Crochet sendiri pada awalnya dianggap kegiatan nenek-nenek. Karena banyak cerita yang biasanya menggambarkan hanya kaum wanita yang sudah beruban yang melakukannya sembari duduk di kursi goyang.
Padahal tidak demikian, beberapa tahun terakhir diketahui crochet juga punya efek meditatif yang menenangkan. Di film Demolition Man (1993), otak Sylvester Stalone diceritakan diprogram untuk mencintai crochet demi menekan kecenderungannya bertindak kasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana dengan di Indonesia? Ternyata cukup banya pecinta hobi ini. Bahkan sampai ada komunitasnya. Berikut penelusuran detikHOt tentang dunia crochet di Indonesia.
***
Jika Anda menganggap crochet adalah sesuatu yang aneh, tahukan Anda bahwa crochet itu sebenarnya lebih mudah ditemukan dibanding yang kita kira?
Contohnya, produk jadinya bisa kita temukan dalam bentuk topi rastafara, aksesoris handphone, maupun tas tangan.
Crochet, atau seni kerajinan tangan menggunakan satu sampai empat jarum hakken, cukup populer di benua Amerika dan Eropa. Sementara di Indonesia sendiri perkembangannya tidak begitu kentara.

Tapi, jangan salah. Peminat crochet ternyata sangat banyak dan menyebar ke berbagai tempat. Salah satu yang mulai jatuh cinta adalah Dewi Pujiastuti, 27 tahun.
"Aku baru belajar crochet belum lama kok. Mungkin baru 2 bulanan," katanya kepada DetikHot, Senin (2/12/2013).
Awal mula ketertarikan wanita lajang ini berasal dari sang bunda yang memang menyenangi aneka kerajinan tangan seperti menjahit, menyulam, dan sebagainya.
Tidak ada yang instan. Termasuk saat belajar membuat crochet. Dewi bahkan nyaris putus asa karena selalu gagal mengikuti pola jarum yang sudah terbentuk.
"Lumayan susah sih. Tapi, lama-lama asyik sendiri. Pas sudah jadi, lihatnya senang," ujarnya.
Rasa senang pun dialami Annisa Ulfa, 26 tahun, saat berhasil membuat sepatu bayi dari teknik crochet. Butuh waktu tiga bulan untuk benar-benar fokus menyelesaikan karya tersebut.
"Belajar dulu sama teman. Terus iseng coba-coba. Eh, berhasil," kata wanita yang akrab disapa Icha itu.
Saking asyiknya, dia bisa lupa waktu dan berniat keluar dari pekerjaan sebagai karyawan swasta di Jakarta.
"Hmm..gimana ya. Susah dijelasin kalau enggak coba sendiri. Kalau sudah mulai susah berhenti," ujarnya.
(fip/utw)











































