Program Publik Jakarta Biennale - Siasat (9)

Dari Wayang Seng, Bio Bemo, Sampai Melukis Sampan

- detikHot
Jumat, 08 Nov 2013 17:50 WIB
Salah satu kegiatan Enrico Halim bersama timnya di TK Gelora Bangsa Dok. Tim Dokumentasi Jakarta Biennale 2013
Jakarta - Penggagas revitalisasi Bio Bemo, Enrico Halim bersama timnya, memberikan judul kegiatan di Jakarta Biennale 2013 yaitu 'Adakah Seni di Antara Kita?'. Sepanjang Oktober, dengan Bio Bemo mereka mengadakan beragam kegiatan seni di ruang publik.

Ia membuat acara menyebar di lima wilayah Jakarta. Tempat yang dipilih antara lain Stasiun Senen, Pasar Jatinegara, Kampung Bantaran Kali Ciliwung, Stasiun Tebet, Madrasah Aliyah Negeri 18, Pasar Mede, Pasar Minggu, dan Pasar Palmerah.

Sejak awal tahun, tim Bio Bemo sudah diajak berpartisipasi. Ketika tahu tema dan gagasan besar yang ditawarkan oleh Ade Darmawan, Enrico mengatakan sangat mendukungnya.

Ia juga merumuskan kegiatan berkesenian bersama warga. "Bio bemo ini jadi alat untuk program publiknya Jakarta Biennale. Program publik ini diimplementasikan di lima wilayah, untuk kemudian kita berkarya bersama warga," ujarnya.

Khusus di Stasiun Senen, mereka mengajak para calon penumpang dan penumpang yang baru turun untuk membuat suatu karya. Kemudian mereka mengajukan pertanyaan 'Adakah Seni di Antara Kita'.


Pasalnya, seni ada dalam kehidupan sehari-hari dan selalu dibicarakan. Namun, adakah di antara masyarakat publik yang menyadarinya?

"Di Jakarta Biennale, poin pentingnya adalah soal publik, karena ini dibiayai publik dan semua harus balik ke publik," katanya.

Enrico mencontohkan misalnya di Pasar Minggu, ada sebuah manajemen pembagian barang dagangan dari truk, tanpa pencatatan namun semua berjalan dengan mulus.

"Ini kalau dilihat adalah kesenian dan sudah seperti opera." Ada metode manajemen yang berjalan, sangat ketat dan akurat dengan caranya sendiri.

Sayangnya Enrico melihat semua selalu dinilai dalam konteks budaya Barat. "Jadi kita dianggap enggak mampu. Padahal kalau dibalik, mereka yang enggak ada apa-apanya," kata Enrico.

Dalam program yang ia jalankan dengan ragam cara dan warna ini, Enrico juga mengajak guru-guru untuk berpartisipasi.

"Karena mereka kan punya anak didik, jadi kalau anak-anak sudah tertular sejak dini kan dahsyat." Sekolah yang disasar adalah TK Gelora Bangsa dan Madrasah Aliyah Negeri 18, Jakarta Timur.

Enrico juga membuat proyek sampan, mencari sampan bekas kemudian memperbaikinya. Membawanya ke TK Gelora Bangsa, agar anak-anak bisa bermain dan mengecat sampan sesuka hati.



Sementara di kawasan Jakarta Selatan, ia membawa seniman Ki Suhardi dan Iskandar untuk membawakan wayang seng. Wayangnya terbuat dari bahan bekas seperti seng dan botol plastik.

"Ini yang kami tawarkan menunjukkan bahwa enggak ada alasan untuk enggak berkesenian, dan menunjukkan gimana seni bisa menjadi dialog publik."

Semua peralatan yang sudah ia kembangkan dan program keliling selama ini, akan masuk ke ruang parkir gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Pihaknya akan mempamerkan karya mulai dari Bio Bemo, wayang, hasil lokakarya, video dan foto pendokumentasian. Karyanya dapat Anda saksikan mulai esok hingga 10 November mendatang.


(utw/utw)