongi beberapa proyeksi film yang akan dibuat dalam waktu dekat. Film itu ada yang berkisah tentang ruang kota Jakarta dan juga tentang kopi.

\\\"Tapi sekarang laptopnya sudah mati, spare part-nya sudah enggak ada,\\\" kata Kiki. Ia pun musti kembali memutar otak, untuk mencari komputer yang bisa dipinjam untuk mengedit materi rekamannya.

***

Kesederhanaan dan kegigihan perempuan asal Bondowoso, Jawa Timur ini memang menarik untuk disimak.

Dua kali mendapat penghargaan internasional, di India (2012) dan Ukraina (2013) Kiki punya seribu satu cara untuk tetap bertahan hidup di ibukota atau negara lain.

Pengalaman uniknya berada dua pekan di India menurutnya bukan soal uang, tapi bahasa. Ia mengaku tak menguasai bahasa Inggris dengan baik.

\\\"Hal yang paling mengerikan adalah bahasa Inggris. Setengah mati aku disana. Sinopsis film saja temanku yang membuatkan,\\\" ujarnya sembari tertawa.

Apalagi dia harus mempresentasikan filmnya dihadapan penonton dan dilengkapi dengan sesi tanya jawab. \\\"Sorry, I\\\'m not fluent in English,\\\" ini kalimat andalannya yang diulang-ulang ketika ada yang meminta penjelasan lebih rinci.

\\\"\\\"

Kiki merasa ketika diwawancara media cetak bisa lebih santai. Dia bisa menjelaskan kondisinya. \\\"Mereka bisa edit kata-kata aku,\\\" kata Kiki.

Tapi kesulitan datang ketika wawancara untuk radio dan televisi. \\\"Enggak bisa diedit, sudah itu aku ketawa-ketawa saja ya. Kalau kitanya kaku, kan orang melihatnya jadi kasian yah.\\\"

Justru lewat usaha pengalaman berliku itu kini kemampuan Kiki berbahasa Inggris kian lancar. Terutama saat mengobrol dengan teman-teman yang lebih menguasai atau orang-orang asing yang kini jadi komunitasnya.








(ass/utw)

Photo Gallery
1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed