Siang itu, sebelum kembali ke Jakarta, DetikHot diajak berkunjung ke rumah Sariat Lebana, salah satu penenun yang menemukan 186 warna alam di Desa Ternate Umapura, Alor Besar.
Perjalanan dari Kalabahi ke sana ternyata cukup jauh. Memakan waktu kira-kira 1,5 sampai 2 jam. Menyusuri pinggiran pantai, bukit, dan jalanan berkelok. Sungguh pemandangan yang begitu indah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekitar pukul 10.30 WITA, rombongan tiba. Kami disambut tarian selamat datang ala NTT. Namanya lego-lego. Sang empunya rumah mengalungkan kain tenun pada sekitar 30 orang yang ikut hadir.
Setelah itu, tamu dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Bentuknya sederhana karena hanya dibangun pakai batu bata merah. Lantai pun masih dibiarkan tanpa ubin.
"Di sinilah tempat kami menenun dan memproses warna alam. Kata orang Pemda (Pemerintah Daerah), nanti mau dibangun lagi lebih bagus," kata wanita yang akrab disapa Mama Sariat ini.
Di belakang rumah, tersimpan banyak rendaman warna alam dan alat-alat tenun tradisional. Ada juga alat untuk menghaluskan kapas yang dioperasikan secara manual.
Rumah Mama Sariat tidak sendiri. Beberapa rumah dengan bata merah dan alas tanah pun tampak menyempil di antara hamparan kebun kapas dan mengkudu.
"Kebun kapas itu tanpa pupuk dia tumbuh sendiri. Benar-benar anugerah Tuhan," ujarnya.
Desa tempat ibu 42 tahun itu tinggal merupakah salah satu basis tenun yang ada di Alor, NTT. Hampir semua keluarga di sana menjadikan tenun sebagai mata pencaharian utama.

Sayangnya, mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Rumah dengan bata merah itu masih lebih baik karena DetikHot menemukan ada rumah penenun dari gubuk bambu di pinggir pantai.
Sementara untuk makan sehari-hari mereka hanya mengandalkan hasil bumi seperti jagung rebus, jagung titi, pisang rebus, dan rumput laut. Sesekali berburu rusa karena mereka tidak sanggup membeli daging sapi yang harganya selangit.
"Penenun di sini banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Makan ya seadanya, kadang ikan, sayur, apa saja yang ada. Tapi, untuk dapat air bersih saja sulit," kata Mama Sariat.
Mewakili harapan penenun lain, dia ingin agar pemerintah peduli terhadap potensi yang ada di Alor. Minimal, memfasilitasi pemasaran dan membuka akses yang lebih mudah untuk menarik minat wisatawan.
"Kami siap bekerja. Mau motif apapun kami bisa. Tapi, pasarnya yang tidak ada. Pemerintah tolong buka pasar untuk basis tenun yang ada di sini. Kasih kami air bersih dan bantu pengadaan benang juga alat tenun," ujarnya.
(fip/fip)











































